Sebelas Tahun Berlalu, Republika Soroti Karhutla yang Terus Berulang

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Republika menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang meski persoalan tersebut telah menjadi perhatian publik sejak lebih dari satu dekade lalu. Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin mempertanyakan perubahan yang telah dicapai dalam penanganan karhutla, mengingat dampaknya masih mengancam kehidupan manusia dan satwa liar.

Andi mengangkat kembali potret anak berseragam sekolah yang mengayuh sepeda di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan di Riau, yang pernah menjadi sampul koran Republika 11 tahun lalu. Kini, persoalan serupa kembali mengemuka melalui berbagai pemberitaan tentang kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya terhadap lingkungan.

Baca Juga
  • PT Triputra Agro Persada Tbk Raih ESG NOW Awards 2026 Republika
  • Wamen PPN: ESG Harus Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Laporan
  • Republika Apresiasi Pelaku Program Berkelanjutan via ESG Now Awards 2026, Ini Daftar Pemenangnya

“Sebelas tahun lalu, Republika pernah membuat cover koran kami lahan terbakar di Riau. Seorang anak berseragam sekolah mengayuh sepedanya di tengah kabut asap. Napasnya menyesak,” kata Andi saat membuka ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Dia juga menyinggung kematian orang utan jantan bernama Sempurna di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 30 Agustus lalu. Orang utan tersebut ditemukan dalam kondisi sangat lemah, sempat mendapat bantuan oksigen dan perawatan, tetapi akhirnya meninggal pada hari yang sama.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Hasil pemeriksaan menemukan kerusakan paru-paru yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap. Bagi Andi, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang kehilangan kualitas habitatnya.

“Kalau 11 tahun berlalu dan kita masih melihat penderitaan yang serupa, mungkin ada sesuatu yang harus kita tanyakan ke diri kita sendiri. Apa yang sebenarnya sudah berubah?” ujarnya.

Andi menilai, upaya memperbaiki lingkungan membutuhkan tindakan nyata dan keterlibatan berbagai pihak. Dia mencontohkan Rosita, perempuan yang menggunakan uangnya sendiri untuk memulihkan lahan kritis di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, hingga berkembang menjadi kawasan hutan sekitar 30 hektare dari awalnya hanya 2.000 meter persegi.

Menurut Andi, kisah Rosita menunjukkan perubahan lingkungan dapat dimulai dari inisiatif individu, tanpa harus menunggu hadirnya proyek besar atau dukungan teknologi canggih. Dia juga mengingatkan dunia usaha agar tidak menjadikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekadar laporan, target, atau pernyataan dalam laporan tahunan.

“ESG harus menjawab pertanyaan sederhana, apa yang berubah ketika kita hadir? Apakah lingkungan menjadi lebih baik? Apakah masyarakat menjadi lebih kuat? Apakah pekerja lebih terlindungi? Apakah perusahaan lebih transparan dan bertanggung jawab?” kata Andi.

Melalui ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 bertema Inspiring Impact, Republika mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membahas arah kebijakan dan mendorong praktik keberlanjutan yang menghasilkan dampak terukur. Forum tersebut menghadirkan unsur pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan organisasi masyarakat guna memperkuat transparansi serta kolaborasi lintas sektor.

Republika memberikan apresiasi melalui ESG NOW Awards 2026 dalam kategori Government Track dan Corporate Track. Kategori pemerintah daerah mencakup inovasi pengelolaan sampah, energi terbarukan, tata kelola hutan, dan pariwisata berkelanjutan, sedangkan kategori korporasi mengapresiasi perusahaan yang mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam strategi inti bisnisnya.

Andi berharap praktik baik yang dihasilkan pemerintah daerah, perusahaan, dan komunitas dapat dipelajari serta diterapkan secara lebih luas. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan nyata dalam perlindungan lingkungan agar generasi mendatang tidak terus menghadapi ancaman karhutla dan dampaknya terhadap kehidupan.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Simak! Daftar Tarif Listrik 19-25 Oktober 2026
• 8 jam lalu
0
thumb
11 Orang Terluka Imbas Kericuhan Suporter Persita vs Persija di BIS
• 19 jam lalu
0
thumb
Hacker Bobol Kulkas di Ratusan Supermarket hingga Situs Parpol di Prancis
• 2 jam lalu
0
thumb
Trump Dukung Netanyahu di Tengah Pemilu Israel yang Sengit
• 9 jam lalu
0
thumb
Tim Mabes TNI Verifikasi 7 Koperasi Desa Merah Putih di Sumenep, Pastikan Kesiapan Operasional
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.