Dolar AS Turun, Kini di Level Terendah 3 Bulan

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menuju kinerja mingguan terburuknya sejak akhir Juli, tertekan oleh kekhawatiran fiskal yang mendalam. Intervensi tak terduga oleh Departemen Keuangan AS untuk membendung aksi jual tajam pada obligasi tenor panjang juga memicu kekhawatiran bahwa langkah semacam itu dapat membebani mata uang AS tersebut.

Dikutip dari Investing, Sabtu, 22 Agustus 2026, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan mata uang utama dunia tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,1 persen ke level 98,80, tertahan di dekat level terendah tiga bulan. Indeks ini mencatatkan penurunan mingguan sebesar 0,9 persen. Pasar obligasi menjadi sorotan Para pelaku pasar mata uang telah memusatkan perhatian pada sektor pendapatan tetap (fixed-income) minggu ini.

Sebelum hari Rabu, obligasi Treasury AS tenor panjang khususnya telah mengalami aksi jual—yang kira-kira berlangsung sejak keputusan suku bunga Federal Reserve bulan Juli—akibat kekhawatiran inflasi karena kenaikan harga minyak dan kekhawatiran mengenai besarnya jumlah utang yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa untuk mendanai belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mereka. 

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun pada hari Selasa mencapai level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,337 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun mencetak rekor tertinggi baru dalam 52 minggu di angka 4,748 persen.

Obligasi dengan tenor lebih pendek mencatatkan kinerja yang jauh lebih baik, didukung oleh data ekonomi terkini yang mengurangi ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Baca Juga :

Wall Street Naik Tipis di Tengah Tekanan Jual Pasar Obligasi

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Kemudian, pada hari Rabu, Departemen Keuangan AS menyatakan akan meningkatkan nilai pembelian kembali (buyback) utang pemerintah jangka panjang menjadi setidaknya USD4 miliar dari sebelumnya USD2 miliar. Intervensi tak terduga ini memicu reli pada obligasi jangka panjang yang menyebabkan imbal hasil turun. 

Namun, sebagian besar kenaikan tersebut kembali hilang pada hari Kamis dan Jumat, yang mengindikasikan bahwa para pedagang memandang langkah itu hanya sebagai solusi jangka pendek. Kekhawatiran fiskal akibat berita bahwa utang AS telah melampaui USD40 triliun juga turut membebani sentimen pasar.

Terakhir, imbal hasil tenor 30 tahun naik 3,9 basis poin menjadi 5,276 persen, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 4,738 persen.

Kini, perhatian tertuju pada Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan depan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga. Euro dan poundsterling menguat, yen hentikan penurunan Beralih ke mata uang lainnya, mata uang utama Eropa mendapat keuntungan dari pelemahan dolar selama sepekan, melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan yang signifikan.

Euro terakhir diperdagangkan pada level USD1,1679, bertahan di dekat level tertinggi sejak 14 Mei setelah naik satu persen sepanjang pekan ini. Sterling berada di posisi USD1,3646 dengan kenaikan mingguan sebesar 0,8 persen. Data pemerintah Inggris sebelumnya menunjukkan inflasi konsumen tahunan utama (headline) meningkat pada bulan Juli dibandingkan bulan Juni.

Di Asia, yen Jepang diperkirakan akan menghentikan pelemahan terhadap dolar menyusul intervensi gabungan bersejarah oleh otoritas di Washington dan Tokyo pada akhir Juli. Pasangan mata uang USD/JPY turun 0,2 persen sepanjang minggu tersebut.

Pada hari Jumat, yen mendapat dukungan dari data yang menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang naik menjadi 1,8 persen pada bulan Juli, disertai dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor swasta yang kuat; hal ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan pada bulan September.

Sementara itu, Won Korea Selatan mencatatkan kinerja terbaik di kawasan tersebut pada hari Jumat, dengan pasangan USD/KRW turun 0,5 persen ke level terendah sejak 18 September 2025.

Won menutup minggu dengan lonjakan signifikan sebesar 2,1 persen, didorong oleh kuatnya permintaan luar negeri terhadap aset-aset yang terkait dengan sektor teknologi serta menyempitnya selisih imbal hasil (yield spread) obligasi AS.

Di sisi lain, rupee India terus berada di bawah tekanan berat. Pasangan USD/INR diperdagangkan datar pada hari Jumat, menutup minggu dengan kenaikan 0,3 persen, karena aktivitas lindung nilai (hedging) yang besar oleh importir dan melonjaknya biaya energi mengimbangi intervensi pasar spot yang dilakukan oleh Reserve Bank of India.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Negara ASEAN Belajar Mengelola Keberagaman dari Indonesia
• 1 jam lalu
0
thumb
Ada Tawuran Warga di Manggarai, KRL Jurusan Bogor Sempat Tertahan
• 17 jam lalu
0
thumb
Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Status Terdakwa Berlanjut ke Persidangan | KOMPAS SIANG
• 18 jam lalu
0
thumb
Rony, Pelaku Perusakan Rumah Kiai NU di Arcamanik Bandung Jadi Tersangka
• 20 jam lalu
0
thumb
BeauPicks: 5 Rekomendasi Serum Bulu Mata agar Tampak Lebih Panjang dan Tebal
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.