Dampak Kabut Asap Indonesia Terhadap Pariwisata Singapura: Aktivitas Wisata Luar Ruangan Sepi

narasi.tv
6 jam lalu
Cover Berita

Kabut asap Indonesia yang menyelimuti Singapura mulai berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata Singapura, khususnya pada kegiatan wisata luar ruangan.

Sejumlah operator wisata yang menyelenggarakan tur outdoor melaporkan adanya penurunan pemesanan antara 10 hingga 30 persen. Wisatawan internasional maupun lokal cenderung menunda atau membatalkan rencana perjalanan mereka karena kekhawatiran terhadap kondisi udara yang memburuk akibat polusi.

Pemesanan untuk aktivitas seperti tur berjalan kaki dan tur menggunakan skuter listrik mengalami penurunan yang cukup kentara. Tur skuter listrik, yang biasanya menempuh jarak 8 hingga 10 kilometer di area terbuka, menjadi kurang diminati karena wisatawan harus berada di luar ruangan dalam waktu yang lama.

Kabut asap juga berdampak pada penyelenggaraan berbagai acara internasional di Singapura, termasuk Grand Prix Formula 1 yang diadakan pada tanggal 9 hingga 11 Oktober 2026.

Meskipun balapan tetap berjalan sesuai jadwal, kualitas udara yang menurun memengaruhi pengalaman pengunjung secara keseluruhan. Banyak wisatawan dan peserta konferensi yang hadir saat itu melaporkan ketidaknyamanan akibat udara yang panas, lembap, dan pengap.

Selain itu, kabut asap yang menyelimuti udara dan landmark populer Kota Singa mengurangi kualitas visual dan estetika selama acara berlangsung. Hal ini dapat menurunkan nilai pengalaman wisatawan, terutama bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan kota yang biasanya ikonik.

Data dari Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menunjukkan bahwa indeks pencemaran udara 24 jam (Pollutant Standards Index/PSI) sempat mencapai angka 134 hingga 192, yang masuk dalam kategori tidak sehat.

Pada awal September 2026, PSI sudah menyentuh angka 101 di wilayah pusat, menandai risiko kesehatan yang mulai muncul dan legitimasi kekhawatiran terhadap paparan kabut asap yang berkepanjangan.

Dampak terhadap Bisnis Wisata Bahari dan Tur Kota

Selain tur luar ruangan di darat, bisnis wisata bahari di Singapura juga merasakan dampak dari kabut asap. Salah satu contohnya adalah perusahaan penyewaan yacht yang mengalami penurunan pemesanan hingga 30 persen sejak September 2026.

Penurunan ini cukup signifikan mengingat sektor tersebut biasanya menerima banyak wisatawan asing, termasuk dari China, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Perbedaan utama antara tur kapal pesiar dan tur kota terletak pada durasi dan fleksibilitas rute. Penyewaan yacht biasanya berlangsung selama minimal empat jam di perairan terbuka, sehingga pelanggan harus menghadapi kondisi udara di luar tanpa perlindungan.

Hal ini berbeda dari tur kota yang dapat dengan mudah melakukan penyesuaian rute atau beralih ke destinasi dalam ruangan saat kualitas udara memburuk. Oleh sebab itu, aktivitas wisata bahari memiliki keterbatasan dalam mengatasi perubahan cuaca dan polusi udara yang mendadak.

Penurunan pemesanan juga terjadi di waktu liburan nasional beberapa negara, seperti libur Hari Nasional China, yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisatawan asal negara tersebut di Singapura. 

Meski demikian, ada juga tur kota dengan durasi yang lebih singkat, seperti perjalanan kapal pesiar selama 40 menit di Sungai Singapura, yang belum menunjukkan perubahan bisnis yang signifikan. Durasi singkat ini memungkinkan wisatawan tetap merasa nyaman meskipun kondisi udara kurang bersahabat, karena waktu paparan yang relatif pendek.

Implikasi Jangka Panjang dan Tindakan Pemerintah

Kondisi kabut asap yang sering berulang berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap daya tarik wisata Singapura dalam jangka panjang. Apabila penurunan kualitas udara terjadi secara musiman dan berkepanjangan, kegiatan pariwisata internasional dapat terganggu, mengakibatkan kerugian ekonomi dan penurunan posisi Singapura sebagai destinasi wisata unggulan di Asia Tenggara.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Singapura telah mengambil sejumlah langkah mitigasi dan kebijakan.

Pada 12 Oktober 2026, pemerintah mengaktifkan kembali program Haze Benefit untuk pertama kali sejak tahun 2015. Program ini bertujuan menyediakan dukungan perawatan kesehatan bagi masyarakat yang terkena dampak penyakit akibat polusi udara seperti asma, bronkitis, konjungtivitis, dan infeksi saluran pernapasan.

Penanganan dampak kesehatan menjadi prioritas utama untuk menjaga kesejahteraan penduduk dan wisatawan yang berada di wilayah terdampak.

Selain itu, pemerintah dan penyelenggara acara mulai mempertimbangkan untuk menyesuaikan lokasi kegiatan, menambah anggaran untuk asuransi terkait risiko kesehatan, serta menyediakan fasilitas dalam ruangan yang memadai sebagai alternatif utama. Hal ini penting untuk menjamin kelangsungan acara internasional tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan para peserta.

Dampak kabut asap juga meluas ke negara tetangga seperti Malaysia. Operator tur di Malaysia melakukan penyesuaian dengan mempersingkat durasi aktivitas luar ruangan dan mengalihkan agenda wisata ke destinasi dalam ruangan seperti pusat perbelanjaan dan museum.

Kebijakan ini menjadi bentuk adaptasi industri pariwisata terhadap kondisi lingkungan yang menantang, sekaligus menjaga kepuasan dan kesehatan wisatawan selama berada di negara tujuan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BI Ungkap 3 Strategi Perkuat Ekonomi Syariah, Dorong UMKM hingga Digitalisasi
• 6 jam lalu
0
thumb
3 Pelatih Klub BRI Super League yang Sudah Kena Pecat: Jean-Paul van Gastel Korban Terkini
• 5 jam lalu
0
thumb
BNPP: Biak Numfor berpotensi jadi pusat pariwisata di Pasifik
• 5 jam lalu
0
thumb
Sebelum Izinkan Anak Menginap di Rumah Teman, Ini yang Perlu Ayah Bunda Pastikan
• 6 jam lalu
0
thumb
Peneliti Rusia Meninggal Dunia secara Misterius, Analisis: Penelitian Pes Era Soviet Menyimpan Tanda Tanya
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.