Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku telah menggandeng Kemendikdasmen dalam melakukan survei gizi anak sekolah untuk mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Survei tersebut akan mengukur tinggi dan berat badan anak sekolah untuk mengetahui perkembangan status gizi mereka. Hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat apakah pemenuhan gizi melalui program MBG berdampak terhadap kondisi anak.
Budi mengatakan, survei perlu dilakukan karena sebagian besar penerima manfaat MBG merupakan anak usia sekolah. Sementara itu, survei status gizi yang selama ini dilakukan Kementerian Kesehatan lebih banyak berfokus pada anak balita.
"Kemenkes sendiri sebenarnya sudah memiliki data survei gizi untuk balita. Karena stunting, yang stunting kan kita survei gizinya. Cuma yang balita kan belum banyak mendapatkan MBG, jadi datanya masih belum bagus," kata Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan bidang kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (22/10).
"Karena MBG kan banyaknya di anak usia sekolah. Nah, sekarang kita akan, sudah setuju akan melakukan survei gizi untuk anak usia sekolah. Sehingga kita bisa ketahui bagaimana perkembangan kecukupan gizinya,” lanjutnya.
Menurut Budi, data mengenai tinggi dan berat badan anak sekolah diperlukan untuk menilai kondisi gizi mereka. Dengan begitu, pemerintah dapat mengevaluasi apakah asupan makanan yang diberikan melalui MBG turut memperbaiki status gizi penerima manfaat.
"Kita nanti akan kayak bayi aja, kita ukur tinggi dan kita ukur berat badannya. Ya, ininya seperti apa, karena ada indikator-indikator penurunan gizi," jelasnya.
Ia mengatakan, rencana survei tersebut telah dibahas bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Namun, Budi belum menyampaikan jadwal pelaksanaan survei tersebut secara spesifik.
Survei ini diharapkan melengkapi data kesehatan anak yang dimiliki pemerintah, sehingga evaluasi MBG tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada kondisi gizi anak yang menerimanya.






Komentar (0)