REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Himpitan ekonomi yang dialami generasi sandwich dinilai tidak hanya memicu masalah finansial, tetapi juga mengancam kesehatan mental. Banyak kelompok usia produktif antara 20 hingga 40 tahun terjebak dalam kelelahan emosional ekstrem akibat beban ganda menanggung kebutuhan orang tua sekaligus keluarga inti.
Menanggapi fenomena ini, pakar hukum keluarga sekaligus dosen di UMM Dr Agus Supriadi mengatakan ajaran Islam sangat memperhatikan perlindungan jiwa dan kesehatan mental di tengah kewajiban berbakti kepada orang tua. Menurut dia, pergeseran struktur masyarakat modern dan belum optimalnya jaminan sosial lansia di negara berkembang membuat anak kerap menjadi tumpuan utama. Kondisi ini rentan memicu kelelahan hebat pada sang penopang keluarga.
Viral Konten Polisi Anak, Jasa Unik yang Bantu Orang Tua Nasihati Anak
Marak Kasus Anak dalam Bahaya Akibat Kelalaian Orang Tua, Psikolog Tekankan Mindful Parenting
“Banyak individu dalam posisi ini mengalami kerentanan psikologis, mulai dari kecemasan kronis, depresi, hingga kelelahan emosional. Mereka juga kerap dihantui rasa bersalah yang tidak berkesudahan (guilt trip), baik terhadap orang tua maupun keluarga intinya sendiri,” kata Dr Agus dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (23/10/2026).
iBerbuat baik kepada orang tua. - (Republika/Daan Yahya)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menjelaskan, tekanan mental tersebut sering kali muncul karena kesalahpahaman dalam memaknai konsep birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Padahal, Islam memiliki aturan fikih prioritas dalam pemberian nafkah dan melarang segala bentuk kezaliman, termasuk menzalimi diri sendiri.
Merujuk pada kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili serta hadis riwayat Muslim, urutan nafkah yang benar dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga inti (istri dan anak) yang bersifat wajib mutlak, barulah kepada kedua orang tua yang sifatnya kondisional apabila orang tua tidak mampu dan anak memiliki kelebihan rezeki. Dokter Agus menjelaskan agama Islam tidak membebani hamba di luar batas kemampuannya. Kuncinya adalah la dharar wa la dhirar, tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.
"Maka, berbakti kepada orang tua tidak boleh diartikan sebagai penyerahan finansial tanpa batas hingga mengorbankan kesehatan mental diri sendiri serta hak dasar pendidikan, gizi, dan masa depan anak,” kata dia.
Komentar (0)