Pascagempa NTT, Warga Nagekeo Masih Terisolasi dan Kesulitan Dapat Bantuan

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Nagekeo: Akses jalan yang terputus membuat Desa Woloede dan Desa Ua di wilayah Maupongo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih terisolasi pascagempa magnitudo 7,7. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan mendapatkan bantuan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di Kampung Loka Wolo, Desa Woloede, warga terpaksa membangun tenda secara mandiri menggunakan peralatan seadanya. Sekitar 976 warga mengungsi setelah sedikitnya 96 rumah mengalami kerusakan.

Warga juga kesulitan mendapatkan bahan makanan karena akses menuju pasar terputus. Persediaan di sejumlah kios yang masih dapat beroperasi mulai menipis.

Warga Desa Woloede, Niko Ndapa, mengatakan kondisi tersebut membuat kebutuhan sembako semakin sulit dipenuhi.

“Bahan sembako lainnya agak sulit kami di sini. Mau ke pasar juga sulit, transportasinya sangat sulit. Mau ke mana saja kan jalan ini putus semua," ujarnya dalam tayangan Breaking News Metro TV, Kamis 20 Agustus 2026. 

Selain kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, warga mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi pengungsian. Debu dan udara dingin membuat sejumlah warga, termasuk anak-anak, mengalami batuk dan pilek.

“Karena debu dan juga malam hari harus tidur di halaman yang dengan terpal, tenda-tenda seadanya sehingga sudah mulai muncul penyakit yang paling utama itu sudah mulai batuk pilek," katanya. 

Baca Juga :

Rumah Prototipe BRIN di Manggarai Barat Kokoh Hadapi Gempa M 7,7
Putusnya akses jalan juga membuat warga harus melewati jalur berbahaya untuk mencari makanan. Sedikitnya terdapat tiga titik longsor yang menutup akses kendaraan.

Warga Desa Woloede, Nadus Bajo, mengatakan sebagian warga terpaksa berjalan kaki melewati tebing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ya terpaksa jalan kaki lewat ini, jalan kaki se-terpaksa saja ikut tebing ini, pelan-pelan," ungkapnya. 

Kondisi akses yang terputus turut menghambat distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan penyaluran logistik terus dilakukan melalui jalur udara dan laut, meski membutuhkan waktu untuk mencapai wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

“Jarak dan waktu saja sih, hanya jarak dan waktu. Hari ini saja lima sorti pesawat, kemudian beberapa sorti Hercules, dan ada juga yang pakai kapal laut. Kapal laut tentu saja secepat-cepatnya juga datang ke Pulau Flores ini paling tidak lima hari. Jadi tanggap darurat saya rasa berbeda nanti di masing-masing kabupaten ya. Mungkin bayangan saya paling cepat dua minggu," jelasnya. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
3 Nelayan Hilang di Jember Belum Ditemukan, Pencarian hingga Lumajang
• 5 jam lalu
0
thumb
Rencana Pembatasan Subsidi BBM Disebut Bisa Hemat Anggaran 10 Persen
• 18 jam lalu
0
thumb
Kali di Bekasi Ini Dipenuhi Busa, Warga Sebut Sering Terjadi Saat Kemarau
• 11 jam lalu
0
thumb
Wali Kota Munafri Warning Kepala OPD Makassar, Minta Ubah Cara Kerja
• 11 jam lalu
0
thumb
Roy Suryo Harap Hakim Berani Buat Putusan seperti Praperadilan Pertama
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.