Puluhan orang yang hadir, sebagian besar di antaranya anak muda, memerhatikan dengan saksama saat DZ Sandyarto (54) memainkan rinding. Sebilah bambu berukuran sejengkal tangan ia tempelkan ke bibir, lalu tali yang melilit salah satu ujungnya ditarik berulang hingga tercipta resonansi bunyi ”dueng-dueng…”.
Tak hanya memainkannya sendiri, Sandyarto yang akrab disapa Bejo Sandy itu juga mengiringi perwakilan Dinas Pendidikan Kota Malang saat membaca puisi. Kolaborasi keduanya tampak apik.
Malam itu, di halaman Sareng Indonesian Culinary, Malang, Jawa Timur, Sabtu (18/10/2026), Sandy meluncurkan buku berjudul Harpa Mulut Nusantara di Jawa dan Bali-Studi Teknik, Ragam, dan Kontens Budaya (Sebuah Kajian Etnomusikologi).
Karya tersebut berangkat dari kegelisahan sekaligus kekaguman mendalam terhadap sebuah getaran sunyi yang lahir dari alat musik yang berkembang di Jawa dan Bali. Di balik bentuknya yang sederhana, instrumen itu menyimpan jejak peradaban agraris di Nusantara.
Buku setebal 236 halaman tersebut memuat hasil penelitian Sandy selama enam bulan, sejak April hingga September 2026. Ia menelusuri bagaimana instrumen berbahan bambu atau pelepah aren yang disebut harpa mulut itu merajut hubungan antara manusia dan alam, kehidupan agraris, spiritualitas, hingga komunikasi.
Sebagai seniman yang lahir di Ambon dan lama menetap di Malang, Sandy telah cukup lama menggeluti rinding. Bahkan, ia telah memetakan sedikitnya 19 jenis harpa mulut sejenis rinding di Nusantara, salah satunya berasal dari Biak, Papua.
Di Malang sendiri, rinding umumnya memiliki ketebalan sekitar 0,3 sentimeter, lebar 2 sentimeter, dan panjang sekitar 30-40 sentimeter.
Tak hanya berbekal pergulatan selama satu dasawarsa terakhir, Sandy juga menjelajah berbagai daerah, mulai dari Buahbatu, Ujungberung, Tasikmalaya, dan Sumedang di Jawa Barat; Banten; Wonogiri, Jawa Tengah; Gunungkidul, DI Yogyakarta; Karangasem, Bali; hingga sejumlah daerah lainnya.
Di daerah-daerah itu, Sandy menemui puluhan narasumber untuk menggali lebih jauh mengenai rinding sekaligus menguji hipotesisnya tentang nasib alat musik yang telah hidup sejak lama tersebut. Narasumber yang ditemuinya merupakan para ”maestro” yang tidak hanya memiliki rinding, tetapi juga membuat dan memainkannya.
”Jadi kita menggali apakah sampai 2026 ini masih ada? Ternyata, alhamdulillah, masih ada. Walaupun kalau saya boleh jujur, dari 46 maestro-maestro tadi, sekitar 10 orang di antaranya menyatakan, ’Kami adalah generasi terakhir.’ Bagaimana keberlanjutannya menjadi pertanyaan,” ucapnya.
Rinding dikenal hampir di seluruh wilayah Jawa. Masyarakat Jawa Barat dan Banten menyebutnya karinding. Sementara itu, di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, alat tersebut dikenal sebagai rinding. Adapun di Bali, instrumen serupa disebut genggong.
”Di Jawa Barat secara filosofi, dia kuat sekali. Ada tiga filosofi, yakni sadar, sabar, dan yakin. Itu keren filosofinya. Bahkan, ada yang berhubungan dengan pertanian, AIUEO atau aksara vokal, dan lainnya,” kata Sandy.
Instrumen yang dulu erat dengan kehidupan masyarakat agraris itu perlahan memudar dan terlupakan. Bahkan, banyak generasi muda kini tak lagi mengenalnya.
Dahulu, anak-anak kerap memainkannya saat berada di persawahan atau menggembala ternak di tepi hutan. Rinding juga digunakan untuk mengiringi berbagai ritual dalam aktivitas pertanian. Kini, kebiasaan serupa semakin jarang ditemukan.
Persoalan lain adalah regenerasi. Menurut Sandy, belum banyak orang yang benar-benar meneruskan pengetahuan tentang rinding secara utuh. Mereka yang baru mengenal dan menggeluti alat musik tersebut umumnya bukan pencerita yang memahami sejarah instrumen itu.
”Maaf ya, itu kekurangannya. Mereka juga bukan pembuat, hanya memainkan. Rata-rata teman-teman banyak yang terjebak di sini. Sehingga akhirnya, tidak ada yang membuat, lalu bagaimana?” tutur Sandy.
Ia berharap bukunya dapat memberikan sumbangan bagi upaya pelestarian rinding.
Pemerhati sejarah Agung H Buana, yang hadir dalam peluncuran buku tersebut, mengatakan, apabila membaca sejumlah referensi, harpa mulut kerap dipahami dalam kerangka yang sangat Eropa, matematis, dan logis. Namun, di tengah masyarakat Nusantara, bambu justru menjadi bagian dari hubungan manusia dengan energi alam.
”Energi agraris yang menunjukkan bahwa kita hidup dalam keseimbangan, baik keseimbangan alam semesta, keseimbangan kehidupan pribadi, maupun keseimbangan bagi sekitar,” katanya.
Menurut Agung, Sandy mencoba menunjukkan bagaimana sebuah alat yang merepresentasikan alam mengembalikan kembali energinya kepada alam.
Dengan demikian, energi itu tidak hilang, melainkan berubah bentuk dan kembali menyapa manusia dengan cara yang lebih dalam.






Komentar (0)