BMKG Optimalkan Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla di Sumatra dan Kalimantan, Ini Cara Kerjanya

disway.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Upaya mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan terus diperkuat. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah instansi pemerintah memanfaatkan dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di atmosfer.

Teknik ini menjadi langkah alternatif ketika kondisi langit relatif kering dan awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas. 

BACA JUGA:Afni Zulkifli Bupati Siak Protes Video Penanaman Hutan Bekas Karhutla Ditake Down: Apakah Seberbahaya Itukah?

Fokusnya bukan memicu hujan secara langsung, melainkan mengintervensi lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan asap ke atas.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa asap karhutla dalam kondisi tertentu dapat terjebak di dekat permukaan hingga ketinggian 6.000-7.000 kaki, bahkan lebih tinggi, akibat adanya lapisan inversi atmosfer.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menerangkan bahwa lapisan inversi bekerja seperti penutup yang menghambat pergerakan udara secara vertikal.

Melalui OMC, dry ice disemai menggunakan pesawat di atas lapisan inversi. 

Proses sublimasi material tersebut memicu pendinginan yang diharapkan membantu mengubah kestabilan atmosfer dan membuka kembali aliran konveksi.

BACA JUGA:Prabowo Perintahkan Karhutla Ditangani Tanpa Menunggu Hujan, 98 Kasus Korporasi Masuk Penyidikan

"Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC," ujar Seto, Selasa, 20 Oktober 2026.

BMKG mengevaluasi dampak intervensi dry ice melalui sejumlah parameter, terutama perubahan jarak pandang (visibility) dan konsentrasi partikel polutan PM2.5.

Kedua indikator tersebut digunakan untuk memantau perkembangan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak, termasuk kawasan bandar udara yang membutuhkan tingkat keselamatan tinggi.

Seto menyebut pemantauan selama beberapa hari pelaksanaan menunjukkan indikasi perbaikan di sejumlah wilayah. Palembang, misalnya, sempat mengalami peningkatan jarak pandang setelah intervensi dilakukan.

Meski demikian, evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan untuk memastikan perkembangan dampak operasi berdasarkan data pengamatan.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pembakar Warung Mi Babi Sukoharjo Eks Napi Terorisme di Jakarta
• 4 jam lalu
0
thumb
Polisi Geledah Rumah Bos Emas di Bali, Sita Mercy hingga BMW
• 19 jam lalu
0
thumb
​Apakah Pelek Mobil Mempengaruhi Pengereman? Ini 7 Hal yang Perlu Diketahui
• 1 jam lalu
0
thumb
Jepang Catat Defisit Perdagangan Rp61 Triliun pada September, Lampaui Ekspektasi
• 49 menit lalu
0
thumb
Pengendali Intikeramik Alamasri Borong 47,6 Juta Saham
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.