“Hari ini saya bikin arancini. Arancini biasanya dari risoto, tapi karena saya tidak punya, jadi saya ganti dengan kimpul. Jadi arancini kimpul.”
Dengan gayanya yang khas, Suratini (47) mengucapkan kalimat itu di depan sejumlah kamera yang sedang merekam aktivitasnya di dapur rumahnya di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (18/8/2026). Saat itu, kreator konten yang dikenal dengan julukan Bu Kimpul tersebut baru saja selesai memasak arancini kimpul.
Arancini merupakan hidangan bola-bola nasi ala Italia. Makanan ini biasanya menggunakan risoto, hidangan nasi khas Italia, sebagai bahan utama. Namun, seperti dalam banyak kontennya di media sosial, Suratini mengganti risoto dengan kimpul saat memasak arancini.
Untuk membuat arancini kimpul, Suratini menggunakan kimpul yang telah dikukus dan dihaluskan. Kimpul yang dihaluskan lalu dicampur dengan daging sapi yang sudah ditumis dengan sejumlah bahan, seperti bawang putih, garam, dan merica. Dia juga menambahkan keju ke bahan-bahan itu.
“Ada rasa pulen dan sedikit gurih alami dari kimpul, ditambah gurih dari daging yang sudah ditumis dengan bawang, garam, dan merica. Masih ada gurih dari tambahan keju yang ada di dalamnya,” tutur Suratini mengenai arancini kimpul racikannya.
Sejak beberapa bulan lalu, Suratini aktif membuat konten di media sosial mengenai masakan yang dibuatnya dengan berbagai jenis umbi dan bahan pangan lokal Nusantara. Bahan pangan andalannya adalah kimpul (Xanthosoma sagittifolium), salah satu jenis umbi-umbian yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia.
Selama beberapa waktu terakhir, perempuan yang tinggal di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, itu telah menggunakan kimpul untuk memasak berbagai jenis hidangan, termasuk yang berasal dari negara lain.
Selain arancini kimpul, dia antara lain pernah membuat sushi kimpul, kimbap kimpul, kimpul chewy cookie, kimpul beef bruschetta, dan mango sticky kimpul.
Suratini juga pernah berkesperimen memasak nikujaga, semur daging khas Jepang yang biasanya menggunakan kentang. Namun, dia mengganti kentang dengan kimpul sehingga ia pun menyebut masakan itu dengan nama nikukimpul.
Siang itu, ibu dua anak itu juga memasak bungeoppang, kue serupa wafel dengan bentuk ikan mas yang populer di Korea Selatan. Kue ini biasanya memakai adonan tepung untuk bagian luarnya. Namun, Suratini mengganti tepung dengan kimpul sehingga nama masakannya pun diganti menjadi bungeokimpul.
Selain kimpul, Suratini juga beberapa kali membuat konten terkait umbi-umbian lain, misalnya singkong, uwi, gadung, ganyong, garut, gembili, gembolo, dan lainnya.
Dia juga pernah membuat hidangan dengan bahan pangan lokal lain, seperti kacang koro pedang, kacang benguk, grontol, growol, mi pentil, sukun, tiwul, dan sebagainya.
Suratini mengunggah konten-kontennya di akun TikTok dan Instagram @black.sheep8208. Konten-konten itu kemudian memantik perhatian banyak pihak dan viral di media sosial. Salah satu kontennya di TikTok telah ditonton lebih dari 14 juta kali, sedangkan satu konten lainnya ditonton lebih dari 7 juta kali.
Hingga Kamis (20/8/2026) siang, akun TikTok milik Suratini memiliki pengikut lebih dari 239.700, sedangkan pengikut akun Instagram-nya lebih dari 46.000. Karena dikenal kerap memasak dengan kimpul dalam konten-kontennya, dia pun dikenal dengan julukan ”Bu Kimpul”.
Saking viralnya konten soal kimpul yang dibuat Suratini, muncul istilah “terkimpul-kimpul” yang menggambarkan antusiasme berbagai pihak untuk menjajal kimpul. Bahkan, beberapa kreator konten di media sosial pun ikut-ikutan membuat konten soal kimpul.
Suratini mengaku tertarik membuat konten soal kimpul dan umbian-umbian lain karena sejak kecil dirinya memang terbiasa mengonsumsi umbi-umbian.
“Dulu saya dari kecil itu makannya umbi-umbian. Beras itu tidak terjangkau untuk keluarga kami,” tutur perempuan yang mengaku berasal dari keluarga kurang mampu itu.
Saat ditanya kenapa paling sering membuat konten soal kimpul, Suratini menyebut, kimpul memiliki masa panen lebih cepat dibanding beberapa jenis umbi-umbian lain. Selain itu, stok kimpul juga tersedia sepanjang tahun, sedangkan beberapa jenis umbi lain hanya tersedia pada musim tertentu.
Suratini menambahkan, rasa kimpul juga relatif netral sehingga bisa diolah menjadi banyak menu, baik yang bercita rasa manis maupun gurih. Selain itu, kimpul juga relatif mudah ditemui di pasar di DIY dan sejumlah daerah lain.
“Kemarin saya ke Tangerang Selatan, itu banyak kimpul di pasar,” ucap perempuan yang saat kecil tinggal di Kabupaten Kulon Progo, DIY, itu.
Sesudah konten-kontennya viral, Suratini mengaku mendapat pesan dari banyak orang yang kemudian mencoba mengonsumsi kimpul dan umbi-umbian lain. Beberapa di antara mereka juga mengaku mengolah umbi-umbian menjadi beragam jenis hidangan.
Suratini pun berharap konten-kontennya itu bisa turut mempopulerkan umbi-umbian, terutama kepada generasi muda. “Saya berharap anak-anak muda itu kenal umbi-umbian. Saya berusaha mengenalkan (umbi-umbian) kepada anak-anak muda dengan cara dibuat menu (hidangan). Kalau dulu kan (umbi-umbian) hanya direbus saja,” ujarnya.
Saat popularitas umbi-umbian meningkat, budidaya tanaman pangan itu pun diharapkan juga bisa meningkat. “Saya harap kalau anak-anak muda tahu, nanti akan banyak permintaan dan petani terbantu dari menanam kimpul,” ujar Suratini.
Apalagi, di sejumlah negara, umbi-umbian telah berhasil diolah menjadi hidangan yang menarik minat generasi muda. Suratini mencontohkan, di Jepang terdapat hidangan bernama ubi brulee yang disukai oleh anak-anak muda. Hidangan ini kemudian viral hingga ke Indonesia.
Sementara itu, Filipina berhasil mempopulerkan umbi-umbian bernama ube (Dioscorea alata) yang banyak diolah menjadi berbagai jenis camilan, dessert atau hidangan penutup, dan minuman kekinian.
Menurut Suratini, ube sebenarnya sama dengan umbi-umbian bernama uwi di Indonesia. Namun, selama ini, uwi kurang dikenal di tanah air. Saat ube dari Filipina viral, banyak orang di Indonesia baru mengetahui soal umbi-umbian tersebut.
Saya berusaha mengenalkan (umbi-umbian) kepada anak-anak muda dengan cara dibuat menu (hidangan). Kalau dulu kan (umbi-umbian) hanya direbus saja
“Begitu viral di sana (negara lain), di Indonesia juga viral. Nah, saya pengen enggak harus menunggu dari luar negeri karena kita juga punya (umbi-umbian),” ungkapnya.
Oleh karena itu, Suratini pun mengharapkan berbagai pihak di Indonesia bisa memiliki perhatian lebih besar terhadap umbi-umbian. “Ini kalau orang-orang yang punya kekuatan menyambut baik, bisa saja ada kesempatan kimpul dan umbi-umbian lain itu naik kelas,” tuturnya.
Pakar gastronomi Universitas Negeri Yogyakarta, Minta Harsana, mengatakan, umbi-umbian memiliki sejarah panjang di Nusantara. Dia menyebut, pada masa awal masyarakat Nusantara, beberapa jenis umbi seperti talas dan umbi-umbian dari kelompok Dioscorea, misalnya uwi, gembili, dan gembolo, menjadi sumber pangan alternatif dengan cara direbus atau dibakar.
Minta memaparkan, pada masa berikutnya saat munculnya peradaban agraris, masyarakat di Nusantara mulai bercocok tanam. Pada masa ini, beberapa jenis umbi seperti ganyong, gadung, suwek, dan lain-lainnya turut ditanam sebagai cadangan pangan. Saat menunggu masa panen padi dari sawah, masyarakat biasanya mengonsumsi umbi-umbian tersebut.
Pada masa berikutnya atau masa perdagangan global, berbagai tanaman pangan dari luar Asia Tenggara mulai masuk ke Nusantara. Menurut Minta, antara abad ke-16 hingga abad ke-19, singkong yang berasal dari Amerika Selatan dan beberapa tanaman pangan lain mulai masuk ke Nusantara.
Pada masa kolonial Hindia Belanda, kata Minta, singkong kian dikenal luas sebagai tanaman pangan alternatif dan komoditas ekonomi. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, beras semakin dominan sebagai makanan pokok sehingga umbi-umbian lokal menjadi terpinggirkan.
Meski begitu, Minta mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, muncul upaya mengenalkan kembali umbi-umbian lokal untuk mendorong diversifikasi dan ketahanan pangan. Dia menyebut, upaya mempopulerkan umbi-umbian lokal itu sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada tepung terigu yang bersumber dari gandum hasil impor.
“Untuk mengurangi konsumsi tepung, kita harus menghidupkan kembali ketahanan pangan, salah satunya dengan umbi-umbian lokal,” ujar Minta saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).
Oleh karena itu, berbagai upaya untuk mempopulerkan umbi-umbian, termasuk melalui media sosial, harus didukung. Inisiatif Suratini alias Bu Kimpul yang memicu tren “terkimpul-kimpul” pun seharusnya disambut oleh pihak-pihak lain agar umbi-umbian lokal Nusantara kian dikenal.






Komentar (0)