HARIAN.FAJAR.CO.ID, TORAJA — Sebanyak 200 bibit ikan masapi atau sidat dilepasliarkan di Sungai Sadan, Toraja, Sulawesi Selatan. Ini sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Pelepasliaran tersebut masih menjadi rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Kegiatan serupa sebelumnya dilakukan di Objek Wisata Kolam Alam Tilanga, Tana Toraja. Pelepasliaran di dua lokasi itu diharapkan membantu menjaga populasi ikan masapi sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
Tokoh lingkungan sekaligus Pendeta Sinode Gereja Toraja, Pdt. Rasely Sinampe, M.Th., menjadi salah satu penggerak kegiatan tersebut.
Rasely merupakan pegiat lingkungan hidup yang pernah menerima Penghargaan Kalpataru 2022 kategori Pembina Lingkungan.
Kepada Harian Fajar, Rasely mengatakan pelepasliaran ikan masapi di Sungai Sadan merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sebelumnya digelar di Kolam Alam Tilanga.
“Jadi ini masih rangkaian dari kegiatan kemarin, yang tujuan utamanya tetap menjaga keseimbangan alam demi keindahan kehidupan manusia,” kata Rasely.
Menurut dia, pelepasliaran ikan masapi tidak sekadar bertujuan menambah populasi ikan di habitat perairan. Momentum tersebut juga menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan dengan membawa pesan tentang pentingnya lingkungan hidup yang layak bagi generasi mendatang.
“Selain menambah populasi ikan masapi di Kolam Alam Tilanga, ini juga menjadi momentum hari kemerdekaan demi lingkungan hidup yang layak di masa depan,” ujarnya.
Rasely mengajak masyarakat Toraja untuk mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, keberlangsungan ekosistem memiliki kaitan erat dengan kehidupan manusia.
“Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Ini juga demi keseimbangan alam yang di dalamnya terdiri dari flora, fauna, termasuk manusia,” tuturnya.
Ia menilai kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia. Karena itu, menjaga alam tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Toraja, tetapi seluruh manusia.
“Penting sebagai manusia, tak hanya masyarakat Toraja, untuk menjaga alam. Kalau alam rusak, otomatis keberlangsungan hidup manusia juga akan terganggu,” katanya.
Rasely juga secara khusus mendorong generasi muda Toraja untuk terus terlibat dalam berbagai kegiatan positif, termasuk gerakan pelestarian lingkungan.
Ia berharap kepedulian terhadap alam dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga upaya menjaga lingkungan tidak berhenti pada satu kegiatan.
“Jangan biarkan generasi itu berlalu. Mari kita bersama-sama tetap menjaga hal baik secara turun-temurun. Karena jika alam rusak, tak mungkin manusia memakan uang,” jelasnya. (edy)






Komentar (0)