Mike Donghia
Mensyukuri hal-hal baik yang kita miliki merupakan salah satu cara untuk melawan pandangan hidup yang dipenuhi kepahitan.
Kita semua mungkin pernah bertemu seseorang yang semakin pahit dalam memandang kehidupan seiring bertambahnya usia. Alih-alih menikmati kenangan sepanjang hidupnya, ia justru terus menyimpan rasa kesal atas nasib yang menimpanya atau kekecewaan terhadap bagaimana kehidupannya berlangsung.
Ini bukan berarti setiap kehidupan berjalan mudah atau adil—kenyataannya, hidup terkadang dapat memberikan pukulan yang sangat berat. Namun, kepahitan hanya memperparah kemalangan yang kita alami. Kepahitan menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk melepaskan ganjalan di hati dan melanjutkan hidup.
Untungnya, apa pun yang terjadi pada kita, kita tetap dapat memaksimalkan keadaan dengan menyikapinya secara tenang, seimbang, dan penuh keanggunan.
Bagi banyak dari kita, kemampuan untuk tetap merasa cukup dan damai di tengah berbagai cobaan merupakan salah satu kesaksian paling kuat yang dapat kita berikan melalui kehidupan kita.
Mengapa kepahitan di usia tua menjadi sebuah tragedi? Karena hal itu menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa kehidupan akan mengikis kekuatan kita dan berakhir dengan kekecewaan.
Gagasan negatif dapat menular dan melemahkan sikap positif serta semangat untuk berusaha, padahal keduanya memungkinkan masyarakat tetap bersatu dan menemukan makna dalam hal-hal sederhana sehari-hari.
Kita masing-masing seharusnya menganggapnya sebagai kewajiban moral untuk tidak tumbuh menjadi pribadi yang penuh kepahitan. Sebaliknya, kita perlu memupuk kebiasaan-kebiasaan sederhana untuk memandang kembali kesulitan dari sudut pandang berbeda, sehingga kesulitan tersebut membantu kita menjadi pribadi yang lebih hangat seiring bertambahnya usia.
Inilah cara memanfaatkan anugerah kehidupan sebaik-baiknya sekaligus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Cara Menua dengan Anggun dan BijaksanaManfaatkan anugerah kehidupan sebaik-baiknya dan dorong orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan mengikuti kiat-kiat berikut.
1. Hitung dan Syukuri Berkat yang Anda MilikiAda miliaran manusia di Bumi ini, tetapi kita sering membandingkan diri dengan mereka yang hidupnya lebih beruntung. Jika Anda terus-menerus memperhatikan apa yang dimiliki orang lain tetapi tidak Anda miliki, tentu kehidupan Anda tidak akan pernah terasa cukup. Bahkan ketika keadaan membaik, Anda hanya akan terus menaikkan standar yang ingin dicapai sehingga tidak pernah benar-benar merasa puas.
Bagaimana jika, sebaliknya, Anda membayangkan diri sendiri terbaring di ranjang kematian tanpa memiliki waktu lagi untuk menjalani kehidupan?
Praktik kuno kaum Stoa ini memperjelas bahwa selama Anda masih memiliki waktu, Anda mempunyai anugerah yang bahkan mungkin membuat orang-orang terkaya di dunia yang sudah lanjut usia merasa iri. Jangan sia-siakan anugerah tersebut.
2. Berlapang Dada terhadap Ketidaksempurnaan Orang LainSebagian besar kemarahan yang belum terselesaikan berakar dari kekecewaan terhadap orang lain yang tidak memenuhi harapan kita. Ironisnya, orang-orang yang paling mencintai kita justru sering kali menjadi pihak yang paling menyakiti kita.
Alih-alih berlapang dada terhadap kekurangan mereka—karena tidak seorang pun selalu mampu menunjukkan sisi terbaik dirinya setiap saat—kita justru terus mengingat beberapa kejadian ketika mereka mengecewakan kita. Akibatnya, kita memulai lingkaran perasaan terluka dan sikap agresif secara pasif.
3. Sesuaikan Kembali Harapan Anda ketika Menengok Masa LaluSalah satu gagasan yang sering saya bahas adalah bahwa kebahagiaan merupakan selisih antara kenyataan dan harapan. Jika Anda menetapkan harapan terlalu tinggi, kekecewaan hampir pasti terjadi.
Hal yang baru-baru ini penulis temukan dari gagasan tersebut adalah bahwa kita dapat meninjau ulang harapan itu setelah melihat kembali perjalanan hidup kita. Dengan sedikit latihan mental, Anda dapat menafsirkan kembali kisah hidup sendiri menggunakan seperangkat harapan yang berbeda.
Mungkin hubungan Anda dengan orang tua tidak begitu baik ketika tumbuh dewasa. Namun, Anda masih dapat bersyukur karena mereka telah membesarkan Anda hingga menjadi orang dewasa. Anda juga dapat membayangkan seribu kemungkinan lain yang bisa membuat keadaan jauh lebih buruk.
Tentu saja, hal ini tidak membebaskan perilaku yang benar-benar buruk dari tanggung jawab. Gagasan ini hanya mengakui bahwa hasil yang sangat baik tidak pernah dijamin dan bahwa hasil yang Anda alami bukanlah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
4. Temukan Keyakinan yang Membantu Anda Memaknai PenderitaanSelama ribuan tahun, keyakinan agama telah membantu manusia menghadapi dunia yang tidak dapat diprediksi dan bertahan melewati kesulitan tanpa kehilangan harapan.
Bagi orang-orang beriman seperti penulis, kekuatan itu berasal dari keyakinan bahwa janji-janji dalam agama yang kita anut adalah benar dan berlaku sepanjang masa.
Kemungkinan besar, Anda tidak dapat menikmati ketenangan seperti ini tanpa keyakinan yang sungguh-sungguh. Anda juga tidak dapat memaksakan diri untuk percaya tanpa alasan yang kuat. Jika Anda merasa ingin tahu, dorongan penulis sederhana: carilah kebenaran dengan jujur, temukan komunitas orang-orang beriman, dan kenali mereka secara langsung.
5. Ambil Kembali Kendali atas Hal-Hal yang Membuat Anda Merasa Tidak BerdayaSalah satu sumber kepahitan yang umum adalah perasaan terjebak dalam situasi ketika kita merasa tidak memiliki kuasa untuk mengubah keadaan. Penulis memahami bahwa perasaan ini bisa sangat menyiksa.
Namun, seburuk apa pun keadaan tersebut, hal itu tetap bukan alasan untuk membawa beban emosional itu sepanjang hidup. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, bahkan tindakan kecil untuk mengambil kendali atas keadaan dapat mematahkan belenggu perasaan tidak berdaya dan mengingatkan kita bahwa harapan belum sepenuhnya hilang.
Kuncinya adalah mengambil langkah kecil itu, bahkan ketika kita merasa bahwa mencoba pun tidak ada gunanya.
Kehidupan yang dipenuhi banyak kesulitan tidak harus dibalas dengan kepahitan. Sepanjang sejarah, banyak pria dan wanita hebat menghadapi kesulitan yang sama beratnya atau bahkan lebih buruk daripada yang kita alami, tetapi mereka menyikapinya dengan penerimaan.
Mereka memahami bahwa kemarahan tidak akan mengubah apa pun, tetapi sikap yang tepat dapat memberikan makna dan nilai bahkan pada pengalaman yang paling buruk sekalipun.
Dengan melakukan hal tersebut, mereka meninggalkan sesuatu yang langka bagi dunia: alasan yang tulus untuk terus melangkah maju.






Komentar (0)