Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20-21 Oktober 2026. Keputusan ini diambil di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, pelemahan nilai tukar rupiah, dan upaya menjaga inflasi tetap terkendali.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan dalam paparannya bank sentral tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencapai sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Salah satu pertimbangan BI adalah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Destry menyebut meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mempengaruhi prospek ekonomi dunia dan pasar keuangan global.
“Perkembangannya dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, alat kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry dalam konferensi pers RDG di Gedung Thamrin, Bank Indonesia, Rabu (21/10).
Kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan tetap ketat dalam waktu lebih lama berpotensi menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tetap tinggi, sehingga daya tarik aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan.
Tekanan eksternal turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. BI mencatat rupiah berada di level Rp 17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, melemah 0,61 persen dibandingkan posisi akhir September 2026.
BI memperkuat kebijakan insentif bagi instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menarik aliran masuk modal asing sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Pertimbangan lainnya adalah perkembangan inflasi domestik. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui realisasi bulan sebelumnya di angka 3,19 persen.
Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi inflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang mencapai 5,03 persen secara tahunan akibat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra, terutama karena gangguan cuaca.
Adapun inflasi inti turun menjadi 2,84 persen secara tahunan dan inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) tercatat sebesar 3,25 persen.
BI menilai inflasi masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen untuk 2026 dan 2027.
Dengan mempertahankan BI-Rate dan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen, BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran.
“Ke depan Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna menjaga konsistensi dalam menjaga stabilitas perekonomian,” pungkas Destry.






Komentar (0)