Pascagempa Flores, Warga Palue Jalan Kaki 3 Km Terjang Longsor demi Bantuan

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Sikka: Warga Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, harus berjalan kaki hingga tiga kilometer untuk mendapatkan bantuan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu. Akses menuju sejumlah desa masih terputus akibat longsor dan timbunan batu.

Bantuan dari TNI, Polri, BNPB, dan sejumlah lembaga masyarakat masih terpusat di satu titik. Kondisi ini membuat warga dari desa-desa terisolir harus berjalan kaki untuk mengambil bantuan.

Salah seorang warga Kampung Koa, Edel, mengaku menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer dengan waktu tempuh hingga satu setengah jam. Kondisi jalan yang dipenuhi batu besar dan timbunan tanah membuat perjalanan warga semakin sulit.

"Tiga kiloan karena ada longsor, satu setengah jam jalan kaki," ujar Edel dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa 18 Agustus 2026. 

Menurut Edel, longsor terjadi di sejumlah titik dan membuat warga harus melewati medan yang sulit. Bahkan, sebagian warga memilih melepas sandal karena khawatir kesulitan melintasi bebatuan.

"Di sepanjang jalan ada beberapa titik itu karena ada yang bebatuan, batunya yang besar, terus ada timbunan tanah itu tuh memang seperti gunung tidak bisa lewat," katanya.

Warga Kampung Koa membutuhkan sejumlah kebutuhan dasar, mulai dari sembako, terpal, hingga tikar untuk alas tidur. Kerusakan rumah juga membuat warga kehilangan akses penerangan dan air bersih.

"Sembako, ada terpal, tikar untuk alas tidur kalau bisa ada. Terus karena kami di sana juga banyak rumah yang runtuh, jadi untuk sementara kami tidak ada lampu. Air bersih juga tidak ada karena guncangan bak penampung air juga ini rusak," ujar Edel.

Kepala Adat Kampung Koa Laurensius Sundu mengatakan kebutuhan paling mendesak warga saat ini adalah makanan, minuman, dan air bersih. Menurutnya, bak-bak penampungan air di wilayah tersebut rusak akibat gempa.

Baca Juga :

Bupati Sikka Ungkap Kondisi Terkini Pascagempa Flores

"Kami butuh makan-minum dengan air. Karena air di sini bak-bak semua sudah hancur habis," kata Laurensius.

Laurensius berharap akses jalan segera diperbaiki agar bantuan dapat masuk langsung ke kampung-kampung yang masih terisolir.

"Yang kami butuh itu karena akses jalan ini belum diperbaiki sehingga semua bantuan belum dapat masuk di masing-masing kampung ini," ujarnya.

Kondisi serupa terjadi di Kampung Nitung. Hampir seluruh rumah warga mengalami kerusakan parah. Bangunan SDK Nitung juga mengalami kerusakan berat pada bagian atap dan belakang sekolah.

Di tengah kondisi tersebut, warga berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan. Yanto, warga Desa Nitung, mengaku mencari pakaian dan barang lainnya dari rumah yang rusak.

"Pakaian, pokoknya barang-barang yang bisa dipakai ambil pakai," ujar Yanto.

Yanto berharap warga mendapatkan bantuan untuk membangun kembali rumah yang rusak agar dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

"Ya seperti itu. Bisa bantuan rumah kembali supaya kami bisa tinggal lagi seperti itu bisa. Pokoknya berjalan seperti biasanya," katanya.

Hingga kini, bantuan telah tiba di Pulau Palue. Namun, longsor yang menutup akses menuju sejumlah kampung membuat distribusi bantuan belum sepenuhnya menjangkau warga yang membutuhkan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Diam-diam Diincar Jokowi, Disiapkan Dampingi Gibran 2029?
• 3 jam lalu
0
thumb
Dasco-Cucun Pimpin Rapat Bareng Pemerintah di DPR, Bahas Status Guru PPPK-ASN
• 20 jam lalu
0
thumb
Hakim Tolak Pengalihan Penahanan Gus Yaqut, Ini Alasannya
• 5 jam lalu
0
thumb
Kesulitan Turunkan Bendera Merah Putih, Siswa SMA Minta Bantuan Pemadam Kebakaran
• 17 jam lalu
0
thumb
PT BPR Sulawesi Mandiri Hadirkan Kredit Pendidikan untuk Dukung Indonesia Emas 2045
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.