Jakarta, CNBC Indonesia - China dan Hong Kong kembali menjadi yang tertinggi. Hal ini setidaknya terlihat dari data terbaru investasi, setidaknya di Asia.
Mengutip CNBC International, dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) kini menggelontorkan kembali miliaran dolar AS ke China daratan dan Hong Kong. Hal ini membalikkan penurunan tajam investasi sebelumnya.
Investasi ke China daratan dan Hong Kong pun melonjak menjadi US$14,2 miliar (Rp255,7 triliun) dalam sembilan bulan pertama 2026. Angka ini naik 190% dibandingkan total investasi dana-dana tersebut sepanjang 2025.
Berdasarkan data konsultan Global SWF yang berbasis di Singapura, kondisi ini berbanding terbalik dengan penurunan sebesar 54% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Kala itu, ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi China membebani sentimen investor.
"Kebangkitan investasi tahun ini sebagian besar didorong oleh investor negara dari Timur Tengah," tulis Global SWF.
"Dana Investasi Publik Arab Saudi atau Public Investment Fund (PIF) sendiri menyumbang arus investasi masuk sebesar US$6 miliar, disusul Otoritas Investasi Abu Dhabi atau Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) sebesar US$2,5 miliar," tambah data itu.
- Wantimpres Jonan Beri Masukan soal Karhutla RI-Malaysia-Singapura
- Anwar Ibrahim Ungkap Alasan Waze Dilarang Digunakan ASN Malaysia
- GIC & Temasek Jawab Dugaan Pengaruhi MSCI Downgrade Bursa RI
- Perang Makin Panas, Iran Siapkan 'Bapak Segala Bom'
- Breaking! Bandara Saudi Kembali Diserang, 1 Tewas dan 8 Luka
"Mubadala dari Abu Dhabi dan Otoritas Investasi Qatar atau Qatar Investment Authority masing-masing telah menginvestasikan US$800 juta dan US$600 juta."
Secara keseluruhan, keempat dana investasi negara dari kawasan Teluk tersebut menyumbang hampir 70% dari total investasi dana kekayaan negara ke China dan Hong Kong selama periode tersebut. Hal ini menegaskan semakin besarnya peran modal Timur Tengah di kawasan tersebut.
Pengamat menilai minat yang kembali tumbuh terhadap China muncul ketika investor negara semakin berupaya melihat melampaui ketegangan geopolitik untuk memanfaatkan peluang di sektor teknologi, bioteknologi, bisnis konsumen, dan manufaktur maju China.
"Saya pikir China telah beralih dari 'China tidak layak untuk investasi' menjadi 'apakah China layak untuk investasi?' Hingga saat ini, pertanyaan yang paling sering saya terima adalah: 'apakah kita sedang melewatkan peluang?'" kata mitra pengelola senior di perusahaan manajemen investasi Granite Asia, Jenny Lee.
Lee mengatakan keunggulan China yang telah mapan di sektor manufaktur dan bioteknologi dapat memberikan keuntungan ketika pengembangan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas, dari model AI mutakhir menuju penerapan khusus di berbagai industri, termasuk robotika dan penemuan obat.
Jaringan pabrik dan laboratorium penelitian China yang luas memberikan akses terhadap data dunia nyata.
"Data tersebut dapat menjadi semakin berharga dalam pengembangan berbagai aplikasi tersebut," tambahnya.
Kenapa China Prioritas?Bagi Mubadala dari Abu Dhabi, Asia secara umum telah menjadi tujuan investasi yang semakin penting. Investor negara tersebut berupaya melakukan diversifikasi portofolio sekaligus memperbesar eksposur terhadap peluang pertumbuhan jangka panjang.
Pimpinan divisi konsumen untuk investasi ekuitas swasta di Mubadala, Andrew Wang, mengatakan perusahaannya melihat peluang menarik di China. Ia menyoroti valuasi yang atraktif dan besarnya pasar konsumen negara tersebut, seiring upaya dana itu memperluas kehadirannya di Asia.
"Valuasi saat ini lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir. Saya pikir ini akan menjadi periode investasi yang sangat baik bagi investor di China," kata Wang.
Ia mengatakan China menjadi prioritas utama dana tersebut untuk investasi sektor konsumen di Asia. Alasannya, konsumsi rumah tangga berpotensi meningkat dan merek-merek China semakin kompetitif.
Menurut Wang, perusahaan-perusahaan China semakin beranjak dari reputasi sebagai produsen barang murah menuju produk bernilai tambah lebih tinggi. Merek-merek lokal China menunjukkan peningkatan inovasi dan daya saing di pasar global.
Pada September, Mubadala mengumumkan investasi minoritas di Luckin Coffee, perusahaan kopi asal China. Di mana sebagai bagian dari kesepakatan senilai sekitar US$1 miliar bersama Centurium Capital.
Sejumlah dana investasi besar lainnya juga menunjukkan minat terhadap China tahun ini. Qatar Investment Authority dan dana kekayaan negara Norwegia berpartisipasi dalam penawaran saham Alibaba senilai US$10,2 miliar pada Agustus.
Sementara itu, Temasek dari Singapura tengah mengidentifikasi peluang di China. Terutama di sektor bioteknologi, merek konsumen domestik, dan perangkat keras terkait AI.
"China tetap menarik," kata kepala investasi Temasek, Rohit Sipahimalani, dalam Milken Summit di Singapura baru-baru ini.
"Bioteknologi khususnya merupakan sektor yang sangat menarik dan kami berinvestasi di sana. Merek konsumen lokal juga berpotensi menjadi sangat penting," ujarnya.
Sipahimalani juga menyoroti meningkatnya daya saing China di seluruh rantai pasok perangkat keras AI. Ia memperkirakan produsen China akan semakin mampu menantang pemain global yang telah mapan.
Temasek merupakan salah satu investor utama dalam penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Zhongji Innolight. Ini merupakan produsen komponen optik, yang bernilai miliaran dolar AS pada Juli.
Namun AS-Eropa Masih Menang BanyakMeski mengalami lonjakan tajam, China masih menjadi tujuan yang relatif kecil bagi modal dana kekayaan negara jika dibandingkan dengan pasar-pasar Barat. Data Global SWF menunjukkan Amerika Serikat menarik investasi dana kekayaan negara sebesar US$132,4 miliar dalam sembilan bulan pertama 2026.
Sementara itu, Eropa dan Inggris menarik US$44,6 miliar. Investasi sebesar US$14,2 miliar ke China dan Hong Kong hanya mewakili sebagian kecil dari total arus investasi tersebut.
(sef/sef)





Komentar (0)