Kampus Turun Tangan Tangani Dampak Gempa NTT

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar dalam merespons bencana di daerah-daerah. Selain memastikan keselamatan sivitas akademika dan keberlanjutan pendidikan, kampus diharapkan berkontribusi membantu masyarakat terdampak sesuai kapasitas dan keahlian masing-masing.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus memperkuat koordinasi dengan perguruan tinggi dalam merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan keilmuan, sumber daya, dan jejaring yang dimiliki, perguruan tinggi diharapkan turut mendukung penanganan bencana dan pemulihan masyarakat.

”Dalam situasi bencana seperti ini, perguruan tinggi harus hadir bersama masyarakat. Keahlian, tenaga, dan semangat gotong royong sivitas akademika dapat menjadi kekuatan penting untuk mendukung penanganan darurat dan membantu masyarakat bangkit. Inilah arah Diktisaintek Berdampak, ketika kampus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Brian, dikutip dari siaran pers, Kamis (20/8/2026).

Baca JugaDiktisaintek Berdampak Berikan Solusi Nyata ke Masyarakat
Baca JugaKolaborasi Kepakaran Perguruan Tinggi Diuji di Daerah Bencana

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang daratan Flores dan sekitarnya pada Sabtu (15/8/2026) berdampak pada sejumlah wilayah di NTT. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT per 18 Agustus 2026, sebanyak 69 orang meninggal, 331 orang luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi. Gempa juga merusak rumah, fasilitas pendidikan dan kesehatan, tempat ibadah, serta fasilitas umum.

Brian mengapresiasi perguruan tinggi yang bergerak bersama pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lembaga kemanusiaan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menangani dampak gempa. Menurut dia, keterlibatan sivitas akademika merupakan wujud peran perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi situasi darurat.

Kemendiktisaintek, lanjut Brian, akan terus berkoordinasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV dan perguruan tinggi di NTT untuk memastikan kondisi dan kebutuhan sivitas akademika tertangani. Koordinasi juga dilakukan untuk mendukung keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan darurat hingga pemulihan masyarakat terdampak.

Berdasarkan informasi LLDikti Wilayah XV, sejumlah perguruan tinggi telah mendirikan posko, menyalurkan bantuan logistik, serta menyediakan layanan kesehatan dan pemulihan trauma (trauma healing). Kampus juga mengerahkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ke sejumlah lokasi terdampak.

Politeknik Cristo Re mengerahkan 50 dosen, instruktur, dan mahasiswa melalui gerakan kemanusiaan Triputra-Cristo Re-Persada. Bersama BNPB, tim tersebut, antara lain, mendirikan 10 tenda di Bukit Ritapiret dan kawasan Bandar Udara Frans Seda, Kabupaten Sikka. Tim juga membantu pemadaman kebakaran di Kecamatan Nelle serta menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah wilayah di Kecamatan Alok.

Sementara itu, Universitas Nusa Nipa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat di Pulau Palue. Di Riung, tim sukarelawan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Bajawa juga mendirikan sejumlah posko di lokasi terdampak.

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Jefri S Bale mengatakan, sebagai perguruan tinggi pembina di NTT, Undana siap menjadi pusat koordinasi tanggap bencana bagi perguruan tinggi dari daerah-daerah. Data kebutuhan di lapangan, pemetaan sukarelawan, dan penyaluran bantuan akan dikonsolidasikan melalui Undana agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak di Flores.

Perguruan tinggi dari luar NTT juga turut memberikan bantuan. Universitas Hasanuddin (Unhas), misalnya, mengirimkan mahasiswa melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tanggap Bencana serta Tim Bantuan Medis (TBM) Terpadu.

Rektor Unhas Jamaluddin Jompa mengatakan, KKN Tematik Tanggap Bencana merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir membantu masyarakat, terutama dalam situasi darurat.

”Sejak lama Unhas mengusung semangat humaniversity, perguruan tinggi yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari pengabdian. Semangat itu terus kita perkuat melalui tindakan nyata,” ujar Jamaluddin.

Sebelum diterjunkan ke lokasi bencana, mahasiswa mendapat pembekalan mengenai batas peran, prosedur keselamatan, pola koordinasi, serta situasi yang mungkin dihadapi di lapangan. Unhas juga berkoordinasi dengan jejaring penanganan bencana setempat agar keterlibatan mahasiswa terintegrasi dengan sistem penanganan yang telah berjalan.

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mengirimkan enam personel Tim Tanggap Bencana untuk membantu penanganan dampak gempa di NTT. Tim juga membawa bantuan obat-obatan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

Kerusakan kampus

Kepala LLDikti Wilayah XV Adrianus Amheka mengatakan, pihaknya telah meminta seluruh pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) dan badan penyelenggara untuk memastikan kondisi sivitas akademika serta memantau situasi pascagempa. Hingga 16 Agustus 2026, sejumlah PTS telah melaporkan kondisi awal fasilitas kampus masing-masing.

Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa melaporkan kerusakan ringan, sedangkan Politeknik ElBajo Commodus mengalami kerusakan pada plafon ruang perkuliahan.

Sementara itu, Paul G Tamelan mengatakan, Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan pendataan terhadap sivitas akademika yang berada di wilayah terdampak gempa di Flores. Pendataan mencakup mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN), peneliti di lapangan, hingga mahasiswa yang berdomisili di daerah terdampak.

Undana juga memberikan fleksibilitas akademik bagi mahasiswa terdampak. ”Undana memberikan relaksasi jadwal perkuliahan hingga awal September mendatang khusus bagi seluruh mahasiswa yang terdampak bencana,” ujar Paul.

Brian Yuliarto menegaskan, perguruan tinggi perlu memberikan fleksibilitas akademik kepada mahasiswa yang terdampak langsung ataupun tidak langsung oleh bencana. Keselamatan sivitas akademika harus menjadi pertimbangan utama sebelum pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan, terutama di kampus yang fasilitasnya belum dinyatakan aman.

”Keselamatan mahasiswa dan tenaga pendidik harus menjadi pertimbangan utama sebelum kegiatan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan di wilayah yang fasilitasnya belum dinyatakan aman,” kata Brian.

Baca JugaSolidaritas Menggema, Makan Gratis bagi Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera
Baca JugaBantuan demi Bantuan Terus Mengalir ke NTT

Perguruan tinggi dapat menerapkan pembelajaran jarak jauh atau metode alternatif jika jaringan dan infrastruktur memungkinkan. Kampus juga dapat menyesuaikan jadwal atau menunda kegiatan akademik yang mengharuskan mahasiswa berada di lokasi yang belum aman.

Fleksibilitas dapat diterapkan pada perkuliahan, praktikum, ujian, tugas akhir, penelitian, dan kegiatan akademik lainnya agar mahasiswa tidak dirugikan akibat kondisi darurat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Hadir untuk NTT, Tim Tanggap Darurat Medis Dikirim
• 22 jam lalu
0
thumb
Populer Ekonomi: Perputaran Ekonomi Rp1 Triliun dari 105 Event hingga Harga Emas Turun
• 8 jam lalu
0
thumb
Tottenham Hotspur Bidik Savinho dan Omar Marmoush dari Manchester City
• 6 jam lalu
0
thumb
Dua Saksi Absen di Persidangan Richard Lee, Doktif Akui Kecewa
• 49 menit lalu
0
thumb
Kasus Kepala Inspektorat Banda Aceh Berhubungan Sesama Jenis: Kasur Disita
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.