JAKARTA, KOMPAS - Sistem informasi kebencanaan dan wilayah rawan bencana diperbarui dalam Magma Indonesia versi 2.0. Ke depan, bangunan maupun infrastruktur di wilayah rawan bencana harus disesuaikan dengan kondisi wilayah.
"Jadi daerah-daerah yang berada di dalam daerah rawan bencana geologi, struktur bangunan harus disesuaikan dengan potensi kebencanaan," tutur Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung seusai meluncurkan Magma Indonesia versi 2.0 di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Dari sisi potensi ekonomi, ia melanjutkan, pembangunan infrastruktur juga harus melihat dari sisi peta kerawanan bencana geologi. Peta kerawanan bencana ini diintegrasikan dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Aplikasi pemantau kondisi bencana geologi di seluruh Nusantara, yaitu Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia (MAGMA) Indonesia dikembangkan mulai dibangun sejak Januari 2015. Aplikasi ini dapat diakses di portal https://magma.vsi.esdm.go.id dan melalui aplikasi telepon pintar Android.
MAGMA Indonesia menjadi aplikasi pertama di dunia dalam jaringan yang berisi informasi dan rekomendasi kebencanaan geologi terintegrasi. Ini meliputi gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah yang bisa dibuka dalam satu jendela.
Aplikasinya terus dikembangkan. Pada 2019, aplikasi ini dilengkapi dengan peta digital dan bahasa Inggris. Aplikasi ini dimanfaatkan kementerian/lembaga, warga Indonesia, maupun warga asing yang berwisata ke Indonesia maupun nelakukan penelitian.
"Saat ini kita kembangkan untuk versi yang lebih detail lagi. Jadi ada atlas magma, atlas untuk kerawanan bencana geologi kemudian untuk tapak - untuk melihat jenis tanah yang berkaitan dengan bencana. Kemudian yang ketiga adalah Magma Indonesia untuk melihat sumber gempa dan potensi gempanya," tutur Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria.
Ketiga fitur baru ini, ia melanjutkan, akan memberi informasi yang lebih baik lagi kepada masyarakat apabila datang ke daerah-daerah rawan bencana. Ini berguna pula untuk masyarakat luar negeri yang akan datang ke Indonesia.
Selain masyarakat, peta kerawanan bencana ini dimanfaatkan kementerian/lembaga. Salah satunya, menurut Yuliot, untuk memandu standar bangunan yang didirikan di wilayah-wilayah yang rawan bencana.
Tata ruang daerah rawan bencana juga harus disesuaikan. Peta kerawanan bencana ini diintegrasikan dengan GISTARU (geographical information system tata ruang). "Jadi nanti berdasarkan peta kerawanan bencana ini ada penyesuaian terhadap tata ruang yang ada di Kementerian Agraria Tata Ruang. Di GISTARU itu nanti akan dilakukan penyesuaian," kata Yuliot.
Pembangunan infrastruktur yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum bakal mengacu pada peta kerawanan bencana. Harapannya, risiko kerusakan bisa diantisipasi saat bencana tiba.
MAGMA Indonesia yang dikembangkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) diapresiasi banyak kalangan. Pada 2016, MAGMA Indonesia meraih peringkat satu Innovation Award Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
MAGMA Indonesia dibuat karena tingginya potensi ancaman bencana geologi di Indonesia yang bersumber dari 127 gunung api aktif yang dapat meletus kapan saja. Letusan gunung berapi berdampak di darat pada masyarakat dan infrastruktur, maupun di udara pada penerbangan.
Di Indonesia, terdapat tiga lempeng tektonik dan sesar di darat yang dapat mengakibatkan gempabumi dan dapat disertai tsunami. Topografi berupa lereng yang curam dan tingginya curah hujan juga dapat mengakibatkan terjadinya gerakan tanah.
Masalahnya, kapasitas dan pengetahuan masyarakat Indonesia akan potensi bencana geologi di sekitarnya rata-rata masih relatif rendah.
Bagi masyarakat termasuk warga asing yang berwisata, informasi di Magma Indonesia sangat bermanfaat. Sebab, melalui sistem ini, bisa diketahui gunung api mana yang berstatus Aktif Normal sehingga dapat dilakukan pendakian.
Ada empat indikator warna menggambarkan perkembangan terakhir gunung. Hijau untuk status terendah, Aktif untuk normal, kuning untuk waspada, oranye untuk siaga, dan merah untuk awas.






Komentar (0)