Trump Buka Peluang Pertemuan dengan Xi dan Putin, Bahas Pengendalian Senjata Nuklir

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesediaannya menggelar pertemuan bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas pengendalian senjata nuklir. Pembicaraan tersebut berpeluang berlangsung pada November 2026, bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Tiongkok.

Trump mengatakan pembahasan akan mencakup upaya denuklirisasi atau pengurangan senjata nuklir, meskipun agenda lain, termasuk perdagangan, juga berpotensi menjadi bagian dari pertemuan. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Senin, 19 Oktober 2026.
 

Baca Juga :

Hadapi Ancaman Rusia, Lituania Siap Cabut Larangan Senjata Nuklir

"Kami akan membahas tentang senjata nuklir dan denuklirisasi," kata Trump dikutip dari Channel News Asia. Ia menambahkan bahwa dirinya bersedia mengikuti pertemuan tersebut apabila Xi juga menyetujuinya.

Gagasan pertemuan tiga pemimpin negara berkekuatan nuklir terbesar dunia itu muncul ketika Washington berusaha memperbaiki hubungan dengan Beijing dan Moskow. Di sisi lain, hubungan Rusia dan Tiongkok semakin erat, sehingga membuka tantangan tersendiri bagi strategi diplomasi Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut berpotensi menjadi langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan geopolitik. Namun, rencana itu juga dapat memunculkan kekhawatiran di kalangan sekutu Amerika Serikat di Eropa dan Asia, terutama jika pembicaraan menghasilkan kesepakatan yang memengaruhi kepentingan keamanan mereka tanpa keterlibatan langsung.

Apabila tercapai, kesepakatan pengendalian senjata nuklir dapat membantu mengurangi risiko konflik global. Sementara itu, penyelesaian perang Rusia-Ukraina berpotensi meredakan ancaman keamanan yang telah membayangi Eropa selama beberapa tahun terakhir.
Trump Dekati Moskow dan Beijing
Dalam beberapa hari terakhir, Trump menunjukkan upaya untuk memperbaiki hubungan dengan Putin. Kedua pemimpin disebut mencapai kesepakatan terkait bahan bakar diesel Rusia. Trump juga menandatangani perintah pada Jumat yang mencabut sejumlah sanksi utama terhadap Moskow.

Langkah tersebut menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menilai pelonggaran sanksi dan kesepakatan dengan Rusia dapat memperkuat posisi Moskow serta mengurangi tekanan yang seharusnya mendorong Rusia mengakhiri perang.

Di tengah pendekatan terhadap Rusia, Trump juga berupaya mempertahankan hubungan yang stabil dengan Xi Jinping. Hubungan Beijing dan Moskow yang semakin dekat menjadi salah satu faktor penting dalam kalkulasi diplomasi Washington.

Meski demikian, Trump belum berhasil memenuhi janji kampanyenya untuk mengakhiri perang Ukraina dalam waktu singkat. Konflik yang telah berlangsung selama empat tahun itu masih menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Rusia dengan negara-negara Barat.

Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Gedung Putih telah mendiskusikan kemungkinan pertemuan tiga pemimpin selama beberapa pekan. Pertemuan itu dipertimbangkan berlangsung di sela-sela KTT APEC yang dijadwalkan pada 18–19 November 2026 di Tiongkok.

The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Putin ingin memanfaatkan pertemuan tersebut untuk mendorong penyelesaian perang Ukraina dengan persyaratan yang menguntungkan Moskow. Usulan itu disebut disampaikan dalam percakapan telepon dengan Trump pada 9 Oktober, yang juga membahas kesepakatan terkait bahan bakar diesel Rusia.

Kremlin menyatakan pada Senin bahwa kemungkinan pertemuan tersebut memang sempat dibicarakan. Namun, belum ada kepastian mengenai format, agenda final, ataupun hasil yang mungkin dicapai.

Trump, Xi, dan Putin sebelumnya pernah bertemu secara terpisah, tetapi belum pernah mengadakan perundingan formal secara bersamaan. Gedung Putih, Kedutaan Besar Rusia, dan Kedutaan Besar Tiongkok di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai rencana tersebut. Trump Kritik Zelenskyy Ketika ditanya mengenai kemungkinan pertemuan itu, Trump menyatakan bahwa negosiasi tidak hanya dilakukan demi kepentingan Ukraina. Ia juga melontarkan kritik terhadap kepemimpinan Zelenskyy dalam menangani konflik dengan Rusia.

Trump mengatakan Rusia tidak menganggap persoalan Ukraina sebagai masalah dari sudut pandangnya sendiri. Ia turut menilai Zelenskyy tidak banyak membantu penyelesaian konflik dan mengisyaratkan perlunya pihak lain mengambil peran dalam perundingan.

Pernyataan tersebut muncul ketika Ukraina kembali menghadapi serangan udara besar dari Rusia. Serangan pada malam hari itu dilaporkan menyebabkan lebih dari 500.000 rumah tangga kehilangan pasokan listrik serta merusak infrastruktur energi di berbagai wilayah.

Sebanyak 10 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Situasi ini memperlihatkan bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih menghadapi tantangan besar, terutama di tengah berlanjutnya serangan terhadap wilayah dan fasilitas penting Ukraina. Pengendalian Senjata Nuklir Jadi Agenda Utama Pekan sebelumnya, Trump menyatakan optimistis bahwa kesepakatan pengurangan senjata nuklir dengan Rusia dan Tiongkok dapat diwujudkan. Namun, ia tidak menetapkan target waktu yang pasti dan mengakui kesepakatan tersebut belum tentu tercapai pada tahun ini.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Rusia memiliki persediaan hulu ledak nuklir terbesar di dunia, disusul Amerika Serikat dan Tiongkok. Karena itu, keterlibatan ketiga negara berpotensi menentukan arah pengendalian senjata nuklir global.

Tantangan muncul setelah perjanjian pengendalian senjata strategis Amerika Serikat dan Rusia, New START, memasuki masa berakhir pada 2026. Perjanjian yang ditandatangani pada 2010 tersebut membatasi jumlah senjata strategis yang dikerahkan kedua negara dan sebelumnya telah diperpanjang selama lima tahun melalui kesepakatan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS saat itu, Joe Biden.

Perpanjangan lebih lanjut memerlukan kesepakatan baru atau pengaturan lain yang dapat diterima kedua pihak. Tanpa mekanisme pembatasan yang berlaku, transparansi dan pengawasan terhadap persenjataan strategis kedua negara berpotensi menghadapi tantangan lebih besar.

Meski demikian, Beijing belum menunjukkan kesediaan untuk mengikuti perundingan pengurangan senjata nuklir yang melibatkan tiga negara. Kementerian Luar Negeri Tiongkok sebelumnya menegaskan bahwa kemampuan nuklir negaranya belum sebanding dengan Amerika Serikat dan Rusia.

Pemerintah Tiongkok menilai tidak adil dan tidak realistis jika Beijing diminta mengikuti negosiasi pelucutan senjata nuklir trilateral pada tahap ini. Sikap tersebut menjadi salah satu hambatan utama bagi rencana Trump, mengingat kesepakatan yang melibatkan tiga negara membutuhkan komitmen dari seluruh pihak.

Trump sendiri telah menyatakan kesediaannya menghadiri KTT APEC di Shenzhen pada November mendatang. Kunjungan tersebut akan menjadi perjalanan keduanya ke Tiongkok tahun ini sekaligus membuka peluang pertemuan ketiganya dengan Xi dalam periode yang sama.

Selain membahas kemungkinan pertemuan dengan Xi dan Putin, Trump menepis peluang mengadakan pertemuan tingkat tinggi baru dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un selama berada di Tiongkok.

Trump mengatakan dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Kim, tetapi mengaku belum melihat adanya permintaan untuk menggelar pertemuan. Sebelumnya, ia sempat menyampaikan keinginan untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara tersebut pada tahun ini.

Namun, Pyongyang berulang kali menunjukkan penolakan terhadap perundingan yang bertujuan memaksanya meninggalkan program senjata nuklir. Kondisi itu menambah kompleksitas upaya diplomasi Trump untuk mengurangi ketegangan nuklir di berbagai kawasan.

Rencana pertemuan dengan Xi dan Putin pada akhirnya masih bergantung pada kesediaan kedua pemimpin serta kesepakatan mengenai agenda pembicaraan. Jika terlaksana, forum tersebut dapat membuka jalur komunikasi baru di antara tiga negara berkekuatan nuklir utama, meskipun perbedaan kepentingan mengenai Ukraina, keamanan regional, dan keseimbangan persenjataan tetap menjadi tantangan besar.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Trump Buka Peluang Pertemuan dengan Xi dan Putin, Bahas Pengendalian Senjata Nuklir Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/global/GNGG8jQN-trump-buka-peluang-pertemuan-dengan-xi-dan-putin-bahas-pengendalian-senjata-nuklir

(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Fadil Jaidi Dapat Hadiah Ulang Tahun Lapangan Tenis dari Keluarga, Persiapannya Sejak Awal Tahun
• 7 jam lalu
0
thumb
Mata Uang Asia Bangkit Melawan Dolar AS, Won - Rupiah Paling Bersinar
• 5 jam lalu
0
thumb
Wali Kota Surabaya Minta Maksimalkan Bosnas dan Akan Tambah Anggaran Untuk Perbaikan Sekolah
• 1 jam lalu
0
thumb
Mobil Listrik Kecelakaan di Tol Priok Arah Bandara, Korban Dilarikan ke RS
• 4 jam lalu
0
thumb
Targetkan Implementasi Awal 2027, Pemerintah Dorong Percepatan Penandatanganan IEU-CEPA
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.