Ribuan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar aksi Pray for NTT dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Lapagan Fisipol, Unesa, Surabaya, pada Jumat (21/8/2026).
Dr. Harmanto Wakil Dekan I FISIPOL Unesa mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa baru terhadap kondisi masyarakat terdampak gempa.
“Jadi kita ajak untuk punya kepedulian sosial terhadap teman-teman kita, saudara-saudara kita yang ada di NTT yang sekarang terkena musibah gempa,” katanya.
Harmanto mengatakan, penggalangan bantuan tidak hanya dilakukan pada PKKMB, tapi fakultas akan melanjutkan pengumpulan donasi pada pekan depan dengan melibatkan mahasiswa lama yang masih aktif.
“Ini hanya pembukaan saja sebagai momentum di PKKMB, baru nanti kita tindak lanjuti minggu depan setelah perkuliahan,” ucapnya.
Bantuan tersebut rencananya, akan disalurkan melalui relawan Unesa maupun lewat lembaga resmi kemanusiaan. Mekanisme penyaluran bantuan tersebut saat ini masih dikoordinasikan dengan pihak rektorat Unesa.
Sementara itu, M. Hisyam Asrofi Ketua BEM FISIPOL Unesa mengatakan, dalam aksi Pray for NTT tersebut mahasiswa juga mengenakan pita hitam di lengan kiri sebagai simbol duka atas kondisi masyarakat yang terdampak bencana.
“Simboliknya adalah berpakaian dan memakai pita hitam di lengan kiri menandakan bahwasanya Indonesia sedang berduka dan tidak baik-baik saja,” ucapnya.
Ia mengatakan, bantuan yang dikumpulkan mahasiswa bukan hanya berupa uang, tetapi juga barang-barang yang bermanfaat untuk masyarakat terdampak gempa, salah satunya pakaian.
Pihaknya memastikan, BEM FISIPOL akan mengawal proses penyaluran bantuan agar berlangsung transparan.
“Untuk penyaluran bantuannya kita serahkan kepada fakultas dan kita menuntut fakultas untuk transparansi akan hal itu. Dan kita komitmen untuk mengawal transparansi ini sampai akhir,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyatakan bahwa aksi Pray for NTT bukan hanya dilakukan untuk mengumpulkan bantuan, tetapi juga untuk mendorong pemerintah agar lebih sigap menangani dampak bencana yang terjadi di berbagai daerah.
“Aksi dari mahasiswa ini bukanlah sebuah perlawanan untuk negara, tapi rasa cinta kita untuk menyayangi negeri ini agar bisa lebih baik ke depannya,” pungkasnya.(ris/wld/iss)




Komentar (0)