Drone Rusia Melonjak dari 450 ke 2.850 dalam Dua Bulan, Ukraina Andalkan Meriam F-16

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA -- Ukraina semakin mengandalkan meriam otomatis pesawat tempur F-16 Fighting Falcon untuk menghadapi serangan drone Rusia bermesin jet yang memiliki kecepatan jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Untuk mempertahankan kemampuan tersebut, Denmark mempercepat pengiriman lebih dari 50 ribu butir amunisi kaliber 20 milimeter (mm) yang kini telah diterima dan digunakan Angkatan Udara Ukraina dalam operasi pertahanan udara.

Kementerian Pertahanan Ukraina mengonfirmasi pengiriman tersebut melalui pernyataan resmi pada Kamis (22/10/2026). Informasi itu kemudian diberitakan sejumlah media Ukraina pada Jumat (23/10/2026), termasuk Ukrainska Pravda, Interfax-Ukraine, dan Militarnyi.

Baca Juga
  • Pasokan Gas Dipangkas Indonesia, Begini Dampaknya Buat Singapura Kata Analis
  • Nggak Wajib Pakai Ijazah, DLH DKI Jakarta Buka 264 Lowongan Kerja
  • Ini Tujuh Kelompok yang Rawan Cedera Saat Ikut Hyrox

"Denmark telah mempercepat pengiriman lebih dari 50 ribu butir amunisi kaliber 20 mm untuk meriam internal pesawat tempur F-16 ke Ukraina. Para pilot Ukraina telah menggunakannya untuk mencegat drone serang bermesin jet," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Ukraina.

Pengiriman amunisi tersebut berlangsung ketika Rusia semakin memperluas penggunaan drone serang berkecepatan tinggi untuk menghantam kota, fasilitas energi, jaringan transportasi, dan infrastruktur penting Ukraina.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menurut Kementerian Pertahanan Ukraina, pesawat tempur F-16 merupakan salah satu sarana paling efektif yang saat ini dimiliki Kyiv untuk menghadapi drone serang tipe Shahed bermesin jet. Karena itu, ketersediaan amunisi meriam menjadi kebutuhan mendesak bagi satuan penerbangan tempur.

"Kami berterima kasih kepada Denmark atas respons yang cepat dan efektif terhadap permintaan tambahan amunisi. Kecepatan respons ini secara langsung penting bagi penguatan pertahanan udara Ukraina dan perlindungan masyarakat dari serangan udara Rusia," demikian pernyataan kementerian tersebut sebagaimana dikutip European Pravda, Jumat (23/10/2026).

Meriam internal F-16 memberikan alternatif bagi militer Ukraina untuk menghancurkan drone serang tanpa selalu harus menggunakan rudal udara-ke-udara berpemandu yang persediaannya terbatas dan berbiaya lebih tinggi.

Namun, penggunaan meriam menuntut pilot mendekati sasaran pada jarak relatif dekat. Taktik tersebut juga menghadirkan risiko tersendiri, termasuk kemungkinan pesawat terkena serpihan drone yang berhasil ditembak.

Meriam M61 Vulcan, Senjata Lama untuk Ancaman Baru

F-16 Fighting Falcon merupakan pesawat tempur multiperan buatan Amerika Serikat yang dilengkapi meriam otomatis M61A1 Vulcan kaliber 20 mm.

Berdasarkan spesifikasi resmi Angkatan Udara Amerika Serikat, F-16 menggunakan meriam enam laras berputar dengan kapasitas sekitar 500 butir amunisi.

Sementara itu, produsen sistem persenjataan General Dynamics Ordnance and Tactical Systems mencantumkan kapasitas teknis sistem pengumpan amunisi F-16 sebanyak 511 butir.

Meriam tersebut menggunakan mekanisme Gatling yang memungkinkan penembakan beruntun dengan laju sangat tinggi. Menurut General Dynamics, M61A1 Vulcan mampu mencapai kecepatan tembak sekitar 6.000 butir per menit.

Dengan kecepatan tersebut, pilot dapat melepaskan rentetan peluru dalam waktu sangat singkat ketika memperoleh kesempatan menembak sasaran udara.

Namun, kemampuan menembakkan ribuan peluru per menit tidak berarti pesawat dapat mempertahankan tembakan terus-menerus selama satu menit. Jumlah amunisi yang dibawa terbatas sehingga penggunaannya harus dilakukan melalui rentetan tembakan yang terukur.

Meriam M61A1 menggunakan amunisi berukuran 20 x 102 mm, dengan berbagai jenis proyektil untuk menghadapi sasaran udara maupun sasaran permukaan.

Dalam operasi pertahanan udara Ukraina, meriam tersebut digunakan menghadapi drone Rusia yang semakin cepat dan sulit dicegat menggunakan sebagian sistem pencegat berbiaya rendah.

F-16 sebenarnya dapat menggunakan rudal udara-ke-udara seperti AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM untuk menghadapi ancaman tersebut.

Namun, penggunaan rudal berpemandu terhadap drone yang diproduksi dalam jumlah besar menimbulkan persoalan biaya dan ketersediaan persenjataan, terutama ketika Rusia melancarkan serangan udara secara berulang.

Dalam kondisi tersebut, meriam internal menjadi salah satu alternatif yang lebih hemat dari sisi biaya amunisi. Kendati demikian, biaya keseluruhan operasi tetap harus memperhitungkan penerbangan pesawat tempur, perawatan, personel, serta risiko operasional.

Ukraina Butuh Ribuan Peluru Setiap Hari

Persoalan kebutuhan amunisi menjadi semakin penting setelah Rusia meningkatkan penggunaan drone serang bermesin jet dalam beberapa bulan terakhir.

Bloomberg pada 30 September 2026 melaporkan bahwa Ukraina sedang mencari puluhan ribu butir amunisi kaliber 20 mm melalui perundingan dengan sejumlah negara Eropa dan produsen persenjataan.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, penggunaan meriam F-16 dinilai sebagai salah satu pilihan yang paling memungkinkan secara operasional dan biaya untuk menghadapi drone Rusia berkecepatan tinggi.

Sumber-sumber Bloomberg memperkirakan satu operasi pencegatan drone dapat membutuhkan sekitar 150 butir amunisi.

Dengan intensitas serangan Rusia ketika itu, kebutuhan Ukraina diperkirakan dapat mencapai sekitar 10 ribu butir amunisi setiap hari.

Namun, kedua angka tersebut merupakan estimasi kebutuhan operasional yang dilaporkan Bloomberg, bukan standar baku bahwa setiap drone selalu membutuhkan 150 tembakan atau bahwa Ukraina telah menggunakan 10 ribu butir setiap hari.

Jumlah amunisi yang diperlukan dalam satu operasi dapat berbeda-beda, bergantung pada karakteristik sasaran, kecepatan relatif pesawat, jarak tembak, kondisi penerbangan, dan keberhasilan setiap rentetan tembakan.

Kementerian Pertahanan Ukraina juga belum mengungkapkan jumlah drone Rusia yang berhasil dihancurkan secara khusus menggunakan amunisi kiriman terbaru dari Denmark.

Belum ada pula informasi resmi mengenai jumlah pasti amunisi di atas angka 50 ribu butir, nilai keseluruhan bantuan, ataupun tanggal setiap pengiriman.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DPR Usul Revisi UU Kehutanan, Atur Pelaku Karhutla sebagai Terorisme Lingkungan
• 2 jam lalu
0
thumb
Mendagri Dukung Program 3 Juta Rumah melalui Kemudahan Regulasi bagi MBR
• 2 jam lalu
0
thumb
Tugu Selamat Datang dan Pesan Penting untuk Perempuan soal Iklim
• 17 jam lalu
0
thumb
Cara Cegah Kebakaran Lahan Gambut secara Permanen Menurut Pakar UGM
• 6 jam lalu
0
thumb
Gigi Putih Belum Tentu Sehat, Dokter Ungkap Risiko Salah Pilih Pasta Gigi Pemutih
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.