Kehidupan anak-anak generasi alfa, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat, tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital. Pengasuhan di keluarga dan pendidikan di sekolah sering kali menghadapi dilema dalam mengizinkan mereka memakai gawai untuk mengakses informasi, hiburan, media sosial, hingga kecerdasan buatan.
Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk mengembangkan pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan. Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis, membangun relasi sosial, serta membedakan realitas dan dunia virtual.
Bunga (4), siswa di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Melati 08, di Jakarta, semakin lebih suka berlarian dan bercengkerama dengan teman sebayanya. Kosakata yang meluncur dari mulutnya kian bertambah setiap hari meski sebelumnya kesulitan berkomunikasi.
Di usia tiga tahun, sebelum masuk PAUD, Bunga didiagnosis mengalami speech delay. Hal itu pun membuat ibunya, Vini (31), khawatir. ”Dokter bilang kondisi speech delay anak saya, salah satunya, dipicu oleh kecanduan gawai sejak usia balita,” kata Vini, Rabu (14/10/2026).
Vini mengakui, dirinya kerap memberi Bunga gawai karena ia keteteran dalam mengurus rumah tangga. Gawai diberikan kepada Bunga sebagai distraksi agar ia tidak kerepotan mengurus dua anak lainnya. Namun, kebiasaan ini ternyata berdampak negatif bagi Bunga. Vini kemudian membawa Bunga ke dokter untuk terapi. Semenjak itu pula, ia tidak pernah lagi memberikan gawai kepada Bunga.
Dokter juga menyarankan Vini untuk memberikan kegiatan yang lebih interaktif bagi anaknya, seperti menggambar, menulis, dan bermain di luar rumah, untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik. Selain itu, ia juga dianjurkan untuk memasukkan Bunga ke PAUD agar berinteraksi secara sosial.
Dwi, orangtua dari Karina, murid TK Melati 08, Jakarta, berjuang untuk tidak mudah menyerah dalam membatasi penggunaan gawai terhadap buah hatinya. Anaknya beberapa kali tantrum jika gawai ditarik saat ia melebihi batas jam pemakaian gawai yang diizinkan Dwi.
Kecanduan gawai di usia dini, diakui Ismi, guru di TK Negeri Bendungan Hilir, Jakarta, ditemukan pada sejumlah anak didiknya. Kondisi itu pun diceritakan oleh orangtua murid kepada beberapa guru.
”Beberapa anak memang terlihat kecanduan gawai, seperti saat dijemput oleh mamanya langsung meminta diberikan HP,” ujar Ismi.
Dari laporan Profil Anak Usia Dini 2025 oleh Badan Pusat Statistik, sebanyak 42,25 persen anak usia dini sudah menggunakan ponsel dan 41,02 persen mengakses internet.
Ismi menyatakan, beberapa orangtua murid yang bekerja tidak memiliki pilihan, selain memberikan gawai untuk anaknya. Gawai itu dijadikan sebagai pengganti teman anaknya di rumah. Namun, ketika di sekolah, terdapat peraturan yang membatasi penggunaan gawai.
Dari laporan Profil Anak Usia Dini 2025 oleh Badan Pusat Statistik, sebanyak 42,25 persen anak usia dini sudah menggunakan ponsel dan 41,02 persen mengakses internet. Perbedaan penggunaan di desa dan kota semakin tidak terlihat. Anak-anak di kota yang menggunakan ponsel sebanyak 43 persen, sedangkan di desa 41 persen.
Kegiatan bermain gim, menonton televisi, hingga mengakses internet juga semakin menjadi keseharian anak-anak usia dini. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2025 memperlihatkan, durasi penggunaan internet masyarakat, termasuk generasi alfa, meningkat. Secara umum, akses internet masyarakat berada di kisaran 4-6 jam, 7-10 jam, atau lebih dari 10 jam.
Pembatasan penggunaan gawai secara konsisten diterapkan orangtua di rumah meskipun kenyataannya sering tidak mudah. Apalagi, generasi alda (lahir 2010-2024) tumbuh ketika teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Sebagai generasi yang sejak lahir akrab dengan dunia digital (digital native), mereka menghadapi perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi cara belajar, berinteraksi, berpikir, dan memahami dunia.
Graciela Mytha (32), seorang ibu di Salatiga, Jawa Tengah, menuturkan, ia membatasi penggunaan gawai untuk anaknya yang berusia empat tahun berdasarkan situasi dan kebutuhan. Ketika berada di rumah dan memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara langsung, ia lebih memilih mengajak anaknya berbicara atau melakukan aktivitas bersama. Sementara itu, ketika berada dalam situasi anak perlu diberi layar gawai, ia mempercepat kegiatannya agar anak tidak terlalu lama menatap layar.
”Sebenarnya, menurut aku, screen time di zaman sekarang enggak sepenuhnya buruk. Itu justru bisa membantu perkembangan anak itu sendiri,” ujarnya.
Dukungan keluarga untuk lebih bijaksana dalam mengizinkan anak-anak berselancar di dunia maya kini didukung sekolah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengatur pembatasan gawai di sekolah ketika dibutuhkan untuk pembelajaran. Para siswa di sekolah pun kembali diajak untuk lebih menguatkan interaksi sosial dengan sesama teman di dunia nyata.
Guna melindungi anak-anak di dunia digital, Pemerintah Indonesia menetapkan aturan pembatasan media sosial untuk anak-anak usia di bawah 16 tahun sejak Maret 2026. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) mengatur platform digital untuk menaati ketentuan di Indonesia yang melindungi anak-anak dari platform digital berisiko tinggi bagi keamanan dan kenyamanan anak di dunia digital.
Psikolog Kasandra Putranto menegaskan, pendampingan penggunaan gawai pada anak dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten, sesuai usia, dan disertai penjelasan yang dapat dipahami anak. Anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan mengelola emosi, berinteraksi sosial, bergerak aktif, tidur cukup, dan mengeksplorasi lingkungan secara langsung.
Pembatasan ketat yang dilakukan secara mendadak, terlalu kaku, atau disertai hukuman dan ancaman justru dapat memicu penolakan, kemarahan, frustrasi, bahkan konflik anak dengan orangtua.
Pendampingan penggunaan gawai pada anak dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten, sesuai usia, dan disertai penjelasan yang dapat dipahami anak.
”Reaksi tersebut tidak selalu berarti anak mengalami kecanduan gawai. Bisa jadi anak belum terbiasa mengatur keinginannya atau merasa kehilangan aktivitas yang menyenangkan,” kata Kasandra.
Sementara itu, ajakan untuk menyiapkan anak-anak muda yang bijak dalam penggunaan gawai hingga kecerdasan buatan terus digaungkan. Pengasuhan di keluarga dan pembelajaran di sekolah perlu selaras untuk memastikan anak-anak atau siswa tidak mengalami ketergantungan penuh dan memiliki literasi digital yang baik.
Dari hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2025 terlihat ada dampak masifnya penggunaan internet dan kecerdasan buatan pada capaian hasil tes literasi, numerasi, dan sains siswa di dunia, termasuk negara-negara maju yang tergabung di OECD. PISA 2025 menunjukkan bahwa membalikkan penurunan prestasi siswa adalah hal yang mendesak.
”Teknologi dan AI dapat memperkuat pembelajaran dan membantu mempersiapkan kaum muda untuk masa depan, tetapi hanya jika (itu) digunakan dengan tujuan yang jelas dan bukan sebagai pengganti perhatian, usaha, dan pemahaman,” kata Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann.
Di sinilah peran orang dewasa di sekitar anak membantu generasi saat ini untuk dapat mengelola penggunaan gawai. Menurut American Academy of Pediatrics (2016), penggunaan media digital pada anak perlu diatur dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan perkembangan, kualitas konten, serta keseimbangan dengan aktivitas lain. Setiap keluarga sebaiknya menyusun kesepakatan penggunaan media digital dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan, dan rutinitas setiap anggota keluarga.






Komentar (0)