Bank Jago (ARTO) Ungkap Dua Backbone di Balik Kinerja Bank Digital

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

dalam struktur kerja Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberi saran, namun pada saat yang sama, proses pengambilan keputusan tetap berada di tangan manusia.

Bank Jago (ARTO) Ungkap Dua Backbone di Balik Kinerja Bank Digital (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Semakin luas dan massifnya pemanfaatan kecerdasan buatan (aritificial intelligence/AI) di masyarakat terus memantik kekhawatiran sejumlah pihak atas dampak dari hadirnya perkembangan teknologi terkini tersebut.

Salah satu yang utama, tentu terkait mulai tergesernya peran manusia di berbagai lapangan pekerjaan. Tak terkecuali juga di industri perbankan, khususnya bank digital.

Baca Juga:
Bank Jago Pastikan Prosedur Rapor Kredit Aman Sesuai Aturan, Begini Penjelasannya

Namun, kekhawatiran tersebut coba ditampik oleh Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk (ARTO), Pratomo Soedarsono, dengan menyatakan bahwa keberadaan teknologi bukan menjadi satu-satunya hal utama di balik kinerja bank digital.

"Yang belum banyak orang tahu, membangun bank digital itu bukan hanya soal teknologi. Di belakang produk dan layanan yang serba digital, tetap ada orang-orang yang harus terus belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan ketika kebutuhan nasabah berubah," ujar Pratomo, dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga:
BFI Finance (BFIN) Tanggapi Isu Merger dengan Bank Jago

Pernyataan tersebut disampaikan Pratomo dalam penjelasannya terkait cara dan pendekatan yang digunakan Bank Jago dalam memanfaatkan AI, sekaligus menyiapkan organisasi dan talenta yang siap dalam menghadapi perubahan di industri perbankan.

Pratomo menjelaskan bahwa dalam struktur kerja Bank Jago, AI sengaja dimanfaatkan untuk memberi saran, namun pada saat yang sama, proses pengambilan keputusan tetap berada di tangan manusia.

Baca Juga:
Kinerja Bank Jago Solid, Prospek Saham ARTO Dinilai Menarik

Sehingga, menurut Pratomo, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna.

"Sebagai bank berbasis teknologi, kami menempatkan AI sebagai alat pendamping digital yang membantu pekerjaan rutin. Dengan begitu, waktu dan perhatian karyawan dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman terhadap nasabah, penyelesaian persoalan, hingga pengembangan anggota tim," ujar Pratomo.

Dalam hal ini, cara kerja di dalam organisasi pun ikut disesuaikan, di mana setiap tenaga kerja Bank Jago mendapat ruang lebih besar untuk mengambil keputusan.

Di lain pihak, tim memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu keputusan dari jenjang yang lebih tinggi.

"Bank yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital, akan selalu membutuhkan pola kerja seperti ini, karena pengembangan produk dan layanan melibatkan banyak fungsi," ujar Pratomo.

Pratomo pun menyatakan bahwa kelincahan dalam pengambilan keputusan menjadi penting agar organisasi dapat merespons kebutuhan nasabah dan perubahan pasar dengan cepat.

Namun, ruang untuk mengambil keputusan juga perlu diikuti dengan kemampuan yang terus berkembang.

Karenanya, Bank Jago secara konsisten mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan dalam melihat kemampuannya, sekaligus juga menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat demi memaksimalkan kinerja yang dilakukan.

Pendekatan tersebut diklaim Pratomo dapat mengubah cara karyawan dalam melihat karier, di mana grafik pertumbuhan karyawan tidak semata-mata dan selalu berarti naik jabatan.

"Seseorang dapat berkembang ketika mendapat tanggung jawab baru, mencoba peran berbeda, atau memperluas kemampuan yang dimilikinya," ujar Pratomo.

Dengan keyakinan tersebut, Pratomo pun menyebut bahwa perubahan cara kerja juga turut memengaruhi peran pemimpin. Ketika tim memiliki ruang lebih besar untuk mengambil keputusan, pemimpin tidak lagi cukup menjadi pemberi instruksi, melainkan perannya bergeser menjadi mentor dan fasilitator yang membantu anggota tim berdiskusi, menemukan solusi, dan berkembang.

"Ketika orang diberi ruang dan kepercayaan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tapi juga tumbuh lebih cepat," ujar Pratomo.

Pada akhirnya, Pratomo menyimpulkan bahwa teknologi dan pengembangan talenta berjalan dalam satu perjalanan.

Dalam hal ini, hadirnya AI dapat membantu mengurangi pekerjaan rutin, sedangkan organisasi menyiapkan orang-orang yang mampu menggunakan waktu dan ruang tersebut untuk pekerjaan yang lebih bernilai.

Bagi Bank Jago, membangun bank berbasis teknologi berarti memastikan produk dan layanan terus berkembang, sekaligus menyiapkan manusia yang mampu menggerakkannya.

"AI dapat membantu organisasi bekerja lebih cepat, tetapi manusia tetap menentukan bagaimana teknologi digunakan, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan dengan nasabah," ujar Pratomo.

(taufan sukma)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Koleksi LINDA FARROW Water’s Edge Resmi Hadir di Optik Seis, Bawa Nuansa London
• 17 jam lalu
0
thumb
Eks Waka BGN Jelaskan Alasan Bangun 3 SPPG di Sulut, Singgung Arahan Dadan
• 1 jam lalu
0
thumb
Citi Indonesia Raup Laba Bersih Rp994 Miliar Ditopang Pertumbuhan Kredit
• 9 jam lalu
0
thumb
Deddy Corbuzier Bawa Close The Door Keliling Indonesia, Sapa Penggemar Lewat Indonesia Podcast Festival
• 7 jam lalu
0
thumb
Bappenas Ungkap Alasan Motor Listrik Terus Dapat Insentif Pemerintah
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.