Jakarta, VIVA – Perjuangan 28 tahun peneliti Ali Zum Mashar mengembangkan inovasi pangan mendapat apresiasi dari salah satu stasiun tv swasta. Ali menerima Anugerah Pahlawan Pangan atas dedikasinya mengembangkan teknologi dan varietas unggul.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan Ali dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Ia mendedikasikan puluhan tahun penelitian untuk membantu petani menghadapi berbagai persoalan lahan.
Perjalanan Ali bermula dari kegelisahan melihat petani mengolah lahan gambut yang asam. Pengalaman tersebut membuatnya mencari solusi agar lahan sulit dapat kembali produktif.
Saat terlibat dalam pembukaan lahan gambut sejuta hektare pada masa Presiden Soeharto, Ali mendampingi petani transmigrasi. Dari pengalaman tersebut, muncul pertanyaan yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya dalam penelitian pangan.
“Kalau tanahnya ada, petaninya ada, tetapi tanah itu tidak mampu menghasilkan pangan, lalu apa yang harus kita lakukan?” ujar Ali dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 22 Agustus 2026.
Dalam perjalanan penelitian, Ali menemukan kumpulan mikroba yang hidup di lingkungan gambut. Mikroba tersebut kemudian dikembangkan menjadi teknologi pupuk MIGO Phosmit Bio P2000Z atau Mikroba Google.
Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu memperbaiki kondisi lahan yang sulit. Ali kemudian melanjutkan penelitian dengan mengembangkan benih unggul yang mampu tumbuh di lahan gambut asam.
Setelah penelitian panjang, lahirlah empat varietas unggul kedelai tropis non-GMO MIGO GARUDA. Empat varietas tersebut kemudian resmi memperoleh sertifikat pelepasan dari Kementerian Pertanian.
Selain kedelai, Ali mengembangkan 12 varietas padi super ultra genjah trisakti. Varietas tersebut dikembangkan dengan umur panen sekitar dua hingga dua setengah bulan.
Menurut Ali, perpaduan perbaikan tanah dan benih unggul dapat meningkatkan frekuensi tanam. Kedelai MIGO disebut berpotensi dipanen tiga kali setahun, sedangkan Padi Trisakti empat kali.
Namun, perjalanan penelitian Ali tidak selalu berjalan mudah. Ketika tidak memperoleh sponsor penelitian, ia mengorbankan harta pribadi untuk membiayai penelitian dan berbagai uji coba.
“Saya pernah menjual cincin kawin, menjual rumah dan tanah warisan di kampung, untuk membiayai penelitian,” kata Ali.
Ali menganggap pengorbanan tersebut tidak sebanding dengan perjuangan para pahlawan Indonesia. Karena itu, ia ingin meneruskan semangat perjuangan melalui upaya mewujudkan Indonesia berdaulat pangan.






Komentar (0)