REPUBLIKA.CO.ID, SOLOK, – Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mengajak para petani untuk mengembangkan hilirisasi bawang merah sebagai strategi meningkatkan nilai tambah hasil panen. Langkah ini dinilai krusial di tengah kondisi penurunan harga komoditas tersebut di pasaran.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi, di Solok pada Kamis, menyatakan bahwa pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng dapat menjadi alternatif usaha yang menjanjikan. Upaya ini diharapkan mampu mendongkrak pendapatan petani ketika harga jual bawang merah segar sedang tidak stabil.
Menurut Deslirizaldi, produk bawang goreng memiliki peluang pasar yang sangat besar karena diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. Pengolahan hasil panen menjadi produk siap konsumsi dinilai berpotensi memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan menjual bawang merah dalam bentuk segar.
Potensi Ekonomi Bawang Goreng
Ia mencontohkan potensi ekonomi dari produk olahan tersebut berdasarkan pengalamannya saat mendampingi rombongan dari Kementerian Pertanian ke kawasan Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Dalam kunjungan itu, rombongan tertarik dan membeli bawang goreng dengan harga mencapai Rp500 ribu per kilogram.
Meskipun prospeknya cerah, Deslirizaldi mengingatkan petani agar cermat dalam memperhitungkan seluruh biaya produksi dan pengolahan. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas produk, serta memperhatikan aspek kemasan dan strategi pemasaran agar usaha bawang goreng benar-benar memberikan keuntungan yang optimal.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Atur Pola Tanam dan Diversifikasi
Selain mendorong hilirisasi, Dinas Pertanian Kabupaten Solok juga mengimbau petani untuk mengatur pola tanam. Petani diimbau untuk menghindari penanaman bawang merah secara serentak dalam jumlah besar guna mengurangi risiko kelebihan pasokan yang menyebabkan anjloknya harga saat panen raya.
Petani juga disarankan untuk melakukan diversifikasi dengan menanam komoditas hortikultura lain, seperti cabai, secara bergiliran. Keputusan ini harus mempertimbangkan kondisi lahan, kebutuhan pasar, serta biaya produksi yang diperlukan.
Deslirizaldi menyebutkan bahwa harga cabai saat ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan bawang merah. Kondisi ini dapat menjadi pertimbangan utama bagi petani dalam menentukan komoditas yang akan dikembangkan pada musim tanam berikutnya. "Jangan berburu menanam bawang merah. Masih banyak tanaman lainnya dengan harga yang cukup menjanjikan bagi petani," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang petani bawang di Alahan Panjang, Andi (45), mengeluhkan penurunan harga yang berlangsung cukup lama. Harga komoditas tersebut turun drastis dari Rp27 ribu menjadi Rp19 ribu per kilogram, termasuk untuk bawang merah berukuran besar dengan kualitas yang baik.
Andi juga menyebutkan bahwa hasil panen kali ini didominasi oleh bawang merah berukuran sedang, sehingga harga jual yang diperoleh belum sesuai dengan harapan. Di sisi lain, biaya produksi pertanian masih relatif tinggi, terutama untuk perawatan tanaman dan pengadaan sarana produksi. Kondisi ini membuat petani menghadapi risiko kerugian ketika harga jual hasil panen menurun.
Petani juga mengeluhkan adanya kabut asap yang menambah tantangan dalam pemeliharaan tanaman bawang merah. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan, sementara hasil panen dan harga jual belum mampu menutup seluruh biaya yang telah dikeluarkan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan produk olahan, pengaturan pola tanam, dan diversifikasi komoditas. Upaya ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan petani pada penjualan bawang merah segar sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di Kabupaten Solok.
Komentar (0)