Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meminta agar kuota bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, ditambah. Penyebabnya, banyak truk dari dan menuju Sumatera yang mengisi tangki hingga penuh atau full di Banten.
"Kuota yang biasa hari-hari cukup untuk Banten, sekarang kita ada serbuan karena kita kan jembatan Jawa-Sumatera. Jadi yang truk yang mau ke Sumatera, itu ngisi bensin misal dari Jakarta ya, ngisinya pas Jakarta. Pas mau nyeberang, dia ngisi dulu di kita, dipenuhin (full)," kata Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten Ari James Faraddy, Jumat (23/10/2026).
"Dan sebaliknya juga sama. Kalau misalkan dari Sumatra mau ke Jakarta atau ke Jawa Barat. Dari Sumatera-nya dia diringasin (dipaskan), pas sampai Merak, Banten, dia isi lagi full. Jadi kan, 'Kok cepat habis'. Ya, karena di Sumatera kan langka BBM-nya," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat stok BBM di lapangan cepat habis sebelum akhirnya diisi kembali. Karena itu, Pemprov Banten berkoordinasi dengan beberapa pihak untuk menambah kuota BBM.
"Sekarang kan distribusinya kan harusnya stoknya cukup, ternyata kan enggak. Sehingga butuh pengiriman lagi. Nah, kita disuplai dari Tanjung Gerem sama Plumpang. Nah, sekarang itu kemarin itu kan ada, bukan kemacetan, tapi penumpukan lah, truk-truk yang mau ngisi BBM," katanya.
Menurutnya, Banten seharusnya mendapat perlakuan khusus karena tingginya permintaan BBM. Ia berharap usulan penambahan kuota tersebut bisa disetujui.
"Nah, saya bilang, ini kan Ring 1 jadinya. Karena Ring 1 ya tolong, diamankan secara kuota. Juga kan sekarang kita masih aman, tapi kan sampai Desember kita harus waspada gitu kan, harus terus-terusan," katanya.
Ari James menyebut pihaknya memantau stok BBM di lapangan setiap hari. Ia tidak ingin Banten mengalami kelangkaan seperti di Bali dan daerah lain yang terdampak.
"Kita memantau day by day sekarang. Jangan sampai ada kelangkaan kayak di Bali, di Jawa Timur, gitu kan," katanya.
(aik/fca)






Komentar (0)