Daftar Saham yang Masih Dibeli Asing saat IHSG Jeblok, Ada GOTO

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy di saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencapai Rp 288 miliar di tengah ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (16/10). Harga saham GOTO tercatat turun  7,41% ke level Rp 25.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, GOTO menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan dari segi volume mencapai 42,68 miliar atau lebih dari 60% jumlah saham yang diperdagangan pada perdagangan akhir pekan lalu. Nilai transaksi sahamnya juga masuk dalam 10 besar dengan nilai mencapai Rp 1,03 triliun. 

Transaksi tersebut didominasi oleh investor asing. Investor asing mencatatkan transaksi beli di saham GOTO sebesar Rp 537 miliar, sedangkan jual sebesar Rp 238,9 miliar.

Adapun secara keseluruhan, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell di pasar saham Indonesia sebesar Rp 3,3 triliun pada Jumat (16/10). Net sell oleh investor sepanjang tahun ini bahkan mencapai Rp 88 triliun, dengan IHSG telah anjlok 40%. 

Investor asing tercatat paling banyak melakukan aksi jual bersih atau net sell di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 2,3 triliun. Di susul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 1,15 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 868 miliar.

Di sisi lain, terdapat sejumlah saham yang juga masih dibeli oleh investor asing. Selain GOTO, transaksi beli bersih atau net buy dicatatkan investor asing di saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 75,66 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 58,6 miliar. 

Investor asing juga mencatatkan net buy di saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 57,83 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp 57,7 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 56,42 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 54,44 miliar. 

Harga GOTO Turun Setengah Sejak Aturan Saham Rp 1

Harga saham GOTO telah turun 50% sejak berlakunya aturan batas minimal harga saham diubah dari Rp 50 menjadi Rp 1 pada 28 September 2026. Saat aturan ini berlaku, saham GOTO tersungkur hingga masuk ke level auto reject bawah (ARB)  selama tiga hari berturut-turut.

Research Analyst Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga sebelumnya menilai investor tak perlu panik melihat pergerakan saham GOTO yang berada di bawah Rp 50. Menurutnya, harga GOTO turun di bawah gocap sudah sesuai ekspektasi sejak perubahan aturan perdagangan diumumkan.

Ia justru menilai penghapusan batas harga Rp 50 sebagai perkembangan positif bagi saham GOTO dalam jangka panjang. Menurutnya, harga saham yang dapat bergerak mengikuti permintaan dan penawaran membuat pasar memiliki ruang untuk membentuk harga secara lebih terbuka.

Tak hanya itu, Aditya mengatakan kejelasan harga menjadi penting, terutama bagi investor institusi yang mempertimbangkan masuk ke suatu saham. Mereka dapat menilai harga masuk, risiko, dan peluang keluar dari posisi investasi berdasarkan transaksi yang terbentuk dan dapat diamati di pasar.

“Sekarang proses price discovery terlihat lebih jelas, investor dapat menilai pada harga berapa saham GOTO benar-benar diperdagangkan, lalu menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan investasi,” ujar Aditya.

Dengan dibukanya batas harga ke Rp 1, Aditya memperkirakan transaksi GOTO berpeluang naik di pasar reguler. Di sisi lain, ia juga memproyeksikan harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan. 

Ia mencatat GoTo telah membukukan laba bersih positif selama dua kuartal berturut-turut, sedangkan pendapatan dan profitabilitas perseroan terus membaik.

Menurut Aditya, volatilitas masih berpotensi terjadi hingga pasar menemukan keseimbangan harga baru. Namun, jika likuiditas di pasar reguler pulih dan kinerja GoTo terus membaik, fundamental perusahaan dapat kembali menjadi faktor utama yang diperhatikan investor dalam menilai saham GOTO.

Sebelumnya Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny mengatakan kinerja bisnis perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal kedua 2026, GOTO mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, kinerja positif selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp 1 triliun. 

“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” ucapnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cara Memilih Cleanser yang Tepat Sesuai Kondisi Kulit, Jangan Asal Pilih
• 3 jam lalu
0
thumb
2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Jangkau 57 Juta Penerima Manfaat
• 3 jam lalu
0
thumb
Asap Karhutla Terdeteksi di Jakarta, Anggota DPRD Minta Pemerintah Berikan Informasi Akurat agar Warga Tidak Panik
• 4 jam lalu
0
thumb
Dampak Kabut Asap Indonesia Terhadap Pariwisata Singapura: Aktivitas Wisata Luar Ruangan Sepi
• 5 jam lalu
0
thumb
Prabowo Bertemu Sekjen PBB Guterres di Hambalang, Bahas Masalah Global
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.