Digitalisasi Perlinsos Pangkas Waktu Verifikasi Jadi 5 Menit, Hemat Anggaran hingga Rp200 Triliun

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Sistem Perlinsos digital mengintegrasikan lintas data dari kementerian dan lembaga guna mempercepat proses pendaftaran hingga pemutakhiran status kelayakan pene

Digitalisasi Perlinsos Pangkas Waktu Verifikasi Jadi 5 Menit, Hemat Anggaran hingga Rp200 Triliun. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) M. Qodari menilai penerapan digitalisasi pada program Perlindungan Sosial (Perlinsos) berpotensi meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial (bansos) sekaligus memicu efisiensi anggaran negara hingga Rp200 triliun.

Qodari menjelaskan, sistem Perlinsos digital mengintegrasikan lintas data dari kementerian dan lembaga guna mempercepat proses pendaftaran hingga pemutakhiran status kelayakan penerima manfaat.

Baca Juga:
Bakom Sebut Prabowo Tak Mau Ikut Campur Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Melalui skema integrasi berbasis data tersebut, durasi pemrosesan verifikasi penerima bansos yang sebelumnya memakan waktu ratusan hari secara manual kini dapat dipangkas secara signifikan dalam hitungan menit.

"Kalau satu-satu, manual 200 hari, setengah tahun lebih ya. Nah, dengan uji coba ini dapat dilakukan dalam waktu sekitar lima menit saja," ujar Qodari dalam Konferensi Pers Update Program Prioritas/PHTC serta Arah Kebijakan RAPBN 2027, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga:
3 Pemimpin Dunia Bertemu Prabowo dalam Sepekan, Bakom: Bukti Indonesia Dipercaya di Kancah Global

Qodari menambahkan, Perlinsos digital memanfaatkan basis data terpadu dari delapan kementerian dan lembaga sebagai indikator kelayakan. 

Variabel data yang divalidasi mencakup status kepemilikan tanah, pemakaian daya listrik, kondisi fisik hunian, usia, kepemilikan aset kendaraan, status kepegawaian, hingga besaran upah yang kemudian disandingkan dengan indikator desil ekonomi.

Baca Juga:
Bakom Ungkap Siswa SMA Unggul Garuda Transformasi yang Masuk Kampus Top Dunia Naik 177 Persen

Langkah digitalisasi ini turut meringankan beban administratif pemerintah daerah. Berdasarkan uji coba di Kota Surabaya, koordinasi pendataan di tingkat RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan menjadi jauh lebih terintegrasi tanpa bergantung penuh pada survei manual di lapangan.

Selain efisiensi birokrasi, pengetatan filter data pada program utama seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalu konsep Digital Public Infrastructure (DPI) diperkirakan mampu menyelamatkan anggaran belanja negara hingga puluhan triliun rupiah.

Penghematan anggaran tersebut diproyeksikan melonjak lebih besar apabila skema digitalisasi diterapkan secara menyeluruh pada portofolio program perlindungan sosial lainnya.

"Potensi efisiensi diperkirakan mencapai Rp127 hingga Rp200 triliun, mengacu pada proyeksi Dewan Ekonomi Nasional pada tahun 2024," kata Qodari.

Qodari menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan efektivitas belanja negara. Integrasi data antarinstansi ini diharapkan memberikan gambaran kondisi sosial masyarakat yang utuh guna mendukung pengambilan kebijakan publik yang lebih akurat.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kementerian ESDM Segera Lelang 14 Blok Panas Bumi, Lebih Cepat dari RUPTL
• 40 menit lalu
0
thumb
Penjualan BAIC Naik 80 Persen, Bidik Jual 2.000 Unit Tahun Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Pertumbuhan Berlari, Kelembagaan Tertinggal, Ketimpangan Menganga; 81 Tahun Indonesia: Dari Ekonomi Terpukul Krisis ke Polemik Kualitas Pertumbuhan
• 8 jam lalu
0
thumb
Polri Tegaskan Pencegahan Febrie ke Luar Negeri Bukan Penghukuman
• 23 jam lalu
0
thumb
Dunia Krisis Aluminium, China Datang Jadi Pahlawan Sekaligus Juragan
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.