Grid.ID – Menyampaikan pendapat di ruang publik bukan perkara mudah, terlebih ketika harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Namun, bagi Omara Esteghlal, hal tersebut tak lantas menjadi alasan untuk berhenti menyuarakan sesuatu yang diyakininya benar.
Bagi Omara, memandang kesempatan untuk bersuara adalah sebuah keistimewaan sekaligus tanggung jawab. Karena itu, ia tidak ingin tekanan atau hambatan membuatnya mengabaikan persoalan yang membutuhkan perhatian masyarakat.
Omara menyadari bahwa figur publik memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi kepada khalayak luas. Menurutnya, kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan dengan bijak, bukan justru membuat seseorang takut menyampaikan pendapat.
“Seperti saya bilang tadi, yang terpenting ini adalah sebuah privilege dan sebuah tanggung jawab. Jadi kalau misalnya kita ngomong kapok itu, itu adalah sebuah challenge dan turbulensi doang,” ujar Omara Esteghlal saat ditemui di Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (19/10/2026).
Bagi Omara, menghadapi tantangan merupakan bagian dari proses ketika seseorang memutuskan untuk bersuara. Selama merasa berada di pihak yang benar, ia akan berusaha mempertahankan prinsip tersebut.
“Dari aku sendiri asal aku tahu I’m on the right side, aku akan terus berusaha,” tegas Omara.
Meski begitu, Omara tidak memandang keberanian berbicara sebagai satu-satunya hal yang penting. Ia menilai seseorang juga perlu memahami persoalan yang sedang dibahas sebelum menyampaikan kritik atau menentukan sikap.
Hal tersebut menjadi penting ketika masyarakat menyoroti berbagai isu publik, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan warga. Kepedulian terhadap persoalan semacam ini perlu disertai pemahaman terhadap fakta agar informasi yang disampaikan tidak menyesatkan.
Omara pun menekankan pentingnya memiliki kompas moral ketika menanggapi suatu persoalan. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui apa yang benar, memahami fakta, serta menyadari situasi yang sebenarnya terjadi.
“Mungkin pertanyaannya bukan apakah itu penting apa enggak untuk bersuara masalah ini, tapi kita harus mengetahui moral kompas kita seperti apa, apa yang kita harus tahu itu benar, apa yang faktual, apa yang sedang terjadi,” kata Omara.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa menyampaikan kritik bukan sekadar mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan. Pemahaman terhadap fakta diperlukan agar pendapat yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan tidak berhenti sebagai reaksi sesaat.
Omara juga menempatkan kepentingan bersama sebagai hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang menyuarakan pendapat. Baginya, aspirasi yang disampaikan seharusnya memiliki tujuan yang jelas, terutama jika berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Dengan prinsip tersebut, Omara menegaskan bahwa berbagai tantangan tidak serta-merta membuatnya mundur dari keinginan untuk bersuara. Ia memilih untuk terus berusaha menyampaikan pendapat selama meyakini bahwa hal tersebut berpijak pada kebenaran dan membawa manfaat bagi orang banyak. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)