Jakarta, CNBC Indonesia - Hilangnya pesawat Amelia Earhart sejak 1937 masih menjadi misteri hingga sekarang. Bahkan, bukti yang ditemukan di pulau terpencil Nikumaroro, Kiribati tidak terlalu meyakinkan.
Objek Taraia, yang diyakini sebagai pesawat tersebut, dideteksi pertama kali pada 2020 dengan bentuk panjang berwarna perak. Keberadaanya di salah satu laguna Nikumaroro dan berhasil ditangkap oleh citra satelit.
Temuan itu menimbulkan dua pendapat yang berbeda, ada yang menyebutnya sebagai batang pohon sementara lainnya beranggapan sebagai objek buatan manusia.
Kemudian tim ekspedisi dari Archaeological Legacy Institute (ALI), Purdue Research Foundation, dan Purdue University mencoba menyelidikinya sendiri dengan melakukan perjalanan menuju Semenanjung Taraia di Nikumaroro.
- Penemu Bahtera Nabi Nuh Buka-bukaan, Pernah Diancam Dibunuh
- BMKG Prediksi Hujan Lebat di 9 Wilayah RI Hari Ini, 21 Oktober
Setelah sampai, sayangnya tak banyak dari objek itu yang bersisa. Sebagian besar dilaporkan pecah dan hanyut, hanya menyisakan satu segmen berbentuk Y.
Kemudian mereka melakukan penelitian dan mengonfirmasi bahwa objek itu hanya sisa batang pohon yang terdampar di pantai, dikutip dari IFL Science, Rabu (21/10/2026).
Batang pohon memiliki sifat reflektif. Ini merupakan hasil dari lapisan karbonat yakni campuran pasir karang yang mengkilau dan mengeras.
Meski pencarian tak membawa hasil yang diinginkan, dan hanya membawa pulang sebuah tabung logam yang akan dilakukan pengujian lebih lanjut, tim ekspedisi menjadikannya sebuah penemuan baru soal Nikumaroro.
"Meski Objek Taraia tidak terbukti seperti yang diharapkan, perjalanan ini menghasilkan penemuan baru, menambah pengetahuan dunia mengenaia Nikumaroro dan menulis babak luar biasa lainnya dalam kisah penemuan dan eksplorasi," kata Steve Schultz dari Universitas Purdue.
Pencarian di Nikumaroro memang jadi fokus karena lokasinya tak jauh dari rute pesawat yang berisi Earhart dan kopilotnya Fred Noonan. Pada 1937, pesawat itu terbang dari Papua Nugini menuju Pulau Howland, atau berjarak sekitar 644 kilometer barat laut dari Nikumaroro.
Sejak 1937 sejumlah mitos bermunculan soal lokasi keduanya. Salah satunya melakukan pendaratan darurat di Samudera Pasifik, hingga membuat perkemahan di Nikumaroro dan berakhir dengan jasad mereka dimakan banyak kepiting kelapa.
Sebuah ekspedisi yang dilakukan sebelumnya menemukan bukti adanya perkemahan korban kapal karam. Adapula sisa kerangka manusia yang diidentifikasi sebagai laki-laki.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]





Komentar (0)