REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Potongan denim yang tak terpakai, batik, hingga kain sutra tradisional menjadi bagian dari eksplorasi para desainer dalam menghadirkan busana modern. Beragam pendekatan tersebut terlihat dalam koleksi sejumlah brand yang diperkenalkan pada acara Moscow Fashion Week yang berakhir pada Oktober 2026.
Selama enam hari penyelenggaraan, ajang mode ini menghadirkan lebih dari 350 desainer dari berbagai negara. Sejumlah desainer Asia, termasuk dari India, China, dan Sri Lanka, turut memperkenalkan karya dengan karakter dan pendekatan desain masing-masing yang beragam.
Baca Juga
Kenali Titik Kritis Kehalalan Produk Fashion dan Wastra
Kalisha, Brand Tasikmalaya Memukau di Fashion Parade 17 IN2MOTIONFEST x JMFW 2026
Ketika Fashion dan Gaya Hidup Digital Bertemu di Kejar Mimpi FEST 2026
Salah satunya adalah KGL, brand milik desainer asal India, Kanika Goyal. Melalui koleksi Arc Echo, Goyal mengolah potongan-potongan denim yang tidak terpakai menjadi jaket dan celana. Ia juga menghadirkan busana rajut dengan bermotif mozaik. KGL dikenal melalui karya yang dikenakan sejumlah selebritas diantaranya ada Priyanka Chopra Jonas, Deepika Padukone, dan M.I.A. Brand ini juga pernah berkolaborasi dengan Adidas Originals.
Bagi Goyal, partisipasi dalam ajang mode internasional memberikan kesempatan bagi brand independen untuk memperluas jangkauan sekaligus memperkenalkan karakter desainnya kepada audiens yang lebih luas. “Bagi sebuah brand muda, eksposure seperti ini dapat membuka peluang kolaborasi yang bermakna, akses ke pasar baru, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana karya mereka diterima di berbagai budaya,” ujar Goyal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menilai platform seperti Moscow Fashion Week dapat membantu desainer memperoleh pengakuan internasional tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi ciri khas karya mereka. Eksplorasi material dan unusa tradisional juga terlihat dalam koleksi Limak by Kamil, brand milik desainer asal Sri Lanka, Kamil Hewavitharana.
Kali ini batik menjadi salah satu elemen yang diangkatnya melalui perpaduan motif tradisional yang dirancang khusus dengan material sutra, renda, organza, dan jacquard. Perpaduan tersebut menghasilkan siluet modern dengan detail potongan dan sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual. Penggunaan batik menjadi salah satu contoh bagaimana teknik dan motif tradisional dapat dihadirkan dalam rancangan busana dengan pendekatan kontemporer.
Sementara itu, brand asal China, Momiwei, menjalani debutnya di panggung mode internasional melalui Moscow Fashion Week dengan dukungan China Fashion Week. Brand tersebut memiliki pelanggan diantaranya Fan Bingbing dan Gillian Chung. Lewat koleksi Light Sequence, Momiwei mengangkat cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern. Koleksi ini memadukan beludru dan asetat dengan Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang dibuat secara manual dan dikenal memiliki tekstur alami.
Penggunaan material tradisional dalam koleksi turut memperlihatkan bagaimana warisan tekstil dapat menjadi bagian dari eksplorasi desain masa kini. Bukan hanya melalui motif tapi karakter kain juga menjadi elemen yang membentuk tampilan akhir busana.
Berbagai koleksi brand ditampilkan di Moscow Fashion Week. - (Dok. Moscow Fashion Week)
Komentar (0)