Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar memperkirakan AS berpeluang kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang, sehingga memicu ketidakpastian terhadap pasokan energi global.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak bulan terdekat naik 1,8 persen menjadi US$115,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2 persen menjadi US$101,56 per barel.
Penguatan kedua acuan minyak tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Kawasan ini memiliki peran penting dalam industri energi global, sehingga eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan pergerakan harga minyak.
Kenaikan harga minyak juga terlihat dalam kinerja perdagangan mingguan. Minyak mentah berjangka Brent diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 5 persen dalam sepekan. Jika terealisasi, capaian tersebut akan menjadi penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Di sisi lain, minyak mentah berjangka WTI diperkirakan membukukan kenaikan mingguan sebesar 0,3 persen. Meskipun kenaikannya relatif tipis dibandingkan Brent, pergerakan kedua acuan minyak tersebut tetap menunjukkan perhatian pasar terhadap risiko geopolitik yang berkembang.
Ekspektasi investor terhadap kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran menjadi salah satu faktor yang membayangi perdagangan minyak. Ketidakpastian mengenai arah konflik membuat perkembangan politik dan keamanan di Timur Tengah menjadi perhatian pelaku pasar energi.
Harga minyak dapat bergerak mengikuti perubahan persepsi terhadap risiko pasokan. Dalam situasi konflik, kekhawatiran terhadap gangguan produksi maupun distribusi energi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga di pasar global.
Trump Beri Sinyal Akan Ada Perkembangan dalam Waktu DekatKetidakpastian mengenai hubungan AS dan Iran semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait situasi kedua negara pada Rabu.
Trump mengatakan AS tidak sedang melakukan negosiasi dengan Iran. Ia juga menyebut sesuatu akan terjadi "dalam waktu dekat", tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud pernyataan tersebut.






Komentar (0)