Kualitas udara yang buruk bisa memicu gangguan pernapasan, bahkan kanker dalam jangka panjang.
IDXChannel—Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta pemerintah untuk segera menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, kualitas udara buruk akibat karhutla, dinilai dapat memiliki efek panjang, yakni penyakit kanker.
Ketua Umum PB IDl, dr. Slamet Budiarto, menilai bahwa sudah ada beberapa daerah yang terdeteksi kualitas udaranya buruk, salah satunya di Palembang, Sumatera Selatan.
"Kalau karhutla, kita bisa mendeteksi kualitas udara melalui internet juga. Ada itu. Jadi, misalnya saya pantau di daerah Palembang itu di atas 500 (AQI), padahal normalnya harus di bawah 70 kan," ujar Slamet di Sekretariat PB IDI, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu memberi atensi pada kualitas udara yang buruk di sejumlah daerah akibat karhutla. Pasalnya, ia menilai, kualitas udara yang buruk bisa memicu gangguan pernapasan, bahkan kanker dalam jangka panjang.
"Nah, ini harus menjadi perhatian pemerintah karena lama-kelamaan kalau udara kita lebih dari normal, maka akan ada efek yang tidak baik untuk masyarakat; bisa sakit, infeksi pernapasan, infeksi paru," kata Slamet.
"Bahkan jangka panjang juga bisa menyebabkan kanker. Itu jangka panjang. Sehingga secepatnya memang harus ditanggulangi," tambahnya.
Di sisi lain, Slamet menilai, Pemerintah perlu melakukan upaya preventif penyakit ISPA bagi masyarakat, salah satunya memberikan sosialisasi akan bahaya asap.
"Yang kedua, preventif pencegahan. Jadi, ke depannya memang harus diminimalisir karhutlanya. Pemerintah juga harus menjamin masker untuk masyarakat, terutama untuk anak sekolah yang rentan sakit, ya; anak TK, SD, SMP, ya kan SMA, itu harus diberikan masker," ucap Slamet.
"Terus yang ketiga, dokter-dokter kita siap, termasuk faskesnya, rumah sakit. Dan saya kira SOP terhadap karhutla itu hampir semua dokter sudah tahu; dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lain. Jadi itu yang perlu kami sampaikan," pungkasnya.
(Nadya Kurnia)






Komentar (0)