JAKARTA, KOMPAS.TV - Lari dan jalan kaki menjadi pilihan aktivitas fisik yang mudah dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh. Keduanya dapat dilakukan di sekitar rumah maupun ruang terbuka publik tanpa harus menggunakan peralatan olahraga rumit.
Meski sama-sama melihatkan gerakan tubuh, lari dan jalan kaki memiliki perbedaan dari segi intensitas, dampak terhadap tubuh, serta jumlah energi yang digunakan.
Baca Juga: Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga, Menkes Tekankan Perlindungan Kelompok Rentan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menjelaskan jalan kaki cenderung memiliki intensitas lebih rendah, sedangkan lari dapat meningkatkan denyut jantung lebih cepat.
Perbedaan tersebut membuat keduanya dapat memberikan manfaat yang berbeda, bergantung pada kebutuhan dan kondisi fisik seseorang.
"Kalau jalan, intensitasnya rendah. Jantungnya, denyutnya di zona 1. Nah, kalau lari denyut jantungnya lebih cepat. Kalau buat saya minimal 120 beat per minute masuk di zona 2. Itu lebih bagus buat kesehatan jantung kita," kata Budi Gunadi lewat unggahan akun TikTok resminya @bgsadikin.
"Kalau untuk kesehatan otot dan tulang, jalan kaki ini termasuk low impact weight-bearing exercise. Jadi, bagus untuk usia-usia 60 kayak saya yang sudah tua. Ini untuk meningkatkan kepadatan kekuatan otot serta tulang kita dan juga mencegah osteoporosis."
Baca Juga: JPN DIY Dorong Pendekatan Kesehatan Mental yang Dekat dengan Keluarga dan Pesantren
Lari dan Jalan Kaki Memiliki Intensitas BerbedaDalam situs resmi Kementerian Kesehatan RI, jalan kaki dikelompokkan sebagai aktivitas fisik dengan intensitas sedang, sedangkan lari termasuk olahraga berintensitas berat.
Perbedaan tersebut membuat lari dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin melakukan olahraga dengan intensitas lebih tinggi dalam waktu relatif singkat. Namun, jalan kaki juga dapat membantu meningkatkan kebugaran jika dilakukan secara rutin.
Perbedaan intensitas juga berpengaruh terhadap energi yang digunakan tubuh. Secara umum, lari membakar lebih banyak kalori per menit dibandingkan jalan kaki dengan durasi yang sama.
Namun, jalan kaki dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi lemak tubuh, sedangkan lari dengan intensitas lebih tinggi dapat menggunakan energi total yang lebih besar.
Baca Juga: Perluas Akses Kesehatan, PNM Bersama BAZNAS Kembali Salurkan Ambulans PNM Peduli ke Berbagai Daerah
Berapa Durasi Olahraga yang Dianjurkan?Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150-300 menit per minggu atau aktivitas intensitas berat selama 75-150 menit per minggu.
Selain memenuhi durasi yang dianjurkan, konsistensi dalam berolahraga juga menjadi hal penting untuk menjaga kebugaran tubuh. Setiap orang dapat memilih jenis aktivitas fisik yang paling sesuai dengan kemampuan dan rutinitasnya.
Keduanya juga dapat dikombinasikan untuk memenuhi rekomendasi tersebut. Karena itu, lari dan jalan kaki sama-sama dapat mendukung kesehatan jika dilakukan rutin dengan intensitas yang sesuai.
Pilihan terbaik bergantung pada kemampuan tubuh, tujuan olahraga, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Laela Putri Rahmadani Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- lari
- jalan kaki
- kesehatan tubuh
- olahraga






Komentar (0)