Indonesia Rawan Gempa, Apa Penyebabnya?

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, menyisakan dampak yang besar bagi masyarakat. Sejumlah wilayah masih menghadapi kerusakan, korban jiwa, serta ribuan warga yang harus mengungsi di tengah aktivitas gempa yang masih terjadi.
Indonesia di cincin api
Cincin api, ini merupakan salah satu negara kita, Indonesia, dengan aktivitas gunung api tertinggi di dunia karena berada di kawasan Ring of Fire. Ring of Fire merupakan rantai gunung berapi dan zona seismik yang berbentuk sabuk mengelilingi Samudra Pasifik dimulai dari Amerika Selatan, Chile, ke bagian utara Amerika, Alaska, sampai dengan  Jepang, dan masuk ke Indonesia, kemudian melingkar lagi sampai ke wilayah Selandia Baru. Tentunya ini merupakan titik di mana hampir 90% gempa tektonik terjadi di Cincin Api.

Di Indonesia terdapat 127 gunung api aktif yang terdiri dari 77 gunung tipe A, 29 tipe B, dan juga 21 tipe C. A ini merupakan gunung api yang pernah mengalami erupsi sejak tahun 1600. Contohnya, kalau di Indonesia ada Gunung Merapi, kemudian juga ada Gunung Semeru di Jawa Timur, dan juga Gunung Anak Rakatau yang berada di Selat Sunda. Kalau tipe B, ini adalah gunung api yang tidak tercatat mengalami erupsi sejak 1600, tapi masih menunjukkan adanya aktivitas vulkanik. Contohnya, ada Gunung Salak di Jawa Barat dan juga Gunung Patuha yang berada di Jawa Barat. 

Baca Juga :

Daftar Wilayah Indonesia yang Masuk Zona Ring of Fire
Sedangkan untuk gunung api tipe C, ini merupakan gunung api yang tidak memiliki catatan erupsi sejarah dan saat ini tidak menunjukkan adanya aktivitas magmatik yang jelas. Namun, masih memiliki ciri-ciri sebagai gunung api. Contohnya ada Kawah Ratu di Jawa Barat dan juga Gunung Pucuk Mandala di Papua. 

Status ABC ini bukan menunjukkan tingkat bahaya secara langsung, melainkan klasifikasi berdasarkan rewet erupsi dan juga aktivitas vulkaniknya. Inilah yang membuat Indonesia memiliki potensi aktivitas vulkanik dan gempa bumi yang tinggi sehingga kesiap siaga dan mitigasi bencana menjadi hal yang sangat penting.
Gempa M7,7
Pada beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 15 Agustus di pukul 4.58 WIB, ketika matahari bahkan belum sampai ke ufuk. Gempa bumi ini dengan maktitude 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Gempa ini tergolong gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 15 km dan BMKG pun menjelaskan gempa dipicu aktivitas tektonik pada Flores Back Ark dengan mekanisme pergirakan naik atau truss fault karena kekuatan gempa dan mekanisme pergirakannya.

Gempa ini juga memicu potensi tsunami yang pada akhirnya sekitar pukul 7.30 WIB, akhirnya tsunami ini pun terdeteksi di sejumlah lokasi dan dicabut dulu oleh BMKG. Baru setelah itu ada terdeteksi tsunami dengan ketinggiannya beragam, yang paling tinggi adalah 1,6 meter terjadi di Pota Manggarai Timur. 

Baca Juga :

DPR Usul Pembentukan Lembaga "Super Body" untuk Penanganan Bencana
Gempa susulan
Dari gempa yang terjadi 7,7 ini, ternyata gempa susulan juga masih terjadi dan juga belum berhenti. Bahkan sampai dengan Kamis kemarin, tepatnya pada 19 Agustus  BMKG mencatat ada 3.002 gempa susulan. Sementara sampai dengan Rabu sore sudah terjadi sebanyak 3.055 kali. Artinya ribuan gempa susulan terjadi dan ini dirasakan di sejumlah titik. Magnitudenya juga beragam, mulai dari 1,1 sampai dengan 6,2. 

Dari jumlah ini pun 25 gempa memiliki magnitude di atas 5, sementara 86 gempa dirasakan oleh masyarakat. Artinya masyarakat juga masih sangat khawatir dengan adanya situasi yang cukup fluktuatif dan juga mengganggu aktivitas mereka yang sampai dengan saat ini pun masih menunggu bantuan datang.
Dampak gempa M7,7
Sedikitnya 71 orang meninggal dunia dan 759 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu ada 59.647 warga masih mengungsi. Karena rumah mereka masih mengalami kerusakan atau kondisi lingkungan yang dinilai masih begitu berisiko. Sehingga kerusakan terjadi pada rumah warga, fasilitas umum, dan juga infrastruktur di sejumlah wilayah. Data kerusakan juga terus diperbarui karena petugas masih melakukan asesmen dan pendataan di lapangan. 

Dampak dari bencana ini pun semakin besar karena gempa utama juga memicu tsunami dan terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di 4 provinsi dan ketinggiannya pun tadi juga sudah kita katakan sekitar 1,6 meter di Pota Manggarai Timur.

Bencana ini memiliki rangkaian dampak yang ternyata cukup besar  mulai dari guncangan gempa, kemudian juga korban jiwa, kerusakan, pengungsian, sampai dengan tsunami. Dan inilah yang membuat penanganan bencana tidak berhenti setelah guncangan utama berakhir dan terus dilakukan oleh pihak dari pemerintah. 

Baca Juga :

Kemensos Dirikan 3 Dapur Umum Layani Korban Gempa Manggarai Timur
Kenapa Flores rawan gempa?
Yang menjadi pertanyaan kenapa kawasan Flores rawan gempa? Jawabannya adalah terkait dengan kondisi teknonik di kawasan ini. Terutama di Pulau Flores dan juga sekitarnya. Secara geologis, Flores ini berada di wilayah yang dipengaruhi dengan zona subduksi. Ini merupakan proses ketika suatu lempeng tektonik bergerak menunjam ke bawah lempeng tektonik lainnya.
Ada tabrakan di sana. Kalau kita lihat di Flores, lempeng Australia ini bergerak dan menunjam ke bawah lempeng di bawah Indonesia. Pergerakan ini dapat menimbulkan tekanan dan pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi.

Flores juga berada di kawasan pertemuan lempeng Indo-Australia atau lempeng Australia dengan lempeng Eurasia. Jadi lebih besar lagi lempengnya. Selain subduksi, juga terdapat pula sesar aktif di sekitar Flores.

Dan sesar aktif ini adalah retakan atau zona patahan di kerak bumi yang masih dapat bergerak dan juga memicu gempa. Tentunya, dengan kondisi geologis ini, membuat Flores memiliki riwayat gempa dan tsunami. Karena itulah potensi gempa susulan ini harus diantisipasi.

Di mana kesiap-siagaan dari masyarakat, pemahaman soal jalur evakuasi, dan ketataan pada informasi atau ketatan pada informasi resmi menjadi kunci untuk bisa mengurangi dampak dan juga resiko. Sehingga masyarakat diminta untuk terus memastikan  bahwa informasi yang Anda dapatkan itu adalah informasi yang benar-benar resmi keluar dari jalur-jalur yang resmi. Dan jangan sampai mudah untuk menyebarkan hoaks pemirsa.

Sumber: Badan Geologi-KESDM/PVMBG/BMKG


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dokter Tifa Sebut Ada Pasal Selundupan dan Overcharging dalam Praperadilan Perkara Ijazah Jokowi
• 2 jam lalu
0
thumb
Kuasa Hukum Buka Suara soal Isu Pelecehan Seksual yang Menyeret Nama El Rumi
• 42 menit lalu
0
thumb
Sebanyak 3.752 Gempa Susulan Masih Terjadi di Flores NTT
• 11 jam lalu
0
thumb
Pemulihan Listrik Pascagempa di NTT Dinilai Cepat Ditangani
• 10 jam lalu
0
thumb
Kedalaman Skuad Jadi Faktor Penentu Bersaing di Super League, Begini Ulasan Legenda PSM Makassar dan Persija Jakarta Luciano Leandro
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.