Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin meluas, di mana Pulau Jawa juga mulai terjadi karhutla.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan karhutla mulai muncul di Jawa Timur, di mana ada lima daerah yang mengalami karhutla yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Magetan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Banyuwangi.
"Hingga Jumat, 23 Oktober 2026, ada tambahan kejadian karhutla di Jawa Timur yakni Kabupaten Malang, Magetan, Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi," kata Berton dalam konferensi pers update perkembangan bencana di Indonesia, Jumat (23/10/2026).
BNPB melaporkan titik panas di Jawa Timur tercatat sebanyak 261 titik, dengan luas lahan yang terdampak mencapai 482 hektare dan 223 hektare masih belum padam.
Bahkan, pihaknya mencatat ada empat gunung di Jawa Timur yang mengalami karhutla.
"Saya bisa sampaikan bahwa ada 4 gunung di Jawa Timur yang saat ini sedang terbakar yaitu Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Argopuro, Gunung Saeng, dan Gunung Bromo," terang Berton.
Karhutla di Jawa Timur ini diketahui sudah menelan korban jiwa sebanyak 5 orang, yang sedang berupaya memadamkan api di Gunung Bromo.
"Beberapa waktu yang lalu, kita mendapatkan kabar informasi ada 5 orang yang meninggal, dimana mereka berusaha untuk memadamkan api di Gunung Bromo, tapi mereka juga terperangkap dii daerah tersebut," ujarnya.
Di sisi lain, penanganan karhutla di lokasi terdampak paling parah yakni Kalimantan dan Sumatra Selatan masih terus dilakukan.
Berton merinci, Kalimantan Tengah masih menjadi prioritas utama karena titik api masih belum padam.
"Di Kalimantan ada 3 provinsi di sana yang paling vital untuk kita selesaikan. Di Kalimantan Tengah ada dalam penanganan saat ini ada 16.097 hektare, ini paling tinggi. Kemudian di Kalimantan Selatan ada 1.506 hektare, Kalimantan Barat ada 1.370 hektare. Sehingga total untuk 3 provinsi ini 18.973 hektare," jelasnya.
Sedangkan di Sumatra, Sumatra Selatan masih menjadi yang paling parah yakni masih mencapai 2.050 hektare lahan yang terbakar, disusul Jambi seluas 379 hektare, dan Riau seluas 2 hektare.
"Untuk di Sumatra, ada 2.431 hektare dari yang terbakar saat ini, yang terbanyak itu kita temukan ada di Sumatra Selatan sebesar 2.050 hektare. Sedangkan di Jambi ada 339 hektare, di Riau ada 2 hektare, dan di tiga provinsi ini tentu menjadi perhatian terutama di Sumatra Selatan," tegasnya.
Dari total kasus karhutla pada periode Januari hingga 23 Oktober 2026, tercatat kasus karhutla di Indonesia meningkat menjadi 1.024 kali.
Adapun untuk bencana lainnya cenderung masih sama yakni gempa bumi 14 kali, erupsi gunung api 4 kali, banjir 581 kali, cuaca ekstrem 337 kali, kekeringan 122 kali, tanah longsor 108 kali, dan gelombang pasang atau abrasi sebanyak 14 kali.
"Jadi sekarang secara nasional, kita mencatat ada 2.204 kejadian bencana di seluruh Indonesia dari 1 Januari sampai 23 Oktober ini. Angka ini tentu semakin bertambah dan masih tetap di mayoritas dominasi oleh akibat dari bencana hidrometeorologi, baik itu basah maupun kering," pungkas Berton.
(dce)





Komentar (0)