DBS Foundation melalui DBS Foundation Grant terus mendorong pertumbuhan social enterprises yang menghadirkan solusi ekonomi sirkular sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat rentan. Dua di antaranya adalah Parongpong RAW Lab dan MYCL yang mengolah limbah menjadi material serta produk bernilai tambah.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, dukungan tersebut diberikan melalui pendanaan, pendampingan, akses jejaring, dan peluang kolaborasi agar bisnis berdampak dapat berkembang sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Parongpong RAW Lab: Jaring Bekas Jadi Produk Bernilai
Sebagai penerima DBS Foundation Grant 2025, Parongpong Recyle and Waste Lab ( Parongpong RAW Lab) menjalankan Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.
Program ini mengumpulkan jaring ikan bekas (ghost net) dari komunitas nelayan untuk diolah menjadi material baru, sekaligus memberikan edukasi dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir. Dalam dua tahun, program menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, melibatkan lebih dari 600 nelayan dan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta membangun dua microfactory.
Hingga Agustus 2026, lebih dari 4,5 ton ghost net telah dikumpulkan dan melibatkan 179 nelayan. Material tersebut kemudian dikembangkan menjadi Prototiles®, yang salah satu aplikasinya menghasilkan Circulites, seri lampu meja dengan diffuser berbahan jaring ikan bekas.
CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan, dukungan DBS Foundation membantu membangun ekosistem mulai dari pengumpulan limbah, edukasi masyarakat, peningkatan teknologi hingga pengembangan produk yang dapat diterima pasar.
MYCL: Limbah Pertanian Jadi Biomaterial
Sementara itu, MYCL (Mycotech Lab) mengembangkan solusi ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah pertanian dan sumber daya biomassa untuk menghasilkan material alternatif berbasis mycelium dan rumput laut.
Produk yang dikembangkan mencakup mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer, yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari fesyen hingga material insulasi bangunan dan aplikasi teknologi bernilai tambah.
Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan memberikan manfaat kepada lebih dari 200 petani serta menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau. Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara dan menjalin kerja sama dengan sejumlah pemain global, termasuk Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas.
Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo mengatakan, dukungan DBS Foundation membantu MYCL mengembangkan teknologi sekaligus membangun bisnis yang mampu menciptakan nilai bagi petani, pekerja, dan industri.
Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta hibah kepada lebih dari 160 social enterprises di Asia. Di Indonesia, DBS Foundation telah mengalokasikan lebih dari SGD4 juta kepada lebih dari 20 social enterprises dan bisnis berdampak.






Komentar (0)