Indonesia Dinilai Punya Peluang Jadi Negara Mandiri di Bidang Pangan Lewat Benih Unggul

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Perjuangan 28 tahun peneliti Ali Zum Mashar mengembangkan inovasi pangan mendapat apresiasi dari salah satu stasiun tv swasta. Ali menerima Anugerah Pahlawan Pangan atas dedikasinya mengembangkan teknologi dan varietas unggul.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan Ali dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Ia mendedikasikan puluhan tahun penelitian untuk membantu petani menghadapi berbagai persoalan lahan.

Baca Juga :
Asesmen 92% Rampung: 1.378 Sekolah Terdampak Gempa Flores, Mayoritas Belajar dari Rumah
Pascagempa NTT, Pusdokkes Polri Layani 120 Warga di Posko Pengungsian Reo

Perjalanan Ali bermula dari kegelisahan melihat petani mengolah lahan gambut yang asam. Pengalaman tersebut membuatnya mencari solusi agar lahan sulit dapat kembali produktif.

Saat terlibat dalam pembukaan lahan gambut sejuta hektare pada masa Presiden Soeharto, Ali mendampingi petani transmigrasi. Dari pengalaman tersebut, muncul pertanyaan yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya dalam penelitian pangan.

“Kalau tanahnya ada, petaninya ada, tetapi tanah itu tidak mampu menghasilkan pangan, lalu apa yang harus kita lakukan?” ujar Ali dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 22 Agustus 2026. 

Dalam perjalanan penelitian, Ali menemukan kumpulan mikroba yang hidup di lingkungan gambut. Mikroba tersebut kemudian dikembangkan menjadi teknologi pupuk MIGO Phosmit Bio P2000Z atau Mikroba Google.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu memperbaiki kondisi lahan yang sulit. Ali kemudian melanjutkan penelitian dengan mengembangkan benih unggul yang mampu tumbuh di lahan gambut asam.

Setelah penelitian panjang, lahirlah empat varietas unggul kedelai tropis non-GMO MIGO GARUDA. Empat varietas tersebut kemudian resmi memperoleh sertifikat pelepasan dari Kementerian Pertanian.

Selain kedelai, Ali mengembangkan 12 varietas padi super ultra genjah trisakti. Varietas tersebut dikembangkan dengan umur panen sekitar dua hingga dua setengah bulan.

Menurut Ali, perpaduan perbaikan tanah dan benih unggul dapat meningkatkan frekuensi tanam. Kedelai MIGO disebut berpotensi dipanen tiga kali setahun, sedangkan Padi Trisakti empat kali.

Namun, perjalanan penelitian Ali tidak selalu berjalan mudah. Ketika tidak memperoleh sponsor penelitian, ia mengorbankan harta pribadi untuk membiayai penelitian dan berbagai uji coba.

“Saya pernah menjual cincin kawin, menjual rumah dan tanah warisan di kampung, untuk membiayai penelitian,” kata Ali.

Ali menganggap pengorbanan tersebut tidak sebanding dengan perjuangan para pahlawan Indonesia. Karena itu, ia ingin meneruskan semangat perjuangan melalui upaya mewujudkan Indonesia berdaulat pangan.

Baca Juga :
FIFA Hukum Paredes 10 Laga usai Keributan Final Piala Dunia, Argentina Kena Denda Rp5,67 Miliar
Kebakaran Hutan, Otoritas Bandara Pastikan Layanan Penerbangan di Samarinda Masih Aman
Taman Nasional Way Kambas Kebakaran, Pemadaman Terkendala Akses yang Dilalui

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Perkuat Perlindungan Penyintas, 34 Korban Terorisme Terima Bantuan
• 4 jam lalu
0
thumb
Sekolah Garuda Asah Talenta Jadi Pemain Utama Pasar Dunia
• 19 jam lalu
0
thumb
BNI wondrX 2026 Hadirkan Solusi Traveling Lengkap, dari Tiket hingga Visa dalam Satu Zona Travel
• 9 jam lalu
0
thumb
BSN Gandeng BAZNAS, Bayar Zakat hingga Infak Kini Bisa via Mobile Banking
• 10 jam lalu
0
thumb
Hilirisasi Nasional Bakal Garap Kabel Bawah Laut, Jadi Persiapan Ekspor Listrik Singapura?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.