Di Forum Anggota BRICS, Menteri LH Tegaskan Isu Iklim Bukan Agenda Pinggiran

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengatakan pemerintah Indonesia menempatkan masalah lingkungan sebagai isu penting. Jumhur menegaskan persoalan mengenai perubahan lingkungan bukan sebatas agenda pinggiran.

Hal itu disampaikan Jumhur saat menghadiri forum pertemuan menteri lingkungan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026). Pertemuan ini diikuti 10 dari 11 negara anggota BRICS.

Kegiatan acara diawali dengan pernyataan dari Menteri Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India Shri Bhupender Yadav. Pernyataan selanjutnya kemudian dilakukan oleh Jumhur Hidayat.

Baca juga: Komisi IX DPR Minta Kemenkes Turunkan Psikolog untuk Korban Gempa NTT

Dalam paparannya, Jumhur menengarai sekaligus prihatin ada negara maju dengan kekuatan ekonomi besar memilih mundur dari tanggung jawab kolektif mengatasi polusi dan perubahan iklim. Sementara di saat yang sama bobot ekonomi mereka terus menyumbang sebagian besar emisi global.

Jumhur mengatakan Indonesia berada di garis depan penanganan perubahan iklim. Kondisi geografi Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim, kata Jumhur, membuat pemerintah tidak memandang remeh isu tersebut.

"Oleh karena itu, bagi Indonesia, adaptasi iklim bukanlah agenda pinggiran," kata Jumhur.

Menurut Jumhur, cara kita mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan, dan membangun ketahanan pada akhirnya akan membentuk keberlanjutan pembangunan kita.

"Ini adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita. Kita telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030 sebagai peta jalan menuju Indonesia yang tangguh terhadap iklim dan sebagai dukungan terhadap Visi Indonesia Emas 2045," ujar Jumhur.

Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, baik darat maupun laut, sebagai fondasi bagi ekosistem yang sehat, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang.

Baca juga: Kemensos Salurkan Rp 14 M untuk Penanganan Gempa NTT, Bangun 7 Dapur Umum

Jumhur menjelaskan Indonesia merupakan rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dengan lebih dari 300 ribu spesies yang diketahui, termasuk 9,7% tumbuhan berbunga di dunia, 14% mamalia, 18,6% burung, dan ekosistem laut Indonesia, yang terletak di jantung Segitiga Karang.

Letak Indonesia juga menjadi rumah bagi 23% hutan mangrove, 16% spesies ikan laut global, 10% spesies karang dunia, dan beberapa konsentrasi reptil dan mamalia laut tertinggi. Keanekaragaman hayati yang luar biasa ini mendukung jasa ekosistem yang penting untuk mitigasi iklim, adaptasi, dan ketahanan jutaan mata pencaharian.

Dalam kesempatan itu, Jumhur memperkenalkan tiga model tradisional yang sukses dari Indonesia, yakni sistem irigasi Subak di Bali yang mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat, dan praktik spiritual. Juga Sasi Lompa di Maluku, sistem tradisional untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta Awig-awig, sistem hukum adat yang digerakkan oleh masyarakat di Bali.

"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim, khususnya dengan memperkuat pendekatan berbasis masyarakat untuk mengelola air, ekosistem, dan sumber daya alam dalam menghadapi dampak iklim," pungkas Jumhur.




(ygs/ygs)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bangga, Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat Saksikan Anaknya Tampil di Istana
• 16 jam lalu
0
thumb
Gempa NTT: BGN Perintahkan SPPG Sesuaikan Layanan untuk Warga Terdampak
• 9 jam lalu
0
thumb
Rupiah Kembali Melemah di Perdagangan Pagi, Dolar AS Naik ke Rp17.837
• 18 jam lalu
0
thumb
BPKH Perkuat Integritas dan Tata Kelola Pengelolaan Keuangan Haji
• 12 jam lalu
0
thumb
Human Initiative Kirim Bantuan Darurat untuk Warga Nagekeo NTT
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.