TANGERANG, KOMPAS.com — Bagi para sopir angkot di kawasan Tangerang, sepi penumpang bukan lagi sekadar soal persaingan harga dengan angkutan online atau moda transportasi modern ber-AC.
Ada beban berat lain yang bertengger di pundak mereka, yakni maraknya aksi pencopetan di dalam armada yang membuat masyarakat kian trauma.
Aksi kriminalitas ini menghadirkan teror tersendiri bagi para pengemudi.
Selain merusak citra angkot, kehadiran komplotan copet membuat penumpang perlahan berpaling, meninggalkan para sopir yang berjuang menutup setoran harian.
Baca juga: Coba Pikirkan Nasib Selanjutnya ke Mana Sopir Angkot Bogor Minta Padat Karya Tak Hanya 10 Hari
Komplotan copet di angkotSopir angkot rute Cikokol-Kalideres, Sapri (50), menceritakan bahwa aksi pencopetan menjadi salah satu alasan utama armada tradisional makin ditinggalkan.
Komplotan copet yang terdiri dari tiga hingga empat orang kerap berbagi peran menggunakan modus terencana untuk memicu kepanikan.
"Banyak modusnya. Ada yang pura-pura kejepit lah tangannya," kata Sapri saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
"Ada yang pura-pura muntah... ada yang pura-pura mijitin, terapi," tambah Sapri.
Korban biasanya baru menyadari barang berharga seperti dompet atau ponsel telah raib setelah para pelaku turun dari angkot.
"Tahu-tahu pencopetnya udah pergi, tahu-tahunya penumpang saya, 'aduh kehilangan, dompet saya enggak ada. Aduh, HP saya enggak ada,'" ujar Sapri.
Sopir angkot biru rute Pasar Serpong-Pasar Anyar, Yudi (37) menjelaskan bahwa para pelaku copet umumnya menyamar sebagai penumpang biasa yang sengaja mengajak korban berbincang intens untuk memecah konsentrasi, sementara pelaku lain mengambil barang berharga korban saat situasi lengah.
"Biasanya modus mereka itu pura-pura jadi penumpang biasa, nanya-nanya jalan atau ngajak ngobrol terus-terusan biar korbannya lengah. Pas fokusnya pecah, baru temannya yang lain beraksi," ungkap Yudi.
Baca juga: Tak Lagi Narik, Mantan Sopir Angkot Uzur di Bogor Kini Dibayar Rp 120.000 Sehari Bersihkan Kota
Korban pencopetan umumnya baru menyadari hilangnya barang berharga, seperti ponsel dan dompet, uang, setelah para pelaku berhasil turun meninggalkan angkutan.
Sementara Iqbal (33), pengemudi angkot rute Cikokol–Pasar Serpong, memilih untuk selalu memperhatikan gerak-gerik penumpang dari kaca spion tengah demi mengantisipasi beragam modus kejahatan di dalam angkot.
"Ada aja modusnya, kadang pura-pura jadi orang gila atau ngamuk enggak jelas di dalam mobil. Penumpang kan jadi takut dan hilang fokus tuh, nah di situ biasanya barang-barang langsung disikat," ujar Iqbal.
Kini, para pengemudi angkot hanya bisa berharap adanya penataan dan pengawasan ketat dari pihak berwenang agar angkot kembali menjadi moda transportasi harian yang aman, ramah, dan bebas dari teror kejahatan jalanan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT






Komentar (0)