Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sembilan hari menjelang pemilihan parlemen Negara Yahudi yang berlangsung sengit.
Dukungan pada Minggu 18 Oktober 2026 itu merupakan sebuah dorongan bagi pemimpin Israel yang tengah berada dalam posisi sulit tersebut, sembilan hari menjelang pemilihan parlemen yang berlangsung sengit.
Dalam sebuah unggahan panjang di Truth Social, Trump menyampaikan pesan kepada “Rakyat Israel yang Hebat,” dengan menegaskan bahwa siapa pun selain Netanyahu akan menjadi “pemimpin yang keliru.”
“Bibi Netanyahu telah menunjukkan sikap yang kuat, berani, dan brilian dalam menghadapi tantangan yang luar biasa, termasuk tantangan yang datang dari dalam Israel sendiri,” tulis Trump, seperti dikutip dari The New York Times, Senin 19 Oktober 2026.
“Terlepas dari semua itu, ia tetap bertahan, bahkan justru semakin berkembang!” tegas Trump.
Hubungan antara Trump dan Netanyahu belakangan ini semakin tegang, terutama terkait upaya bersama kedua negara dalam menghadapi Iran. Namun, dalam pernyataan dukungannya, Trump menyebut Netanyahu sebagai “mitra perdamaian dalam melawan Republik Islam Iran.”
Netanyahu, perdana menteri dengan masa jabatan terlama di Israel, menyampaikan terima kasih kepada Trump atas “dukungan luar biasa dan kerja sama yang telah terjalin.”
“Bersama-sama, kita akan menyelesaikan tugas ini,” tulis Netanyahu di media sosial.
Dukungan ini sejalan dengan kecenderungan Trump untuk terlibat dalam pemilihan umum di negara lain demi memperkuat posisi sekutu-sekutunya, namun langkah ini sangat menyimpang dari norma kebijakan luar negeri Amerika yang telah lama dianut. Biasanya, Presiden Amerika Serikat cenderung menghindari pemberian dukungan secara eksplisit kepada pemimpin negara lain dalam pemilihan umum.
Masyarakat Israel akan memberikan suara pada 27 Oktober dalam pemilihan yang secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Banyak pihak di Israel menyalahkan Netanyahu karena dianggap gagal mencegah serangan yang dipimpin oleh Hamas pada 7 Oktober 2023, serta karena membawa Israel ke dalam isolasi diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya selama perang di Gaza yang menyusul kemudian. Meski demikian, dalam berbagai jajak pendapat, posisi Netanyahu dan sekutunya saat ini bersaing sangat ketat dengan pihak lawan.
Meskipun dinamika hubungan antara Netanyahu dan Trump sangat fluktuatif selama bertahun-tahun, Netanyahu sering menonjolkan pengaruhnya terhadap presiden AS tersebut saat berkampanye di hadapan para pemilih. Menjelang pemilihan umum 2019, Netanyahu bahkan menampilkan foto dirinya sedang bersalaman dengan Trump pada papan reklame berukuran besar di seluruh negeri.
Kedua pemimpin tersebut bekerja sama dengan erat menjelang keputusan untuk melancarkan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, termasuk dalam kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih pada bulan Februari. Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu memaparkan gagasannya kepada Trump dan para pejabat tinggi AS di *Situation Room*, dengan argumen bahwa kampanye militer gabungan AS-Israel dapat memicu pergantian rezim di Iran.
Beberapa penasihat utama presiden sempat menyatakan kepada Trump bahwa analisis Netanyahu tidak masuk akal, namun sang presiden tetap melanjutkan kampanye tersebut.
Hubungan antara kedua pemimpin ini memburuk secara signifikan seiring dengan perang melawan Iran yang berubah menjadi konflik berkepanjangan yang melelahkan dan berdampak buruk pada ekonomi global.
Trump tampak semakin kehilangan kesabaran terhadap konflik tersebut; ia berupaya mewujudkan gencatan senjata dengan Iran serta kelompok Hizbullah di Lebanon, meskipun langkah ini ditentang oleh Israel. Belakangan, Trump mengakui bahwa ia pernah secara pribadi menyebut Netanyahu "gila" terkait tindakan Israel di Lebanon.
Namun, dalam pernyataan dukungannya, Trump justru melontarkan pujian bagi pemimpin Israel tersebut.
"Saya telah mengamati Bibi di masa-masa yang paling sulit," tulis Trump.
"Orang biasa mungkin akan menyerah di bawah tekanan seperti itu, tetapi Bibi tidak menyerah. Ia justru menjadi lebih kuat, dan kekuatan yang sama itu masih ia miliki hingga hari ini,” tegas Trump.
Dukungan dari Trump kemungkinan masih memiliki pengaruh di mata masyarakat Israel, meski mungkin tidak sebesar dulu. Banyak warga Israel memuji Trump karena perannya dalam membebaskan sisa sandera Israel di Gaza tahun lalu, saat timnya membantu menengahi gencatan senjata yang rapuh dengan Hamas.
Di sisi lain, ada pula yang kini memandangnya sebagai pemimpin yang sulit ditebak, yang justru menarik diri di tengah perang melawan Iran—sebuah perang yang sebenarnya diharapkan Israel untuk terus dilanjutkan.
Konflik Israel-Hamas telah mengubah lanskap politik Amerika sejak serangan 7 Oktober, dengan semakin banyaknya pemilih yang tidak menyetujui cara pemerintah Israel menangani perang tersebut.
Tahun lalu, sebuah jajak pendapat dari The New York Times dan Siena University mendapati bahwa, untuk pertama kalinya sejak The Times mulai menanyakan pandangan pemilih mengenai pihak mana yang mereka dukung pada tahun 1998, jumlah pemilih yang memihak Palestina -,dibandingkan dengan yang memihak Israel,- menjadi sedikit lebih besar.





Komentar (0)