Guru Bicara Ancaman di Genggaman Anak Perbatasan, Bukan dari Negeri Jiran

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

BENGKAYANG, KOMPAS.com - Guru senior di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia bicara soal ancaman yang perlu diwaspadai memengaruhi anak-anak di kawasan terdepan, bukan dari negeri seberang.

Sudah 23 tahun berlalu, niat Nursiah masih kuat yakni bekerja sebagai guru di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, di Jagoi Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dia sempat berpindah-pindah tugas sejak ditetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 2003 lalu.

Kini, Ibu Guru Nursiah hanya ingin menghabiskan sisa waktu tugasnya di SDN 01 Jagoi Babang.

Nursiah memilih karir sebagai guru karena panggilan hati. Saat itu, dia melihat betapa dunia pendidikan di pedalaman membutuhkan lebih banyak tenaga pendidik.

Banyak guru dari wilayah lain yang harus menempuh jarak jauh untuk mengemban tugasnya mendidik siswa di sekolah.

“Karena dulu di pelosok-pelosok dulu kan kurang (guru). Jadi kasihan juga kalau guru-guru dari jauh datang gitu, nanti mereka pulang, guru-guru kekurangan gitu, jadi anak-anak kadang seminggu kosong gitu ndak ada guru. Jadi merasa terpanggil lah,” tutur Nursiah kepada Kompas.com, Senin (17/8/2026).

Baca juga: Cerita Eris Bertahan Jadi Perawat di Jagoi Babang, Perbatasan RI-Malaysia

Sejak saat itu, Nursiah memantapkan niatnya untuk bergabung dalam barisan perjuangan dunia pendidikan Indonesia.

Selama itu, Nursiah harus puas dengan gaji pokok dan tunjangan seperti guru pada umumnya.

Dia pernah mendengar tentang wacana tunjangan perbatasan. Namun hingga kini wacana tersebut masih jadi harapannya.

“Memang ada gaungnya seperti itu (tunjangan perbatasan), tapi sampai saat ini ndak dapat. Kata kawan-kawan sih ada SK-nya, tapi kami ndak ada terima dananya,” jelas Nursiah.

Baca juga: Novadila Paskibra Jagoi Babang: Dulu Mimpi Mau Kaya, Kini Ingin Jadi Tentara

Ancaman terhadap anak-anak perbatasan di Jagoi Babang

Bagi Nursiah, tantangan terbesar baginya sebagai guru di perbatasan bukan ancaman keamanan dari negeri jiran Malaysia secara spesifik.

Melainkan, ancaman itu ada dalam genggaman anak-anak itu sendiri, berupa teknologi yang kian berkembang pesat.

Ada banyak pengaruh buruk yang kemudian harus dia tanggulangi dari benda bernama gawai dengan koneksi internet.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Kalau masalah dari luar enggak ada, tapi dari kita sendiri, karena terlalu banyak pengaruh dari HP (handphone/ponsel),” kata dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Perpres Ojol Diperluas, Tarif Antar Makanan dan Barang Bakal Ikut Diatur
• 23 jam lalu
0
thumb
Salah Baca Sila Kedua Pancasila saat Upacara HUT RI, Plt Bupati Pati Minta Maaf
• 9 jam lalu
0
thumb
Polisi Gagalkan Pengiriman 27 Kg Sabu di Labuhanbatu Selatan, Disembunyikan dalam Dinding Mobil
• 7 jam lalu
0
thumb
Kronologi Sopir Alphard Pukul Motor Pengemudi Ojek Pakai Batu di Jaksel
• 22 jam lalu
0
thumb
Pakar ITS Ingatkan Warga NTT Waspadai Gempa Susulan hingga Dua Minggu
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.