BI Sebut Suku Bunga Tinggi AS Bakal Bertahan Lebih Lama

metrotvnews.com
52 menit lalu
Cover Berita

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memandang era suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) yang bertahan lebih lama atau higher for longer masih akan membayangi pasar keuangan global.

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor dan pasar keuangan global, terutama karena suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan tetap tinggi di tengah tekanan inflasi.

"Untuk global, kita akan menghadapi situasi yang mungkin akan cukup lama dengan ketidakpastian, sehingga kita memasuki suatu era yang dinamakan higher for longer," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Destry, kenaikan harga minyak dan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran AS juga mendorong peningkatan penerbitan obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil (yield) US Treasury dan suku bunga tetap tinggi.

"Sehingga itu semua akan menciptakan situasi, hampir semua, apakah itu bond yield, apakah itu interest rate, mereka akan berada dalam posisi yang tinggi," ujar dia.

Tingginya suku bunga dan yield obligasi AS juga diperkirakan menopang penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap mata uang negara maju.

"Tentunya ini (situasi global) akan memberikan dampak kepada perekonomian kita," kata Destry.

BI, lanjut Destry, telah melakukan asesmen terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik setidaknya hingga akhir tahun untuk menentukan respons kebijakan yang diperlukan.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

Baca Juga :

Ekonomi Global Belum Pulih, BI Waspadai Inflasi dan Suku Bunga

Ekonomi global masih lemah
Dalam pemaparannya, Destry mengatakan prospek perekonomian global masih lemah dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas dunia lainnya.

"Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0 persen," kata dia.

Di sisi lain, tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi, yakni sekitar 4,5 persen pada 2026. Kondisi tersebut mendorong kebijakan moneter global tetap ketat, termasuk FFR yang diprakirakan naik pada triwulan IV-2026.

Imbal hasil US Treasury juga diperkirakan tetap tinggi seiring dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS yang masih lebar.

Ketidakpastian pasar keuangan global turut menahan minat investor terhadap aset portofolio di negara-negara emerging market. Kondisi ini juga membuat indeks dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

BI menilai perkembangan tersebut membutuhkan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BMKG: Kaltara Diprediksi Kemarau hingga Oktober 2026
• 21 jam lalu
0
thumb
Kemenpar Catat Perputaran Ekonomi Rp1 Triliun dari 105 Event hingga Juli 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Eks Menag Yaqut: Uang Negara Mana yang Berkurang dari Proses Pembagian Kuota Haji
• 22 jam lalu
0
thumb
Daftar Harga Emas USB dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun Pada Rabu
• 17 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya dan Ditjen Pajak ungkap sindikat materai palsu
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.