Jakarta: Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Pergerakan kurs tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, baik dari dalam negeri maupun kondisi global.
Nilai tukar atau kurs merupakan harga suatu mata uang yang dinyatakan dalam mata uang lain. Dalam mekanisme pasar valuta asing, pergerakannya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut.
Lantas, apa saja faktor yang menentukan nilai tukar Rupiah? 1. Inflasi dan tingkat suku bunga Mengutip Paramadina Public Policy Institute, Rabu, 21 Oktober 2026, inflasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan kurs. Negara dengan tingkat inflasi relatif tinggi cenderung menghadapi tekanan terhadap nilai mata uangnya apabila dibandingkan dengan negara mitra dagang.
Inflasi yang lebih tinggi dapat mengurangi daya beli mata uang. Dalam jangka panjang, perbedaan inflasi antarnegara dapat memengaruhi daya saing harga barang dan pergerakan nilai tukar.
Selain inflasi, tingkat suku bunga juga memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana. Perbedaan suku bunga antara Indonesia dan negara lain, terutama Amerika Serikat, dapat memengaruhi daya tarik aset keuangan domestik.
Ketika imbal hasil aset dalam negeri dinilai lebih menarik dibandingkan aset luar negeri, aliran modal masuk berpotensi meningkat dan mendukung permintaan terhadap Rupiah. Sebaliknya, apabila investor memilih memindahkan dananya ke aset berdenominasi dolar AS, Rupiah dapat menghadapi tekanan. 2. Neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing Kondisi ekspor dan impor turut memengaruhi permintaan serta penawaran valuta asing. Mengutip laman Bank Sinarmas, aktivitas perdagangan internasional menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan Rupiah.
Ketika perusahaan Indonesia melakukan impor, mereka membutuhkan valuta asing untuk membayar barang dari luar negeri. Jika kebutuhan dolar AS meningkat, permintaan terhadap mata uang tersebut juga dapat bertambah.
Sebaliknya, kegiatan ekspor menghasilkan penerimaan devisa. Penerimaan tersebut dapat mendukung penawaran valuta asing di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap Rupiah juga bergantung pada faktor lain, seperti waktu penerimaan devisa, pembayaran impor, serta arus modal.
Baca Juga :
BI Nilai Tekanan Rupiah Pascapengumuman MSCI Masih Normal(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah) 3. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat Kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed, bank sentral AS, juga dapat memengaruhi Rupiah. Perubahan suku bunga AS berpengaruh terhadap imbal hasil aset dolar dan keputusan investasi di pasar global.
Ketika The Fed menaikkan suku bunga, aset keuangan AS dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi ini berpotensi mendorong perpindahan dana ke AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga AS dapat mengurangi daya tarik relatif aset dolar dan membuka peluang aliran modal menuju pasar negara berkembang. Meski demikian, arah pergerakan Rupiah tetap bergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan di berbagai negara. 4. Kondisi ekonomi global dan sentimen pasar Pergerakan Rupiah juga dipengaruhi oleh situasi ekonomi dan geopolitik global. Ketidakpastian akibat konflik internasional, prospek pertumbuhan ekonomi, maupun perubahan kebijakan perdagangan dapat memengaruhi keputusan investor.
Dalam situasi ketika investor menghindari risiko, sebagian dana dapat dialihkan ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Peningkatan permintaan dolar tersebut berpotensi menekan mata uang negara berkembang.
Sebaliknya, membaiknya prospek ekonomi global dan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko dapat mendukung aliran modal ke pasar negara berkembang. Dampaknya terhadap Rupiah tetap dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. 5. Stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor Paramadina Public Policy Institute juga menyoroti stabilitas politik dan kinerja ekonomi sebagai faktor yang dapat memengaruhi nilai tukar. Kepastian kebijakan, prospek pertumbuhan, serta kepercayaan investor dapat memengaruhi keputusan penanaman modal.
Kondisi ekonomi yang dinilai stabil dapat meningkatkan minat investor terhadap aset domestik. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan atau meningkatnya risiko ekonomi berpotensi membuat investor menahan investasi atau memindahkan dananya ke pasar lain.
Selain itu, kondisi fiskal pemerintah, utang publik, dan cadangan devisa turut menjadi bagian dari penilaian investor terhadap ketahanan ekonomi suatu negara. Nilai tukar Rupiah dipengaruhi banyak faktor Pergerakan nilai tukar Rupiah tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Inflasi, perbedaan suku bunga, aktivitas ekspor-impor, kebijakan The Fed, kondisi ekonomi global, serta kepercayaan investor saling berinteraksi dalam memengaruhi permintaan dan penawaran mata uang.
Karena itu, penguatan Rupiah pada satu sesi perdagangan tidak serta-merta menunjukkan perubahan kondisi ekonomi secara menyeluruh. Untuk memahami arah pergerakannya, diperlukan pengamatan terhadap perkembangan kurs dalam periode tertentu serta indikator ekonomi domestik dan global. (Selsha Septifanie Gunawan)





Komentar (0)