AGI Ungkap Tren Game di RI: Developer Mulai Beralih ke PC dan Konsol Premium

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Industri game Indonesia mulai menunjukkan pergeseran tren. Jika sebelumnya banyak pengembang berfokus pada game mobile, kini semakin banyak yang menggarap game premium untuk PC dan konsol. Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI), Shafiq Husein, menilai perubahan ini membuka peluang bisnis yang menjanjikan bagi developer lokal untuk menjangkau pasar global.

“Yang jelas industrinya pasti makin tumbuh, karena kalau kita lihat sekarang generasi muda sudah melihat industri game sebagai salah satu pilihan karir dibandingkan dengan zaman dulu,” kata Shafiq saat ditemui di acara Bali Tech Week (BTW) 2026 di Denpasar, Bali, Rabu (21/10).

Menurut Shafiq, perkembangan industri game Indonesia terlihat dari semakin banyaknya studio yang terlibat dalam ekosistem pengembangan game. Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2026, bagian dari Bali Tech Week 2026, menjadi ajang yang menghadirkan sekitar 240 studio untuk unjuk perkembangan industri game Tanah Air.

Ia menilai perubahan fokus pengembang dari game mobile ke PC dan konsol premium berkaitan dengan model bisnis yang ditawarkan. Pengembang dapat menjual game premium dengan pembayaran di awal, berbeda dengan model free-to-play yang mengharuskan mereka memikirkan strategi monetisasi dan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

“Kalau premium game, bisnis modelnya lebih straightforward. Dibandingkan dengan free-to-play yang download-nya gratis, kita harus memikirkan lagi jangka panjangnya seperti apa. Sedangkan kalau premium game, seseorang membeli di depan, memainkan game itu, kemudian berganti lagi dengan game yang baru,” ujar Shafiq.

Pergeseran tersebut juga membuka peluang bagi pengembang Indonesia untuk memperluas distribusi game ke pasar internasional. Melalui platform distribusi digital, developer lokal dapat menjual produk mereka kepada pemain di berbagai negara tanpa harus mengandalkan pasar domestik.

Game Indonesia Tembus Pasar Global

Shafiq mengatakan, pengembang game Indonesia telah mendistribusikan karya mereka ke berbagai pasar internasional. Sejumlah pasar yang menjadi tujuan penjualan antara lain Amerika Serikat, Eropa, Thailand, dan Malaysia.

Menurutnya, pengembang Indonesia saat ini banyak menggarap game untuk PC dan konsol premium. Kondisi tersebut membuat pasar ekspor menjadi salah satu bagian penting dalam bisnis game lokal.

“Pengembangnya sendiri itu kita lebih banyak memang trade-nya untuk platform PC dan konsol yang premium. Jadi memang secara ekspor kita jadinya lebih besar,” katanya.

Beberapa game buatan Indonesia juga telah memperoleh perhatian pemain internasional. Shafiq mencontohkan Potion Permit dan Coral Island, dua game yang menghadirkan pengalaman bermain santai atau dikenal sebagai cozy game.

Ia menilai pasar internasional cenderung lebih terbuka terhadap beragam jenis dan konten game. Hal ini memberi kesempatan bagi developer Indonesia untuk mengembangkan produk dengan karakteristik yang berbeda dan menjangkau pemain dengan minat yang beragam.

Selain itu, sejumlah game karya anak bangsa juga telah tersedia di berbagai platform, termasuk Nintendo Switch 2, PC melalui Steam, dan konsol PlayStation.

Dalam pameran IGDX di Bali Tech Week 2026, pengunjung dapat menemukan sejumlah game lokal, seperti A Space for the Unbound dari Toge Productions, DreadOut, dan Troublemaker. Kehadiran game-game tersebut menunjukkan bahwa karya pengembang Indonesia telah menjangkau berbagai platform distribusi.

Shafiq menilai pertumbuhan industri game Indonesia tidak hanya terlihat dari jumlah studio dan distribusi produknya, tetapi juga dari meningkatnya minat generasi muda untuk berkarier di sektor tersebut.

Kini, pengembangan game mulai dipandang sebagai pilihan profesi yang menjanjikan. Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia juga telah membuka jurusan atau program studi yang berkaitan dengan pengembangan game.

Menurut Shafiq, perkembangan pendidikan tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan industri. Ia juga menyoroti peluang yang muncul dari platform seperti Roblox. Ekosistem tersebut memungkinkan anak muda, termasuk mereka yang berusia di bawah 20 tahun, mulai berperan sebagai kreator dalam industri game.

Meski demikian, ia menilai pengembangan ekosistem game Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketidakseimbangan antara pasar pemain dan produk yang dihasilkan pengembang lokal. Dari sisi pengguna, pasar Indonesia masih didominasi game mobile. Namun, banyak developer lokal justru mengembangkan game premium untuk PC dan konsol.

Kondisi ini membuat pengembang perlu mengandalkan pasar internasional untuk memperluas jangkauan penjualan. Shafiq menyebut persoalan sumber daya, produk, dan birokrasi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama. AGI juga belum memiliki data yang cukup untuk menghitung secara pasti kontribusi industri game terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Di tengah tantangan tersebut, Shafiq menilai Indonesia memiliki modal untuk bersaing dengan negara lain di Asia Tenggara. Jumlah pengguna yang besar dan kualitas game buatan lokal yang semakin baik menjadi dua faktor pendukung.

Ia juga menyinggung keberhasilan game Indonesia meraih penghargaan di luar negeri, termasuk dalam ajang Level Up KL di Malaysia. Namun, agar game lokal semakin diminati pemain di dalam negeri, industri masih perlu menjembatani perbedaan antara karakteristik pasar domestik dan fokus pengembang.

Penguatan ekosistem harus mencakup pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk, dan penyederhanaan hambatan birokrasi. Dengan begitu, developer Indonesia dapat mengembangkan game yang mampu bersaing di pasar global sekaligus memperbesar peluang pertumbuhan industri di Tanah Air.

Perkembangan industri game Indonesia, menurutnya, menunjukkan peluang yang semakin terbuka. Dengan dukungan talenta muda, distribusi digital, dan pasar internasional yang lebih luas, game buatan anak bangsa berpotensi menjadi salah satu produk kreatif Indonesia yang diperhitungkan di tingkat global.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Soal Kasus DSSA dkk, Kadin Imbau Pelaku Usaha Fokus Tingkatkan Kinerja Keuangan
• 15 jam lalu
0
thumb
Benarkah Biaya Kuliah di Jerman 100% Gratis? Ternyata Begini Aslinya
• 2 jam lalu
0
thumb
Gempa Dahsyat Magnitudo 7 Guncang Tibet, 16 Orang Tewas
• 13 jam lalu
0
thumb
Solo Documentary Film Festival 2026 Ajak Penonton Donasi Penanganan Karhutla, Usung Tema
• 17 jam lalu
0
thumb
Ubed Ukir Sejarah! Tembus Semifinal Level Super 750 di French Open 2026
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.