Boris Bokir dan Aming berbagi cerita tentang kenakalan mereka semasa kecil. Boris mengaku pernah bolos les meski sudah dibayarkan orang tuanya, sementara Aming punya pengalaman bolos sekolah hingga memprovokasi teman untuk tawuran.
Cerita tersebut dibagikan saat keduanya membahas film terbaru mereka, Yang Disebut Nakal. Dalam film garapan Benni Setiawan ini, Boris berperan sebagai Goklas Panjaitan dan Aming sebagai Yayat, dua pelatih di Bina Laku Wanareksa, tempat para remaja menjalani pembinaan.
Boris Bokir mengaku tidak punya banyak pengalaman kenakalan yang bisa dikaitkan dengan perannya dalam film tersebut.
“Nakalnya dulu paling saya ini, eh udah dibayarin les tapi nggak datang ke tempat les. Makanya agak kurang relate, jauh sekali dari aku,” ujar Boris sambil bercanda saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Aming juga sempat mengaku bingung ketika diminta menceritakan kenakalannya. Ia kemudian menyebut beberapa hal yang pernah dilakukannya semasa sekolah, termasuk bolos dan memprovokasi teman untuk tawuran.
“Nakalnya paling standar lah. Paling madol gitu kan. Paling tawuran, tapi saya bagian memprovokasi. Sangkuni-nya gitu. Jangan dicontoh ya,” ujarnya.
Pengalaman masa kecil tersebut membawa pembicaraan pada pesan yang ingin disampaikan melalui film Yang Disebut Nakal. Menurut Boris, label nakal sering kali muncul karena orang tua belum memahami minat dan keinginan anak secara utuh.
Ia mencontohkan anak yang gemar bermain di sungai hingga sore hari. Perilaku tersebut bisa dianggap nakal karena membuat anak pulang terlambat. Namun, jika diarahkan dengan tepat, kegemaran berenang justru bisa berkembang menjadi kemampuan yang bermanfaat.
“Makanya itu mungkin mereka perlu didengar saja, perlu diarahkan. Nakal tuh cuma masalah persepsi,” kata Boris.
Ia juga menilai pola komunikasi antara orang tua dan anak perlu menyesuaikan perkembangan zaman. Menurutnya, orang tua sebaiknya memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan keinginan sebelum mencari jalan tengah bersama.
“Kalau saya waktu kecil dulu emang sifatnya kan seringnya didikan orang tua zaman dulu lebih banyak searahnya gitu. Makanya kalau yang sekarang mungkin harus lebih banyak mendengarkan dulu. Baru dicari formulanya biar ada deal-nya,” ujarnya.
Yang Disebut Nakal mengangkat cerita sekelompok remaja dengan latar belakang berbeda yang mengikuti program pembinaan selama 21 hari di sebuah tempat terpencil. Jauh dari kebiasaan sehari-hari, mereka harus belajar menghadapi kedisiplinan, tanggung jawab, pertemanan, hingga persoalan keluarga.
Di Bina Laku Wanareksa, para remaja bertemu dengan pelatih yang bertugas membimbing mereka. Proses tersebut bukan sekadar tentang menegakkan disiplin, tetapi juga membantu mereka memahami diri sendiri dan membangun hubungan dengan orang lain.
Boris menjelaskan bahwa konsep tempat pembinaan seperti Bina Laku juga memiliki gambaran di dunia nyata. Model pelatihan semacam ini tidak hanya diperuntukkan bagi remaja, tetapi juga dapat digunakan perusahaan untuk membangun karakter, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
Dalam film ini, setiap remaja memiliki latar belakang dan persoalan masing-masing. Mereka tidak hanya belajar memahami diri sendiri, tetapi juga menghadapi konsekuensi dari perilaku mereka serta memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Selain Boris Bokir, Aming, dan Donny Damara, film ini juga menghadirkan sejumlah aktor muda, termasuk El Putra Sarira, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya.
Perpaduan pemain lintas generasi tersebut menjadi bagian dari cerita tentang sekelompok remaja yang harus hidup bersama di lingkungan baru. Mereka menghadapi benturan karakter, belajar beradaptasi, dan menjalani proses pendewasaan selama mengikuti program pembinaan.
Sutradara Benni Setiawan menekankan keseimbangan antara komedi dan emosi dalam film ini. Para karakter tidak digambarkan sepenuhnya baik atau buruk, melainkan sebagai individu yang memiliki persoalan dan cara masing-masing dalam menghadapinya.
Melalui “Yang Disebut Nakal”, penonton diajak melihat kenakalan remaja dari sudut pandang yang lebih luas. Anak-anak tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga ruang untuk menyampaikan keresahan dan kesempatan untuk didengarkan.
Film produksi DLK Pictures yang bekerja sama dengan Inhype Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 2027.






Komentar (0)