Bangkok: Lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu persaingan global untuk mendapatkan pendanaan yang memicu bank sentral mempertimbangkan kemungkinan menaikkan suku bunga di level lebih tinggi. Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tekanan untuk memperketat belanja setelah bertahun-tahun menggelontorkan dana dalam jumlah besar.
Melansir Channel News Asia, pemerintah dan perusahaan menggelontorkan dana besar untuk berbagai proyek terkait AI, mulai dari pengembangan cip silikon dan pusat data hingga jaringan listrik dan telekomunikasi. Investasi tersebut turut mendorong aktivitas ekonomi global sekaligus meningkatkan biaya pinjaman.
Para bankir sentral dari sejumlah negara dengan perekonomian terbesar dunia yang berkumpul di Bangkok menilai lonjakan investasi AI turut memicu tekanan inflasi dan risiko keuangan. Pasalnya, investasi tersebut mengalir jauh sebelum peningkatan produktivitas yang dijanjikan teknologi AI dapat terwujud.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan, bank sentral perlu menyadari bahwa perkembangan AI merupakan guncangan bagi perekonomian. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok.
"Jika Anda seorang bankir sentral, Anda harus menyadari bahwa ini merupakan sebuah guncangan. Dampaknya jelas terasa pada sisi permintaan perekonomian sebelum akhirnya memengaruhi sisi penawaran," ujar Warsh, dikutip Channel News Asia, Senin, 19 Oktober 2026.
Warsh mengatakan Amerika Serikat mendapat manfaat dari meluasnya lonjakan investasi. Namun, ia memperingatkan transisi tersebut berpotensi berlangsung penuh gejolak karena investor, perusahaan, dan pembuat kebijakan masih menghadapi ketidakpastian mengenai pihak yang akan memperoleh keuntungan terbesar dari perkembangan teknologi tersebut.
Sejumlah bankir sentral dari negara-negara anggota kelompok G20 yang juga berada di Bangkok menilai perubahan kecil dalam prospek keuntungan AI dapat memicu gejolak besar di pasar keuangan. Hal ini mengingat investasi AI selama ini ditopang oleh ekspektasi keuntungan yang tinggi. Risiko tersebut tercermin dari aksi jual saham teknologi di Asia pada pekan ini.
Baca Juga :
Kontrak Berjangka Saham AS Naik Terkerek Kembalinya Investor ke Sektor AI(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com) Persaingan pendanaan dorong biaya pinjaman Perdebatan mengenai dampak investasi AI menandai perubahan dari kondisi setelah krisis keuangan global 2008. Saat itu, pembuat kebijakan mengkhawatirkan kelebihan tabungan global dan inflasi yang terus berada pada level terlalu rendah.
Kini, bankir sentral justru menghadapi persoalan meningkatnya permintaan terhadap modal. Persaingan untuk memperoleh pendanaan semakin ketat di tengah kebutuhan investasi yang terus bertambah.
"Terjadi persaingan global untuk mendapatkan uang. Investasi di bidang AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan biaya modal," ujar pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), Martins Kazaks, kepada Reuters, sebagaimana dikutip Channel News Asia.
Tekanan terhadap kebutuhan pendanaan juga meningkat seiring pemerintah Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman memperbesar pinjaman untuk membiayai pertahanan, kebijakan industri, serta proyek energi.
Kondisi tersebut mendorong bank sentral mempertimbangkan kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga netral atau R-star, yakni tingkat suku bunga yang secara teoritis menjaga perekonomian tetap stabil tanpa mendorong atau menekan aktivitas ekonomi secara berlebihan.
Gubernur South African Reserve Bank Lesetja Kganyago mengatakan, ketidakpastian masih menyulitkan bank sentral dalam menentukan besaran suku bunga netral yang baru.
"Masalah saat ini dalam menghitung R-star adalah bintang-bintang tertutup awan, dan awannya begitu tebal. Kita tahu bahwa R-star lebih tinggi, tetapi kita tidak tahu seberapa tinggi," ujar Kganyago.
Kenaikan suku bunga netral berarti tingkat suku bunga yang sebelumnya dianggap cukup tinggi untuk menekan permintaan mungkin tidak lagi memberikan tekanan sebesar perkiraan sebelumnya. Dengan demikian, suku bunga acuan berpotensi bertahan lebih tinggi untuk menjaga stabilitas perekonomian.
"Kemungkinan, rata-rata suku bunga akan sedikit lebih tinggi," kata Kepala Ekonom Bank of England Huw Pill. Bank sentral waspadai tekanan inflasi Bank of Japan telah menyebut peningkatan permintaan terkait AI sebagai salah satu faktor di balik kenaikan suku bunga baru-baru ini. Bank sentral Jepang menilai tekanan harga yang didorong investasi semakin meluas dan bertahan lebih lama.
Sementara itu, para ekonom memperkirakan Bank of England akan menaikkan suku bunga dalam rapat berikutnya pada 5 November. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve (The Fed) juga telah menaikkan suku bunga pada September, sedangkan pasar memperkirakan keduanya kembali mengambil langkah serupa pada Desember. (Selsha Septifanie Gunawan)





Komentar (0)