Tugu Selamat Datang dan Pesan Penting untuk Perempuan soal Iklim

detik.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Enam aktivis Greenpeace, dengan dua di antaranya perempuan, memanjat Tugu Selamat Datang untuk menyuarakan krisis iklim. Aksi itu membawa pesan penting bahwa perempuan perlu semakin menyadari bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh.

Ada banyak tempat untuk menyampaikan pesan. Mereka memilih puncak Tugu Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Dari atas monumen yang menjadi salah satu ikon Jakarta itu, mereka membentangkan spanduk berisi pesan tentang krisis iklim,"Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup." Ada pula pesan yang mempertanyakan kerja pemerintah dalam menangani krisis dan meminta agar kritik tidak dibungkam.

Aksi tersebut dapat diperdebatkan. Memanjat monumen bukan tindakan tanpa risiko. Keselamatan, ketertiban, dan status kawasan sebagai bagian dari warisan budaya tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Namun, terlepas dari cara pesan itu disampaikan, ada satu hal yang layak diperhatikan, yakni kesadaran mengenai perubahan iklim perlu semakin kuat, termasuk di kalangan perempuan.

Sebab, perubahan iklim bukan lagi sekadar dampak yang kita rasakan. Ya, kini perubahan iklim sudah menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana pangan tersedia, energi diproduksi, dan air dapat diakses. Dalam food-energy-water nexus, perubahan iklim berada di tengah ketiganya, dan karena itu, berada sangat dekat dengan kehidupan kita.

Lihat saja situasi di sejumlah wilayah Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan kembali membawa asap dan memburuknya kualitas udara. Kementerian Kesehatan mencatat ratusan ribu kasus ISPA di wilayah terdampak, dengan Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah yang mencatat kasus tinggi.

Kebakaran hutan dan lahan memang tidak bisa semata-mata disebut sebagai akibat perubahan iklim. Ada banyak faktor pemicu, termasuk aktivitas manusia dan kondisi lahan. Namun, iklim yang semakin panas dan periode kering yang lebih panjang dapat menciptakan kondisi yang membuat lahan lebih mudah terbakar dan api lebih sulit dikendalikan.

Di sinilah perubahan iklim terasa dekat, bukan lagi sekadar angka kenaikan suhu global, melainkan faktor yang ikut menentukan ketersediaan pangan, energi, air, kesehatan, hingga penghidupan.

Dalam food-energy-water nexus, perubahan iklim bahkan berada di antara persoalan pangan, energi, dan air. Ketika iklim berubah, ketahanan ketiganya ikut terpengaruh, dan dampaknya kembali kepada kehidupan sehari-hari.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar mengetahui istilah perubahan iklim, tetapi memahaminya sebagai risiko yang nyata dan mengetahui bagaimana meresponsnya.

Di sinilah kesadaran iklim menjadi penting, termasuk bagi perempuan.

Pakar komunikasi, gender, dan media Universitas Indonesia Prof Donna Asteria dalam pemikirannya mengenai komunikasi lingkungan berperspektif gender menekankan pentingnya melihat perempuan bukan hanya sebagai kelompok yang rentan terhadap dampak lingkungan, tetapi juga sebagai komunikator dan aktor dalam perubahan sosial untuk keberlanjutan lingkungan.

Pandangan tersebut memberi perspektif yang lebih lengkap. Perempuan dapat menghadapi dampak lingkungan secara berbeda, tetapi pada saat yang sama memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kapasitas untuk terlibat dalam merespons persoalan lingkungan.

Karena itu, pengetahuan mengenai perubahan iklim dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan yang lebih luas.

Hal tersebut mencakup dua pendekatan, yakni mitigasi dan adaptasi. Mitigasi berhubungan dengan upaya mengurangi penyebab perubahan iklim, sementara adaptasi berkaitan dengan kemampuan menghadapi dampak yang sudah terjadi atau diperkirakan akan terjadi.
Keduanya membutuhkan pemahaman mengenai risiko.

Chatterjee, Thongprasert, dan Some dalam penelitiannya pada 2024 menjelaskan bahwa komunikasi perubahan iklim dapat berperan dalam membangun pengetahuan, keyakinan, sikap, serta berbagai faktor yang memengaruhi respons masyarakat terhadap perubahan iklim. Pemahaman terhadap risiko menjadi bagian penting agar masyarakat dapat merespons melalui tindakan mitigasi maupun adaptasi.

Kesadaran, dengan demikian, bukan tujuan akhir. Poin itu menjadi titik awal untuk mengenali perubahan dan menentukan respons.

Hal ini juga terlihat dalam penelitian Puji Lestari dkk pada 2026 mengenai kepemimpinan perempuan dalam merespons dampak perubahan iklim di Jawa Tengah. Penelitian tersebut menunjukkan keterlibatan perempuan dalam konservasi mangrove, penguatan ekonomi rumah tangga, Program Kampung Iklim (ProKlim), usaha mikro, hingga pengorganisasian masyarakat.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesadaran dapat berkembang menjadi keterlibatan nyata dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Kembali ke Tugu Selamat Datang. Aksi enam aktivis Greenpeace tersebut boleh saja menimbulkan perdebatan mengenai cara menyampaikan aspirasi. Namun, pesan tentang krisis iklim yang mereka bawa tetap relevan untuk direnungkan.

Terlebih ketika di wilayah lain masyarakat sedang menghadapi asap kebakaran hutan dan lahan serta dampanya.

Kita mungkin tidak selalu dapat melihat perubahan iklim secara langsung. Tidak ada satu kejadian yang bisa berdiri sendiri sebagai bukti tunggal perubahan iklim. Tetapi perubahan suhu, pola hujan, kekeringan, serta meningkatnya risiko berbagai kejadian ekstrem merupakan bagian dari perubahan kondisi iklim yang perlu dipahami.

Pemahaman itu penting agar masyarakat tidak hanya bereaksi ketika dampak sudah terjadi. Termasuk, oleh perempuan.

Bukan karena perempuan harus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab menghadapi perubahan iklim, tetapi karena mereka juga memiliki hak dan kebutuhan untuk memahami perubahan lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Perubahan iklim perlu dikenali sebelum dampaknya semakin dekat. Ketika asap sudah memenuhi udara, ketika banjir sudah masuk rumah, atau ketika kekeringan sudah mengganggu penghidupan, ruang untuk bersiap menjadi jauh lebih sempit.

Karena itu, pesan dari atas Tugu Selamat Datang tidak harus berhenti pada aksi memanjat monumen. Pesan yang lebih penting adalah bahwa perubahan iklim sudah menjadi bagian dari persoalan kehidupan sehari-hari.

Dan, semakin baik perempuan memahami perubahan tersebut, semakin besar pula bekal yang mereka miliki untuk mengenali risiko, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Femi Diah Nugrahani. Jurnalis detikcom, mahasiswa Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Didukung Danantara, Pemprov DKI Hitung Biaya Pembangunan LRT JIS-Halim
• 23 jam lalu
0
thumb
Waka Komisi IX Minta Izin Praktik Dokter yang Cabuli Anak Kandungnya Dicabut
• 2 jam lalu
0
thumb
Karhutla Belum Padam, Tol Palindra Dibayangi Bahaya Asap!
• 21 jam lalu
0
thumb
Breaking News! Gempa Dahsyat M7,2 Guncang Vanuatu, Picu Peringatan Tsunami
• 6 jam lalu
0
thumb
Polri Gelar Operasi Patuh 2026 Mulai 26 Oktober, Lawan Arus Jadi Sasaran Utama
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.