Reo, ERANASIONAL.COM – Warga di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih merasakan gempa susulan hingga Kamis (20/8/2026) pagi. Getaran terjadi berulang dengan jeda yang sangat singkat.
Baria, warga Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, mengatakan gempa susulan dirasakan berkali-kali dalam waktu yang berdekatan. Bahkan, menurutnya, guncangan seolah terjadi hampir setiap menit.
“Setiap menit terguncang,” kata Baria, dikutip dari Liputan6.
Setiap kali gempa kembali mengguncang, Baria mengaku hanya bisa beristighfar.
Ia juga meminta keluarganya yang berada di luar NTT turut mendoakan keselamatan warga di kampung halamannya.
Hal serupa dirasakan Jufri Husen, warga Reo lainnya. Ia menyebut jarak antara satu guncangan dengan guncangan berikutnya sangat singkat, bahkan kurang dari satu menit.
“Sampai sekarang tidak sampai semenit getar,” ujarnya.
Menurut Jufri, gempa susulan yang terjadi terus-menerus turut memperburuk kondisi bangunan yang sebelumnya telah terdampak. Retakan pada sejumlah tembok disebut semakin melebar akibat kembali diguncang.
Situasi warga semakin berat karena wilayah Manggarai dan Manggarai Timur juga dilanda hujan yang disertai angin kencang.
BMKG: Gempa Susulan Diperkirakan Menurun BertahapBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa susulan di NTT masih akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.
Meski demikian, frekuensi dan kekuatannya diproyeksikan berangsur menurun.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan hasil pemodelan sementara menunjukkan aktivitas gempa susulan akan terus mengalami penurunan dalam beberapa minggu ke depan.
“Bahwa berdasarkan hasil pemodelan sementara terhadap peluruhan gempa susulan, aktivitas ini diperkirakan akan terus menurun secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan,” kata Nelly dalam jumpa pers daring melalui kanal YouTube BNPB, Rabu (19/8/2026).
Ia menyampaikan, berdasarkan model yang digunakan BMKG, aktivitas gempa susulan diperkirakan memasuki level yang relatif rendah dalam rentang dua hingga tiga minggu hingga sekitar satu bulan mendatang.
“Model yang ada saat ini memperkirakan laju gempa susulan dapat mencapai tingkat yang relatif rendah di 2 atau 3 sampai satu bulan ke depan, mungkin di akhir September 2026,” ujarnya.
Meski demikian, Nelly mengingatkan bahwa perkiraan tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa gempa susulan akan berhenti sepenuhnya pada waktu tersebut.
“Perlu kami tegaskan juga bahwa ini bukan berarti bahwa setelah tanggal tersebut gempa tidak dapat terjadi, ya. Estimasi ini sifatnya sangat dinamis dan akan terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan data gempa susulan yang kami rekam,” jelasnya.
3.002 Gempa Susulan TercatatBMKG mencatat sebanyak 3.002 gempa susulan terjadi di wilayah NTT hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WIB. Magnitudo gempa yang terekam berada pada rentang M1,1 hingga M6,2.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 86 kejadian dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Sementara 25 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo minimal 5.
“Dan sebanyak 86 gempa bumi susulan ini dilaporkan dirasakan oleh masyarakat, dan terdapat 25 kejadian dengan magnitudo 5 atau lebih,” kata Nelly.
BMKG menjelaskan, kemunculan gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa utama berkekuatan besar.
Menurut Nelly, kondisi tersebut berkaitan dengan proses penyesuaian kerak bumi setelah terjadi pelepasan energi dalam jumlah besar akibat gempa utama.
“Sebenarnya itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi sehingga mendapatkan kesetimbangan yang baru, setelah ada terjadinya gempa utama yang besar,” pungkasnya. []






Komentar (0)