Pakar: Kerugian akibat Karhutla Bisa Berlangsung hingga Puluhan Tahun

kompas.tv
4 jam lalu
Cover Berita
Petugas Manggala Agni memadamkan api di Desa Mekar Utama, Ketapang, Kalimantan Barat. (Sumber: Manggala Agni Daops Kalimantan IX)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi hingga ratusan triliun rupiah, tetapi juga berdampak panjang terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan cadangan karbon yang tersimpan di dalam tanah.

Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Menakar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan dan Lahan” yang digelar Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan LRI i-MAR IPB bersama Masyarakat Ahli Valuasi Ekonomi Indonesia (MAVEIN), Jenggala, dan Kama Institute, Kamis (22/10/2026).

Direktur Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Penjaitan, mengatakan karhutla menimbulkan beragam risiko, mulai dari kerusakan ekosistem dan kebakaran berulang hingga gangguan kesehatan, ancaman keselamatan jiwa, serta kerusakan permukiman.

Karhutla juga dapat mengganggu transportasi dan layanan esensial, memperparah perubahan iklim, serta menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang dampaknya meluas lintas wilayah, bahkan lintas negara.

“Risiko-risiko ini sangat besar dan sebagian dampaknya bersifat jangka panjang, terutama terhadap kesehatan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 serta berbagai polutan yang dapat bertahan lama di tubuh manusia,” ujar Berton dalam siaran pers yang diterima Kompas.tv.

Baca Juga: BMKG Catat 3.794 Titik Panas di Kalimantan Tengah, Karhutla Masih Perlu Diwaspadai

Menurut dia, paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, memperburuk penyakit jantung dan paru-paru, hingga meningkatkan risiko kematian dini pada kondisi tertentu.

Kerugian Karhutla Capai Ratusan Triliun Rupiah

Benny Osta Nababan dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan LRI i-MAR IPB mengatakan, penghitungan kerugian ekonomi akibat karhutla perlu mencakup berbagai komponen. Di antaranya kerusakan aset, kehilangan produksi dan jasa ekosistem, biaya kesehatan, serta biaya penanganan dan pemulihan.

“Kerugian ekonomi akibat karhutla dapat dihitung. Namun, ketepatan perhitungan bergantung pada kelengkapan data, cakupan dampak, metode valuasi, dan periode waktu yang digunakan,” kata Benny.

Ia mencontohkan kebakaran hutan dan lahan besar yang terjadi di Indonesia pada 2015. Berdasarkan perhitungan Bank Dunia (World Bank), kerugian akibat bencana tersebut mencapai 16,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp221 triliun.

Nilai itu mencakup dampak terhadap sektor pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, transportasi, kesehatan jangka pendek, pemadaman kebakaran, dan lingkungan.

Sementara itu, laporan jurnal Nature Communications memperkirakan kerugian mencapai 28 miliar dollar AS karena memperhitungkan komponen tambahan, seperti emisi karbon, biaya kesehatan jangka panjang, dan kerusakan lingkungan yang lebih luas.

“Dengan menghitung potensi kerugian ini, harapannya kita dapat menjawab bukan hanya berapa kerugian yang terjadi, tetapi juga berapa besar kerugian yang dapat dihindari apabila langkah pencegahan dilakukan sejak sekarang,” ujar Benny.

Baca Juga: BNPB Sampaikan Perkembangan Karhutla, Total Kasus ISPA 333.470

Kesenjangan Peringatan Dini dan Pencegahan

Pakar perubahan iklim dan kehutanan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dr. Nisa Novita, menilai tantangan utama pengendalian karhutla bukan lagi sekadar memprediksi risiko, melainkan menerjemahkan peringatan dini menjadi tindakan pencegahan yang efektif.

Menurut Nisa, perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan pemantauan kondisi iklim dan identifikasi wilayah rawan kebakaran dilakukan dengan lebih akurat. Ancaman El Niño, misalnya, dapat diprediksi jauh sebelum fenomena tersebut terjadi.

Namun, kemampuan memprediksi risiko itu belum selalu diikuti langkah pencegahan yang tepat waktu di lapangan.

“Jika potensi kejadian karhutla dengan risiko tinggi dapat diprediksi, maka pertanyaan pentingnya adalah mengapa kita masih kesulitan menerjemahkan peringatan dini tersebut menjadi tindakan pencegahan yang efektif di lapangan,” kata Nisa.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara peringatan dini dan aksi dini, serta persoalan koordinasi dan respons para pemangku kepentingan.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla di Sampit Picu Kecelakaan, Mobil Minibus Tabrak Bundaran Titik 0 KM

Kerusakan Gambut Bisa Berdampak Ribuan Tahun

Nisa menegaskan, dampak karhutla tidak cukup diukur dari luas lahan yang terbakar atau kerugian ekonomi dalam jangka pendek. Pada ekosistem gambut, kebakaran juga dapat menghilangkan fungsi penyimpanan karbon yang terbentuk selama ribuan tahun dan sangat sulit dipulihkan.

Menurut dia, drainase, kekeringan, dan kebakaran yang terjadi berulang kali dapat mengurangi kemampuan gambut untuk pulih. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan hilangnya cadangan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun.

“Yang hilang bukan hanya vegetasi yang masih dapat tumbuh kembali dalam beberapa dekade, tetapi juga cadangan karbon tanah purba yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk,” ujar Nisa.

Para narasumber menilai pemahaman yang menyeluruh mengenai kerugian akibat karhutla dapat menjadi dasar untuk memperkuat kebijakan pencegahan.

Investasi pada sistem peringatan dini, pengelolaan tata air gambut, serta peningkatan koordinasi antarpemangku kepentingan dinilai lebih efektif dibandingkan menanggung kerugian ekonomi, sosial, dan lingkungan setelah kebakaran terjadi.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)

Tag
  • kerugian
  • karhutla
  • puluhan
  • tahun
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Santri Tak Cuma Soal Sarung dan Kitab Kuning
• 22 jam lalu
0
thumb
Kemarin, Kepala BKSDA Kalsel ditahan hingga periksa saksi kredit LPEI
• 14 jam lalu
0
thumb
Cegah Penyimpangan Distribusi BBM, Ini Langkah ESDM
• 4 jam lalu
0
thumb
Penjualan EV Global Capai 2,15 Juta Unit pada September 2026, Dipimpin Eropa
• 8 jam lalu
0
thumb
Murka! Prabowo Ancam Buka Nama Perusahaan Pelanggar ke Negara yang Menghina Karhutla
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.