Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memiliki basis lahan potensial untuk budidaya rumput laut seluas 15.000 hektar, tetapi baru sebagian kecil yang dikembangkan. Salah satu tantangannya ialah belum adanya hilirisasi industri untuk mengolah bahan mentah sehingga dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo, total produksi rumput laut kering sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 19.114.991 kilogram. Produksi tersebut dihasilkan oleh pembudidaya di Kecamatan Jabon, Sidoarjo, dan Sedati.
Total lahan budidaya rumput laut di tiga kecamatan itu sekitar 2.000 hektar. Adapun lahan terbesar berada di Kecamatan Jabon dengan luas 1.362 hektar yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Kupang seluas 830 hektar, Desa Kedung Pandan 445 hektar, dan Desa Permisan 87 hektar.
Kepala Bidang Produksi dan Budidaya Dinas Perikanan Sidoarjo Choiri mengatakan, selain di Jabon, pengembangan budidaya rumput laut juga dilakukan di Kecamatan Sedati seluas 165 hektar dan Kecamatan Sidoarjo seluas 120 hektar. Budidaya rumput laut banyak dijumpai di sepanjang kawasan pesisir Sidoarjo.
”Sebenarnya semua kecamatan yang berada di pesisir atau wilayah timur Sidoarjo berpotensi untuk pengembangan budidaya rumput laut. Namun, yang terbesar dan paling produktif di Jabon,” ujar Choiri, Kamis (20/8/2026).
Choiri mengatakan, untuk meningkatkan kualitas produk, pihaknya telah memberikan penyuluhan mengenai cara budidaya yang baik dan benar. Selain itu, pembudidaya juga mendapat pelatihan pengolahan rumput laut segar menjadi aneka produk, seperti tepung dan makanan olahan, termasuk kerupuk.
Petani rumput laut yang juga Ketua Koperasi Sumber Mulyo Maju Mapan, Tsaqif Kurniawan, mengatakan, komoditas yang dihasilkan petani hingga kini masih dijual dalam bentuk bahan mentah berupa rumput laut kering. Setelah panen, rumput laut hanya dikeringkan di bawah sinar matahari.
Koperasi Sumber Mulyo Maju Mapan menaungi puluhan petani rumput laut di Desa Kupang dengan rata-rata produksi 200-400 ton kering per bulan. Dengan asumsi harga jual rata-rata Rp 6.000 per kilogram, nilai rumput laut yang dikelola koperasi tersebut berkisar Rp 1,2 miliar-Rp 2,4 miliar per bulan.
Menurut Tsaqif, rata-rata harga jual rumput laut kering jenis Gracilaria yang dibudidayakan petani berkisar Rp 6.000-Rp 10.000 per kilogram. Harga Rp 6.000 tergolong rendah, tetapi masih menguntungkan bagi petani karena pola budidayanya dilakukan secara tumpang sari dengan ikan bandeng, udang, dan kepiting.
”Tantangan yang dihadapi petani rumput laut saat ini adalah ketidakpastian harga. Saat hasil panen melimpah, harga komoditas biasanya jatuh,” kata Tsaqif.
Rendahnya harga komoditas antara lain dipicu penjualan yang masih dalam bentuk bahan mentah. Rumput laut hanya dikeringkan tanpa diolah lebih lanjut menjadi produk setengah jadi ataupun produk jadi. Penjualan juga masih bergantung pada pedagang atau tengkulak.
Tsaqif mengatakan, petani di Sidoarjo sangat menantikan hilirisasi atau pengembangan industri pengolahan berbasis rumput laut agar komoditas tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi. Rumput laut hasil budidaya petani di Sidoarjo selama ini juga menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia.
Pasar ekspornya antara lain China, Vietnam, dan Australia. Namun, petani belum memiliki akses langsung ke pasar internasional. Di sisi lain, serapan pasar dalam negeri untuk rumput laut mentah masih terbatas.
Petani berharap ada investor yang menanamkan modal untuk membangun pabrik atau industri pengolahan rumput laut di Jawa Timur sehingga dapat menyerap hasil panen dan mengolahnya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sidoarjo Edi Kurniadi mengatakan, salah satu upaya memperkuat jejaring pasar rumput laut dilakukan melalui pembentukan koperasi petani.
Saat ini terdapat tiga koperasi yang aktif, yakni Koperasi Sumber Mulyo Maju Mapan dan Koperasi Agar Makmur Sentosa di Kecamatan Jabon serta Koperasi Jeeva Subur Makmur di Kecamatan Gedangan.
Ketiga koperasi tersebut beranggotakan petani rumput laut. Koperasi juga mengelola hasil panen petani dan memasarkannya. Upaya memperkuat dan memperluas jaringan usaha dilakukan antara lain melalui lokakarya Penguatan Jaringan Usaha Koperasi Komoditas Rumput Laut pada 19-21 Agustus 2026 di Sidoarjo.
Kegiatan itu diikuti 30 koperasi, termasuk tiga koperasi berbasis rumput laut dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Edi berharap koperasi desa dapat ikut mengambil bagian dalam jaringan usaha rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan Sidoarjo.
”Ada beberapa komoditas lokal unggulan Sidoarjo, yakni udang, bandeng, rumput laut, dan produk pertanian. Rumput laut merupakan komoditas unggulan ekspor, terutama jenis Gracilaria,” kata Edi Kurniadi saat membuka lokakarya.
Asisten Deputi Akselerasi Jaringan Usaha pada Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi Cecep Setiawan mengatakan, komoditas rumput laut berpeluang besar dikembangkan secara optimal di Sidoarjo karena memiliki basis lahan potensial seluas 15.000 hektar.
Lahan potensial tersebut tersebar di sepanjang kawasan pesisir timur Sidoarjo. Selain lahan, terdapat banyak pembudidaya serta jaringan pemasaran produk yang telah terbentuk. Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan melalui koperasi agar mampu menjadi kekuatan ekonomi rakyat.
Koperasi Desa Merah Putih didorong turut berperan, antara lain dengan menyediakan sarana produksi budidaya, bibit, pengolahan pascapanen, serta menyerap hasil panen. Selain itu, koperasi desa didorong ikut memperluas jaringan pemasaran rumput laut sehingga harga jualnya dapat meningkat.






Komentar (0)