Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat sekitar 84.000 warga yang berasal dari 22 kabupaten terdampak kekeringan hingga bulan Agustus 2026.
Satriyo Nurseno Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim menjelaskan 22 wilayah tersebut telah menetapkan status darurat kekeringan, dan setidaknya ada 24 ribu KK yang terdampak.
“Saat ini ada 22 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan dengan estimasi KK yang terdampak sekitar 24.136. Estimasi jumlah jiwanya sekitar 84.458,” ujar Satriyo dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).
BPBD Jatim mengungkap 22 kabupaten/kota yang menetapkan status kedaruratan kekeringan tersebut adalah Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pasuruan.
Kemudian Trenggalek, Gresik, Kabupaten Malang, Jember, Sampang, Kabupaten Mojokerto, Situbondo, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Bojonegoro, Pamekasan dan Kota Batu.
Sementara itu Gatot Soebroto Kepala Pelaksana BPBD Jatim mengatakan, wilayah dengan status darurat kekeringan tersebut telah melakukan upaya penanganan.
Upaya tersebut meliputi dropping air bersih terhadap lahan-lahan pertanian untuk mencegah terjadinya gagal panen menggunakan alokasi anggaran masing-masing pemerintah daerah.
Sementara itu sebanyak 11 daerah di antaranya telah mengajukan permohonan perbantuan air bersih kepada Pemprov Jatim.
Gatot menjelaskan, alasan daerah itu mengajukan bantuan karena kondisi fiskal
telah dialokasikan untuk membiayai usaha pengairan terhadap lahan yang berpotensi terdampak kekeringan.
“Ada 11 kabupaten yang sudah meminta dukungan ke provinsi. Artinya, mereka sudah melaksanakan dropping air bersih menggunakan anggarannya dan sudah maksimal sudah habis, sehingga membutuhkan dukungan dari APBD provinsi,” ujar Gatot.
Sedangkan sebanyak 15 pemerintah kabupaten yang sanggup melakukan dropping air bersih secara mandiri menggunakan kas dari masing-masing pemerintah daerah.
“Sudah ada 15 Kabupaten yang sudah melakukan dropping air bersih. Salah satunya seperti Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, Probolinggo ini sudah melakukan dropping air bersih,” jelasnya.
Lebih lanjut, BPBD Provinsi Jatim telah menyiapkan 5.410 ritase, 100 tandon lipat, 50 tandon, hingga 9.600 buah terpal dalam upaya penanganan fenomena kekeringan di seluruh kabupaten/kota.
Selain itu, personel BPBD Provinsi Jatim telah disiagakan untuk melakukan distribusi air bersih ke seluruh wilayah terdampak kekeringan. Dengan syarat masing-masing pemerintah daerah mengajukan permohonan kepada pemerintah provinsi.
“Kami pun sudah masif melakukan dropping air bersih, tetapi dengan catatan bahwa permohonan dropping tersebut harus diajukan oleh kabupaten/kota yang kekeringan. Ini mengantisipasi apa? Agar masyarakat bisa menjangkau semua bantuan dari pemerintah tersebut dan bisa merata distribusi air bersih yang bisa kita lakukan,” tandasnya. (wld/saf/ham)





Komentar (0)