Kabar soal kendaraan menabrak separator di jalur TransJakarta (TJ) koridor 9 makin sering terdengar. Yang terbaru, ada truk menabrak separator busway di Jalan Letjen S. Parman, Slipi, Jakarta Barat pada Rabu (21/10) pagi. Tabrakan ini menyebabkan gangguan di koridor yang melayani rute Pinang Ranti sampai Pluit ini.
Kejadian serupa juga terjadi dua hari sebelumnya pada Senin (19/10). truk menabrak separator sebelum Halte Ciliwung hingga beberapa rute termasuk koridor 9 mengalami pengalihan rute.
Gangguan di koridor 9 bak jadi makanan sehari-hari penggunanya. Di media sosial, bahkan ada celetukan bahwa justru aneh bila tak ada kabar buruk dari koridor yang membentang sepanjang 28,4 km ini.
Koridor 9 ini adalah koridor terpanjang dan paling ramai kedua setelah koridor 1 (Blok M - Kota). Jumlah penumpangnya mencapai sekitar 2 juta tiap bulannya.
Waktu Tempuh TJ Membengkak 4 Kali Lipat Jika Ada KecelakaanSalah satu pengguna yang memanfaatkan koridor 9 setiap hari, Sea, mengaku bahwa jalur koridor 9 memang langganan terkena gangguan, terutama akibat kendaraan menabrak separator. Menurut pengalamannya, kejadian paling sering terjadi di sekitar Halte Ciliwung.
"Persis deket halte TJ Ciliwung emang langganan crash, entah enggak pernah dievaluasi atau gimana, jadi kejadian terus kecelakaan di sana. Menurut aku, emang jalanannya sempit dan kurang penanda kalau di sana ada separator," terang Sea saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10). Sea sebelumnya menumpahkan kekesalannya di Thread.
Sea mengaku bahwa perjalanannya bisa empat kali lebih lama apabila ada kecelakaan.
"Karena lebih sering di daerah Ciliwung dan Cikoko. Jadi perkiraan dari Cawang Sentral udah macet, yang biasanya ke Cikoko cuma 10 menitan bisa jadi 35-45 menitan," tambah Sea.
Ia memperkirakan bahwa ia sudah jadi korban keterlambatan TJ akibat tabrakan kendaraan dengan separator sebanyak 4-5 kali dalam setahun.
Pengalaman Sea tersebut sejalan dengan data yang dihimpun kumparan. Berdasarkan pantauan di akun resmi TransJakarta di X, kasus gangguan operasional koridor 9 terkait separator angkanya meningkat, yang awalnya hanya 4 kejadian pada Agustus 2026 menjadi 11 kejadian pada September 2026.
Sementara hingga 21 Oktober 2026, tercatat sudah ada 9 kejadian kendaraan menabrak separator.
Lokasi kejadian yang dialami Sea pun sejalan data yang kami himpun. Data menunjukkan bahwa gangguan terkait separator paling sering terjadi di sekitar Halte Ciliwung. Ada 8 kejadian sepanjang Agustus hingga 21 Oktober 2026.
Beberapa halte lain juga mengalami hal yang sama, namun tak sesering Halte Ciliwung. Masing-masing ada dua kejadian di sekitar Halte Gerbang Pemuda, Denpasar, Tanjung Duren, Kemanggisan, Petamburan, dan Kota Bambu.
Ada pula masing-masing satu kejadian di sekitar Halte Widya Chandra Telkomsel, Jembatan Tiga, dan Tebet Eco Park.
Pengguna Mobil Keluhkan Warna hingga Letak SeparatorBanyaknya kejadian di sekitar Halte Ciliwung turut diamini pengguna mobil pribadi. Salah satu pengguna jalan di jalur koridor 9, Intan Puspita, mengeluhkan separator tidak terlihat karena warnanya.
"Separatornya sih warnanya kebanyakan abu-abu gitu, enggak terang. Jadi kalo dini hari nyetir dan agak ngantuk bisa jadi enggak liat ada separator," terang Intan saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10).
"Enggak ada tanda mau ada separator. Buat yang enggak hafal jalan sih emang wajar banget nabrak. Apalagi rata-rata nabraknya dini hari, orang udah turun fokusnya," tambahnya.
Tak hanya itu, Intan juga terganggu dengan penempatan separator yang 'bolong-bolong' sepanjang jalur koridor 9. Tak semua jalan ada separator bus TJ.
"Enggak full gitu. Tetap ada celah-celah, bolong-bolongnya. Bener tricky, ditambahkan warnanya," ungkap Intan.
Berdasarkan pengalaman Intan, kecelakaan cukup sering terjadi, terlebih di hari kerja. Ia bisa terjebak di jalan hingga dua jam.
Pengguna kendaraan pribadi terbukti jadi yang paling sering terlibat kecelakaan menabrak separator koridor 9. Ada 12 kejadian yang melibatkan kendaraan pribadi sepanjang Agustus hingga 21 Oktober 2026. Lalu disusul oleh truk sebanyak 8 kejadian.
Kendaraan lain yang terlibat kecelakaan ada mobil box sebanyak dua kejadian. Ada pula bus AKAP dan taksi online masing-masing satu kejadian.
Pengamat: Separator Longkap Jadi PenyebabPengamat Transportasi INSTRANS, Deddy Herlambang, menilai penyebab utama kecelakaan adalah separator yang tidak sepenuhnya melintang sepanjang jalur. Hingga saat ini, kata Deddy, separator yang utuh hanya ada di jalur koridor 1 dan 6.
"Koridor 9 itu sepanjang 28 km, itu tidak tidak terpangari oleh separator. Karena situ, Koridor 9 ini malah sedikit ya, malah sekitar 50% yang terpagari separator. Jadi, pengguna masyarakat umum dipikir mix ya, campur," terangnya saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10).
"Jadi, ketika mungkin pengemudinya ngantuk atau tidak melihat ke depan, ternyata di depan ada separator. Sehingga ditabrak," tambahnya.
Menurut Deddy, kecelakaan terkait separator cenderung terjadi saat jalanan sepi.
"Justru kalau jalurnya padat, mereka itu pelan. Kendaraan akan pelan. Justru ketika tidak padat, masyarakat akan cepat, akan ngebut, itu menjadi masalah," tegasnya.
Baginya, satu-satunya cara untuk mencegah kejadian serupa adalah dengan memasang separator penuh di sepanjang jalur koridor 9. Menurutnya, pemasangan tanda sebelum separator tak begitu berpengaruh.
"Kalau mau, dipasang separator semua. Kalau rambu-rambu percuma, ditabrak terus. Apalagi kalau malam di atas sembilan," ungkapnya.
"BRT is rapid transit, tidak ada jalur campur. Kalau non-BRT campur. Kalau yang benar-benar BRT ya harus steril jalur BRT-nya," tambahnya.
Terkait dengan saran itu, Deddy menilai opsi tersebut mungkin saja dilakukan. Namun, ada risiko penyempitan atau bottleneck di beberapa ruas jalan.
Rambu Lalu Lintas Perlu Beri Gambaran 'What's Next?'Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dicky Pelupessy beranggapan bahwa pencegahan kecelakaan terkait separator TJ dapat diminimalisasi dengan adanya rambu lalu lintas yang memadai. Dicky merupakan pakar psikologi di bidang intervensi sosial.
Ia menjelaskan bahwa rambu lalu lintas sejatinya harus membantu pengguna jalan dalam menilai dan menentukan tindakan (judgment and decision making) yang harus dilakukan saat berkendara.
"Rambu-rambu itu intinya memberikan informasi kepada kita supaya kemudian kita bisa memberikan penilaian yang tepat atau penilaian yang cukup. Sehingga kemudian pengambilan keputusan kita itu tepat. Jadi nih mekanisme psikologi itu kaitan ke sana," terang Dicky saat dihubungi kumparan, Kamis (22/10).
Kata Dicky, berdasarkan studi Psikologi terkait intervensi sosial, terbukti bahwa rambu yang sifatnya non-statis dapat lebih membantu dalam proses judgment and decision making pengguna jalan. Jadi, rambu memberikan gambaran apa yang akan terjadi.
"Rambu-rambu yang ada selama ini yang kebanyakan dipasang itu apa? Ternyata modelnya kita sebut saja model statis. Dia hanya memberikan informasi yang tidak membuat orang bisa membayangkan apa yang akan terjadi," ungkapnya.
"Yang dia bayangkan itu apa yang akan terjadi berikutnya. What next? Nah, berarti kalau ada rambu-rambu itu, orang melihat apa yang akan (terjadi) katakanlah 1, 2, 3 detik setelahnya" tambahnya.
Ia memberikan contoh rambu statis seperti rambu tanda keberadaan binatang liar rawan tertabrak dan tanda bahaya tebing longsor dengan gambaran kerikil jatuh.
Menurut Dicky, rambu semacam ini juga dapat diterapkan untuk mencegah kasus tabrakan separator TJ.
"Kalau ibaratnya dia gak konsen, ya nanti nabrak separator, terus apa yang akan terjadi, itu bisa dicoba sih menurut saya. Jadi juga ada informasi di pinggir jalan itu dalam bentuk what's next," ungkapnya.
Ia tak menampik bahwa ada cara intervensi dengan pendidikan tertib berkendara, namun itu sifatnya jangka panjang. Baginya, ketika sudah di jalan, rambu lalu lintaslah yang berperan lebih banyak.
DPRD DKI: Modifikasi Separator, Pasang Rambu dan PetugasKomisi B DPRD DKI Jakarta membuka opsi modifikasi separator atau pembatas jalur Transjakarta Koridor 9 menyusul insiden separator yang berulang kali ditabrak kendaraan. Evaluasi juga diperlukan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan, termasuk melalui pemasangan rambu dan pengawasan petugas di lapangan.
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, mengatakan persoalan kecelakaan di separator tersebut telah beberapa kali menjadi perhatian anggota komisi. Dia berencana mengangkat persoalan itu dalam rapat dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta pada pekan depan.
“Kebetulan minggu depan nanti kan saya mau rapat sama Dishub. Nah, mungkin salah satu poinnya ingin mempertanyakan hal ini,” kata Nova saat dihubungi kumparan, Jumat (23/10).
Ia mengatakan, persoalan tabrakan separator juga telah beberapa kali disuarakan dalam rapat komisi.
“Berkali-kali memang di rapat komisi, kita banyak yang menyuarakan juga terkait dengan insiden yang terjadi tabrakan,” ujarnya.
Menurut Nova, kondisi separator yang kurang terlihat pada malam hari perlu menjadi perhatian. Dia menilai keberadaan rambu di sekitar lokasi juga diperlukan untuk mengingatkan pengemudi agar lebih berhati-hati saat melintas.
“Separator ini kan juga memang terkadang malam juga enggak kelihatan. Nah, ke depannya juga harus ada rambu-rambu di sekitaran wilayah tersebut untuk misalnya bagaimana mengingatkan pengemudi,” jelasnya.
Selain pemasangan rambu, Nova mengatakan desain pembatas jalur tersebut juga perlu dikaji bersama Dishub. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan ialah memodifikasi separator agar lebih mudah terlihat oleh pengemudi.
“Nanti ke depannya itu jalur itu masih ada, benar-benar misalnya separatornya itu mungkin bisa dimodifikasi,” kata Nova.
Meski demikian, Nova menegaskan penanganan persoalan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. Dia belum menyampaikan keputusan final mengenai bentuk modifikasi separator ataupun penambahan fasilitas keselamatan di lokasi.
Menurut dia, Dishub perlu meninjau kondisi di lapangan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, mengingat insiden tabrakan terhadap separator telah berulang kali terjadi.
“Memang saya maunya, artinya nanti Dishub juga harus melihat juga karena sering terjadi kecelakaan di sini, langkah-langkah apa yang ke depannya mereka bisa mungkin dilakukan untuk masalah penanggulangan ini,” ungkap Nova.
Nova juga menyoroti perlunya pengawasan petugas Dishub di lapangan. Selain kondisi pembatas jalan, dia menyinggung perilaku pengemudi truk serta persoalan muatan kendaraan yang perlu diperhatikan untuk mencegah insiden serupa.
“Dan juga yang dua juga memang harus ada petugas di lapangan, lapangan juga ya, terkait dengan Dishub,” kata Nova.
Dia juga menyinggung persoalan truk yang kerap terlibat dalam insiden tersebut, termasuk terkait muatan kendaraan.
“Dan juga salah satunya juga masalah keteledoran masalah truk. Kalau kita lihat kan itu kan masalah yang sering terjadi kan masalah truk juga kan. Nah, masalah muatan itu seperti apa,” ujarnya.
Dia menambahkan, evaluasi penanganan separator tidak serta-merta berarti pembatas tersebut harus dihilangkan. Menurutnya, keberadaan pembatas perlu tetap mempertimbangkan fungsi pemisahan jalur Transjakarta dengan lalu lintas umum di sejumlah ruas jalan.
“Karena artinya kan ini kan kita harus bedakan antara jalur Transjakarta, memang jalur umum kan di beberapa wilayah,” ujarnya.
Karena itu, Nova menyebut modifikasi pembatas, pemasangan rambu di sekitar lokasi, serta peningkatan kewaspadaan petugas lapangan menjadi sejumlah hal yang dapat dibahas lebih lanjut bersama Dishub.
“Ke depannya masalah modifikasi seperti apa dari pembatas yang disiagakan yang ke depannya lebih baik lagi. Atau mungkin ada rambu di seputaran situ. Dan juga ke depannya juga masalah petugas juga yang lebih aware lagi, terkait dengan misalnya petugas lapangan,” tutup Nova.
Pramono: Kita Akan Lakukan PerbaikanGubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pihaknya akan memperbaiki separator atau pembatas jalur di Koridor 9 Transjakarta. Perbaikan ini dilakukan menyusul insiden separator yang berulang kali ditabrak kendaraan.
“Yang jelas untuk koridor itu pasti akan kita lakukan perbaikan supaya truk-truk yang selama ini juga sering memanfaatkan itu tidak bisa melakukan itu," kata Pramono saat ditemui di acara Race Expo myBCA JRF 2026 Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (23/10).
Pramono menyebut, perbaikan nantinya akan menjadi urusan Dinas Perhubungan dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta.
"Bahwa nanti ada pemasangan separator dan sebagainya, teknisnya biar dilakukan oleh Perhubungan dan Bina Marga,” ujar Pramono.
Sejumlah JPO Mau DibongkarDalam penataan kota, Pramono juga mengaku akan melakukan pembongkaran jembatan penyeberangan orang (JPO) yang sudah tidak berfungsi.
“Yang pertama untuk JPO sudah menjadi program Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga. Bahwa ada sebagian memang pelaksanaannya baru pada awal tahun depan,” ujarnya.
Pramono menjelaskan, pembongkaran sejumlah JPO belum dilakukan karena pelaksanaannya memang direncanakan pada Oktober hingga November.
“Tetapi beberapa JPO, termasuk yang dulu mau dibongkar kenapa belum dibongkar, karena memang rencana pembongkaran itu bulan Oktober-November ini,” kata Pramono.






Komentar (0)